Ogan mencengkeram tongkatnya erat untuk menahan serangan Saigon dengan kekuatan penuh. Tubuh mereka saling dorong seperti dua banteng jantan yang tengah memperebutkan wilayah kekuasaan. Denting tulang dan hentakan kaki menggema, menciptakan riuh layaknya guntur di langit perang.
Tiga menit lamanya mereka bertarung dalam adu tenaga, hingga akhirnya Saigon melepaskan pukulan ke dada. Tubuh Ogan terhuyung ke belakang, tapi ia segera berpijak dengan satu kaki, berlari ke depan, dan membalas dengan pukulan telak ke kepala.
Pukulan itu menghentakkan separuh tubuh Saigon ke dalam tanah. Tak memberi jeda, Ogan melancarkan hantaman kedua—lebih kuat, lebih dalam. Kini tubuh Saigon tertanam, hanya kepalanya yang masih mengintip dunia. Ogan bersiap menenggelamkannya lebih dalam, namun Saigon menahan dengan kekuatan terakhir. Pertempuran ini baru dimulai dan belum satu pun genteng tetangga ikut beterbangan.
Di sisi lain.
Mauli mendekati Lematang dengan amarah membara. Sorot matanya tajam, dan bibirnya mengucapkan kalimat yang mengiris:
"Dasar pelakor! Selama ini kau cuma duri dalam hubungan kami."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat, membuat wajah wanita itu terpelanting ke kiri. Namun bukannya meringis, Lematang justru tersenyum menantang—senyum iblis yang tak gentar menghadapi badai.
Lematang membalas dengan tamparan yang jauh lebih kuat, darah menetes dari pipi Mauli. Lematang bukan perempuan biasa: kekuatannya bisa menumbangkan pria dewasa. Mauli terpental lantas terkapar oleh tendangan keras.
Melihat kekasihnya jatuh, Ogan menghampiri. Tapi langkahnya terhalang oleh Lematang. Wanita itu melayangkan pukulan, tapi Ogan sigap menghindar dan menangkap pergelangannya. Mencoba menendang, namun justru kakinya ditarik hingga selangkangan mencium tanah.
"Ughh!"
Suatu posisi yang membuatnya menjerit kesal.
Mauli bangkit perlahan meski tubuhnya kotor dan terluka.
Sebelum Ogan berhasil mendekat alih-alih Lematang membuka Walas—kitab ini semakin bergejolak. Sorotan energi itu menghantam tubuh Ogan hingga membuatnya geblak.
Tidak melukai... cukup membuatnya terhina. Kalah oleh seorang perempuan—itu luka yang lebih dalam dari apa pun.
Tiba-tiba Saigon muncul kembali, matanya merah menyala oleh dendam. Melompat, tubuh kekarnya mendarat di atas Ogan. Tanpa ampun, menginjak-injak tubuh prajurit itu hingga perlahan tertanam di dalam tanah. Seperti peti mati hidup, tubuh Ogan terkubur sampai sedalam 50 cm dengan satu kaki Saigon sebagai palu pemakaman.
"Ogan!" Mauli menjerit, matanya basah, napas tercekat.
Lematang justru mencengkeram kuat. Mauli hanya bisa menjerit dan meronta sambil terus memanggil nama kekasihnya—suara yang tenggelam dalam derap kaki Saigon.
Namun ketika seolah tanpa harapan, sebuah kejadian tak terduga muncul. Tangan Ogan yang terkubur merayap ke atas dan—pencet!—menyentuh titik paling vital.
"AAarrrg!"
"Bijiku!" jerit Saigon, kedua tangannya reflek menutup selangkangan, wajahnya mengerucut seperti ikan buntal disetrum.
Momen itu dimanfaatkan.
Dengan sisa tenaga Ogan menyentuhkan Akuadron ke kening Saigon. Seketika tubuh Saigon terlempar jauh menabrak tiang listrik dengan suara dentuman keras. Merangkak keluar dari kuburannya, menggenggam tongkat pusaka. Matanya merah, berapi, lalu mencari seseorang—orang yang sangat dicintai.
"Mauli!" teriaknya. "Mauli!"
Ia melihat Mauli sedang diseret oleh seseorang yang telah merusak kisah cintanya. Tanpa pikir panjang Ogan melempar Akuadron ke arah wanita itu. Lematang menghindar, tapi pusaka itu berputar dan melilit rambutnya. Dengan kekuatan penuh, Akuadron menarik Lematang dan melemparkannya hingga menabrak Rumah Makan Padang.
Brak!
Dinding restoran runtuh, piring-piring pecah, dan isi dapur berhamburan. Rendang, ayam balado, gulai nangka, daun singkong, dan nasi putih menempel di tubuh Lematang, membuatnya tampak seperti poster masakan bencana.
"Buih! Arrrrgg!" Lematang merasa terhina karena telan menelan tulang ayam.
Bangkit! Dendam! Aura kemurkaan diujung kepala.
Rambutnya kusut laksana sarang burung, wajahnya belepotan bumbu rendang, bahkan pakaiannya basah kuyup oleh kuah nangka. Nafasnya tak beraturan diiringi mata yang menyala. Malu dan marah bersatu menjadi bara yang siap meledak.
"Kurang ajar!" teriaknya.
Di belakangnya—Saigon.
Dua bersaudara itu kembali bersiap melancarkan serangan. Amarah besar akan menjadi bencana bagi Ogan. Mungkin juga kesedihan yang tidak bisa disembuhkan.
Jarak mereka begitu dekat, sehingga memungkin Ogan untuk melempar Akuadron dengan kekuatan penuh. Sialnya! Ketika Akuadron melesat hendak menyerang dari belakang, Saigon justru mengelak, alih-alih menghantam Ogan sendiri.
Dug! Tubuh Ogan terdorong, menyapu jalan dan menyeret beberapa mobil yang terparkir.
"Hahaha..."
Saigon tertawa keras seperti iblis yang baru saja menang lomba kekacauan.
Tapi, keadaan justru semakin rumit. Saigon lakukan hal yang benar-benar membuat jiwa Ogan bergetar.
Saigon mengikat tubuh Mauli dan menyerahkan pada Lematang. Seketika wanita itu melayang—pengendali elemen yang menakjubkan.
Saigon mengambil patung besar kemudian melemparkan ke sisi lawan. Tubuh sang prajurit kembali terhempas dan terjepit di bawah bongkahan batu.
Saigon pergi...
berjalan dengan angkuh, meninggalkan kehancuran dan kekalahan.
Kekuatan Ogan belum padam. Ia melempar Akuadron.
Tapi sudah terlambat.
Musuh telah pergi. Mauli telah dibawa.
Wiuuu... Wiuuu... Wiuuu...! Sirene polisi melolong dari kejauhan, semakin dekat.
Tetangga Ogan yang melapor—ada kerusuhan besar di sekitar Jln. Raya Sungai Runtuh No13, Sungai Runtuh, Tanjung Besak, Lamus.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Komandan Bram—teman seperjuangan,
Ogan menatap kosong, matanya sayu, tubuhnya kotor oleh tanah dan luka.
"Mereka berhasil membawa Mauli," jawabnya lirih. Sebuah kalimat pendek yang mengandung ribuan patah hati.
***
Di sudut reruntuhan rumah makan, Ogan duduk diam, tubuhnya remuk, namun matanya menyala. Bukan oleh amarah semata, melainkan tekad yang mulai tumbuh dari kehancuran.
Ia menatap langit yang kini gelap, hanya ditemani sinar bulan yang pucat. Di tangannya, Akuadron masih bergetar seolah memahami derita tuannya. "Mauli..." gumamnya lirih, suara yang lebih mirip ratapan seorang pejuang yang baru kehilangan separuh jiwanya.
Komandan Bram mendekat, namun memilih diam. Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan tragedi tadi. Hanya tatapan tegas yang diberikan, sebagai tanda: kau tidak sendirian.
Di antara bayangan dan bisikan masa lalu, Ogan perlahan berdiri. Tubuhnya masih terasa berat meski jiwanya mulai membara. Ia tak lagi sekadar seorang prajurit tersisa. Kini seorang penjaga terakhir, harapan yang belum padam dan lelaki yang akan melawan bukan hanya untuk cinta... tapi demi kebenaran yang telah lama ditelan waktu.
"Trah Sriwijaya belum selesai," desisnya. "Dan aku akan menjemputnya. Ingat itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ogan | Kitab Walas
Ficción histórica"Siapa sebenarnya Ogan?" Dua tahun lamanya Ogan hidup di antara manusia-berjuang, bertarung, dan menyembunyikan siapa dirinya sesungguhnya. Tapi kenyataan tak bisa terus bersembunyi. Ogan berasal dari Semesta Pranal, kehidupan galaksi yang hanya mun...
