Chapter 19

7 0 0
                                        


Mauli belum bisa mengusir bayang-bayang wanita itu. Perusak. Menyebalkan. Dan... yang pasti Mauli tak menyukainya.

Mauli bukan sosok asing—dia adalah cermin ketulusan yang selama ini disimpan rapat-rapat dalam dadanya. Sayangnya, Ogan terlalu sibuk menata puing-puing kehancuran di sekelilingnya, terlalu larut dalam misi dan bahaya, hingga lupa bahwa seseorang sedang menunggunya dalam sunyi.

Sejak bertemu Ogan, Mauli seperti menemukan mata air di padang tandus. Hati yang lama membeku mulai mencair. Tapi kehadiran Lematang... Saigon... membuat hatinya kembali ditarik mundur ke jurang curiga. Ia memilih diam, menelan semua gejolak, sebab ia tahu: pertempuran ini bukan lagi tentang cinta... tapi tentang hidup yang dipertaruhkan di ujung tombak.

"Aku tidak tahu sampai kapan aku begini..." Suara lirih itu melayang bersama hembusan angin.

Mauli duduk menghadap mentari. Cahaya keemasan menari-nari di wajah. Kedua tangan mengepal seolah hendak menahan badai dari dalam dada. Di sekelilingnya, kupu-kupu kuning menari lincah dari bunga ke bunga layaknya kehidupan yang terus berjalan tanpa menunggu luka sembuh.

"Menjadi seorang pahlawan memang tidak mudah."

Di sampingnya, Akuadron bergetar samar seolah ikut merasakan kegundahan Mauli. Walas—kitab warisan dari kedalaman sejarah—terbuka di pangkuannya, memancarkan cahaya lembut. Mauli baru saja menyadari darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa—ia adalah keturunan raja-raja Kedatuan Sriwijaya. Sejarah ternyata tak pernah benar-benar tidur.

"Hidupku rumit, Akuadron..."

Akuadron hanya seperti seekor kucing putih yang hanya bisa mengedipkan mata ketika Mauli gundah.

Tiba-tiba...

Sosok pria gempal berlari berat. Napasnya tercekik, tubuhnya dipenuhi cakaran. Robekan bajunya menari tertiup angin saat berteriak minta tolong.

"Tolong! Ada makhluk... dari dunia lain!"

Unu—makhluk supraloka dari dimensi kelam—memburu dengan nafsu buas. giginya berkilat. Matanya membara. Dunia seperti terbelah dalam ketegangan.

Mauli berdiri. Napas ditahan bahkan tidak bisa lagi menunggu. Ini bukan saatnya bergumul dengan rasa—ini saatnya bertarung.

Wus!

Tanpa Mauli sadari Akuadron melesat, menghantam kepala unu dengan gemuruh. Makhluk itu goyah, berjalan sempoyongan seperti pemabuk yang kehilangan arah. Tetapi belum menyerah. Dia melompat lagi, lebih buas, menantang.

Energi meledak dari telapak tangan Mauli. Sebuah semburan cahaya menghantam unu hingga tubuhnya terpental. Tetap saja makhluk itu masih berdiri seakan enggan menerima kekalahan.

Geram.

Mauli mencengkeram Akuadron. Dilemparkan penuh amarah.

Blek!

Unu itu terkapar. Napasnya tak teratur. Lidahnya terjulur. Dunia kembali tenang—untuk sesaat.

"Itulah akibatnya... berani melawan perempuan."
Mauli berdiri tegak. Angin membelai rambut hingga mata menyala dengan keberanian yang baru lahir.

Mendadak, dari balik pohon, muncul Singkarak. Di belakangnya, Dogi dan Jalu ikut waspada.

"Mauli!"

Singkarak berlari menghampiri, napasnya putus-putus. Pandangannya terbelalak pada sosok aneh di tanah.

"Makhluk apa ini? Petaka apalagi ini, Mauli?"

"Unu, bangsa predator dari dunia lain."

Dogi menggeram. Telinganya menegang, matanya tak lepas dari sosok unu yang sekarat.

"Tenang saja, Dogi... dia sudah mati," jawab Singkarak, matanya masih terpaku. Tetapi benarkah?

Angin mendesir. Unu itu diam. Tapi matanya—masih terbuka sedikit.

Dan... berkedip.

Ogan | Kitab WalasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang