12 | Fell In Love With Her

2.6K 45 1
                                        

Adel baru sampai rumah ketika jam menujukkan pukul 7 malam. Setelah membersihkan diri, ia keluar kamar dan menuju meja makan.

"Sayang, kemana Gallan?" Tanya Evi yang baru saja mengambil nasi dan lauk untuk Victor.

"Loh, bocah mesum itu nggak kasih tau Mama?"

"Dia sudah kasih tau Papa ko." Balas Victor yang mulai melahap makan malamnya.

"Dia kemana, Mas?"

"Menginap di rumah sakit, katanya temannya di rawat. Temannya anak rantauan, dia sendirian dan nggak punya siapa-siapa di sini." Jelas Victor santai.

Adel mendumal, "Teman apaan? Palingan di sana mereka ena-ena."

"Enak? Apanya yang enak, Del? Masakan Mama?" Tanya Victor.

Adel terkejut, ia melirik ke arah Evi yang juga sedang menatapnya. "I-Iya.. Masakan Mama enak, Pah."

"Kamu kaya baru cobain masakan Mama aja, sih, Del. Kan kamu selalu bilang kalau masakan Mama pasti enak." Evi ikut bersuara.

"I-Iya, tapi kali ini enak banget." Hampir saja perkataan ngaco Adel terdengar. Bisa di introgasi tujuh hari tujuh malam sama Evi dan Victor.

Victor dan Evi mengangguk setelahnya. Makan malam dilalui dengan hikmat tanpa Gallan, lelaki itu membenarkan ucapannya untuk menginap di rumah sakit menemani Vaness.

Adel masih terniang dengan perkataan Gallan tentang Vaness yang mencoba untuk bunuh diri lagi. Adel berpikir jika kehidupan Vaness begitu berat sehingga hal bodoh pun rela di lakukan oleh Vaness. Meski Adel tidak sepenuhnya tahu tentang kehidupan Vaness, tetapi Gallan seperti tidak keberatan jika membicarakan tentang itu.

Awalnya gadis itu ingin bertanya mengapa Vaness ingin bunuh diri? Namun, ia tahan lantaran paham jika hal itu tidak penting juga untuk ia ketahui.

"Adel, lusa Mama dan Papa akan ke Bali selama seminggu. Maafkan kami ya harus ninggalin kalian lagi." Suara Victor membuyarkan lamunan Adel, gadis itu menatap Evi meminta pembenaran.

Evi mengangguk. "Mama harus ikut Papa sayang, Papa saat ini sangat sibuk."

"Kami sudah sepakat, jika kerjaan Papa yang di Bali sudah kelar, kami akan mengajak kalian liburan setelahnya." Ucap Victor.

Adel menghela napas pelan. Ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian, kemudian berucap. "Terus abis dari Bali, kalian mau kemana lagi? Singapore? London? German? Australi? Spanyol?"

Evi sedikit terkejut dengan balasan putrinya, "Adel... Mama minta maaf, bukan maksud Mama untuk ninggalin kamu atau Gallan. Tapi–"

"Iya-iya Adel paham, kalian emang sibuk. Ternyata begini, ya, jadi anak orang kaya sepuluh turunan. Tinggal di rumah bak istana tapi suasananya kuburan." Potong Adel mulai kesal. Ia sempat mendorong piringnya, mendeskripsikan jika gadis itu sudah tidak nafsu makan.

"Adel... Papah tau kalau kamu belum bisa–"

"Iya, Papah Victor. Adel paham." Potong gadis itu lagi seraya bangkit. "Adel duluan, Adel sudah kenyang. Selamat malam, Mah, Pah." Kemudian berlalu.

Victor menghela napas, ia meneguk minumannya sekali. Lalu menatap ke arah Evi yang tampak sedih dengan tingkah anaknya.

Tangan Victor terulur untuk mengelus punggung tangan Istrinya. "Sayang.. maafkan aku, aku akan berusaha untuk selalu bagi waktu dengan anak-anak. Kamu tau, kan, kerjaanku gimana?"

Evi melirik sekilas, ia juga membalas mengelus punggung tangan suaminya. "Aku paham. Maafkan Adel, ya. Dia memang agak susah."

Victor mengangguk seraya tersenyum. Lalu mereka melanjutkan makan malam itu tanpa kedua anaknya.

STEP [LOVE] BROTHER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang