Mobil Gallan sudah terparkir di sebuah tempat yang tidak asing bagi keduanya. Tetapi membuat Adel bingung kenapa Gallan membawanya ke tempat seperti itu.
Adel menoleh pada Gallan yang sekarang tengah berdiam seraya memandang ke arah depannya dengan tatapan kosong. Sesekali tangannya meremat stir mobil yang membuat Adel semakin bingung dengan tingkah Gallan.
Dari kejauhan motor Zein ikut terpakir di dekat pohon besar. Ia masih memantau gerak-gerik Adel dan Gallan. Sekitaran dua menit Zein belum melihat Gallan atau Adel turun dari mobil, membuat hatinya gelisah memikirkan hal-hal aneh yang akan terjadi.
"Nggak mungkin kan, mereka ngelakuin hal aneh di tempat kaya gini?"
Ketika asik memantau, ponsel Gallan bergetar, ia merogoh saku celana sekolahnya dan mendengus ketika tahu siapa yang mengirim pesan tersebut.
Lya🐼
Jemput aku, aku udah nungguin kamu.
Zein meremat ponselnya, ia juga melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari gadis itu. Baru saja ingin menonaktifkan ponselnya, panggilan itu kembali muncul yang membuat Zein geram. Ia mengangkat panggilan itu dengan gusar.
"Iya gue jemput lo, tunggu aja jangan bawel!"
Panggilan terputus. Mau tidak mau Zein memutar balik motornya untuk menjemput gadis itu, ia kesal lantaran sampai detik ini Gallan dan Adel tidak kunjung keluar dari mobil.
•••••••••
.
.
.
"Gall.. lo ngapain bawa gue ke sini?" Tanya Adel akhirnya.
Gallan melirik Adel sekilas, lalu kembali menatap depannya dengan pandangan yang sulit dibaca.
"Terakhir gue kesini sekitar enam tahun lalu, waktu Papa mau minta izin buat nikah lagi." Ujar Gallan. Adel masih terdiam, ia merasa Gallan masih ingin berbicara.
"Setelah itu... Gue belum pernah ke sini lagi, bahkan ketika Papa nikah sama nyokap lo, beliau nggak kesini untuk izin." Sambungnya.
"Terus lo kesini mau izin buat nikah?"
Gallan menoleh ke arah Adel dengan tatapan malas, "Lo bego banget, emang kalau ke sini cuma buat minta izin doangan?"
Adel menggidikkan bahu tak peduli, "kirain."
"Turun." Perintah Gallan. Belum sempat Adel membalas, cowok berbadan tegap itu sudah keluar dari mobil. Mau tidak mau Adel mengikuti arah langkah Gallan.
Adel tahu kemana ia akan pergi. Ya, pemakaman. Dengan keheningan yang masih menyelimuti mereka, Adel menyadari jika langkah Gallan terhenti tepat di depan sebuah makam yang terlihat baru saja di marmer.
Gallan berjongkok di samping makam tersebut diikuti Adel di sampingnya.
Naura Lany Zaidee
Itulah nama yang Adel baca dalam hatinya. Ia sempat menoleh ke arah Gallan yang sekarang tengah menatap sendu ke arah makam tersebut. Tanpa Adel duga, Gallan menaruh setangkai bunga mawar di atas tanah tersebut. Adel sempat heran kapan Gallan membeli dan membawa bunga itu, gadis itu hampir tak sadar jika Gallan sedari tadi membawa setangkai bunga.
"Ini makam nyokap gue." Ucap Gallan seakan menjawab kebingungan di benak Adel.
Gadis itu mengangguk kecil, raut wajah yang semula kesal berganti menjadi sendu ketika tangan kekar Gallan mengelus pusara makam sang mama.
"Mah, Gallan kangen. Waktu kita kala itu cuma dua tahun aja. Itu pun kurang," Gallan mulai bercerita.
"Tapi Gallan merasa deket banget sama Mama. Mama tau nggak? Sekarang Gallan punya Mama baru, sekaligus adik juga." Lanjut Gallan seraya menoleh sekilas ke arah Adel.
KAMU SEDANG MEMBACA
STEP [LOVE] BROTHER
Любовные романыWARNING 🔞 [TAMAT] ****** #1 - anakkuliah Setelah pernikahan kedua orang tua mereka, Adelia dan Gallan menghadapi hidup sebagai saudara tiri yang selalu bertengkar setiap waktu. Pertemuan pertama Adelia dan Gallan tidak begitu baik. Bahkan mereka...
![STEP [LOVE] BROTHER](https://img.wattpad.com/cover/326084398-64-k368605.jpg)