JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA AGAR MENDAPATKAN NOTIFIKASI. CERITA INI ASLI DARI PIKIRAN SAYA SENDIRI DAN DIMOHON UNTUK TIDAK MEMBANDINGKAN LAPAK SAYA & ORANG LAIN, TERIMA KASIH.
"Nanti janji ya, nikah sama kakak," ucap seorang laki-laki yang be...
"Allah akan menguji masa mudamu dengan mengirimkan seseorang yang membuatmu jatuh hati padanya, seolah-olah ia membawamu kepada hakikat cinta. Tetapi ternyata hanya membawamu untuk bermaksiat kepadaNya."
(Habib Umar bin Hafidz)
🌹🔪🌹🔪🌹🔪
Air Mata Penyesalan by SeltaApriani
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AMP
"Sah."
"JANGAN, SAYA TIDAK RIDHO JIKA ISTRI SAYA MENIKAH DENGAN ORANG LAIN," teriak Alaska sambil menangis.
"Itu orang kenapa ya?"
"Pasti udah gak waras Bu."
Suara bisik-bisik dari tamu undangan yang dapat didengar oleh Alaska. Pria itu melihat mereka dengan mata yang memerah. Dengan mengepalkan jari-jarinya ia kembali berteriak.
"DIAM KALIAN PARA TUA."
Setelah mengatakan itu pria tadi bangkit dari duduknya dan berniat ingin mendekati Alifa. Namun seorang laki-laki sudah membawa perempuan yang ia cintai itu pergi.
"JANGAN PERGI ALIFA, MAS SAKIT SAYANG. AYO KEMBALI."
"ALIFAAA."
"Cepat bangun." Ibu Sulastri menggoyangkan tubuh yang sudah penuh dengan keringat ini.
Perlahan mata Alaska terbuka sedikit. Rasa sakit, penyesalan, kesedihan, kekecewaan semua rasa itu sudah tercetak jelas hanya dari tatapan mata yang ia berikan kepada sang ibu.
Ibu Sulastri hanya mampu tersenyum tipis seakan semuanya sudah selesai begitu saja. Ia, rumah tangga Alaska dan Alifa memang sudah benar-benar selesai secara hukum dan agama, tapi bagi Alaska rumah tangganya masih akan terus berlanjut hingga ke surga.
Tangan sang ibu terulur untuk menghapus air mata sang putra. Dengan cepat Alaska menahan tangan itu agar tidak dapat menyentuh wajahnya. Sudah cukup rasa sakit yang ia rasakan selama ini.
Suara kekehan kecil keluar dari mulut Pria berwajah tampan ini. Perlahan suara kekehan tadi berubah menjadi sebuah tangisan yang amat pilu.
"Alaska," panggil sang ibu dengan pelan.
"Kenapa dia pergi, Ma? Apa ia tidak mencintai putra Mama lagi?" tanya Alaska sedih.
"Dia pergi karena Mama."
Kepala Alaska terangkat sedikit untuk melihat wajah sang ibu yang sudah terlalu ikut campur dalam rumah tangganya sehingga kandas seperti ini. Ingin sekali rasanya ia menghilangkan sang ibu.