•
•
•
•
•
"Waru harus menyelamatkan Nada. Nada dalam bahaya..."
Tak hanya Keira dan Gigi, ketiga lelaki yang kini tengah mengekori mereka pun seketika terdiam dengan benak yang mulai ribut akan pertanyaan dari pernyataan Waru barusan.
"What do you mean?! Bukannya selama ini lo selalu mukulin Nada?" Tukas Gigi dengan sedikit penekanan di tiap kata yang ia lontarkan.
Waru pun mulai terdiam. Kepalanya seperti memutar sebuah kaset lama yang membuatnya benar-benar mematung sembari menonton gambaran kaset lama itu dikepalanya.
Suara rintihan milik Nada menggema jelas di telinganya. Lirihan gadis itupun tak luput dari pendengarannya.
Waru terlihat mulai ketakutan. Keringat dingin mulai mengucuri pelipis hingga tubuhnya. Ia mulai bergetar hebat diiringi dengan isakan yang mulai terdengar lirih. Waru mulai terduduk sembari menutup kedua telinganya. Kepalanya menggeleng keras, seolah-olah dengan melakukan itu dapat mengusir semua suara ribut yang kini tengah memenuhi kepalanya.
"Waru gagal lagi... Waru gagal lagi, Nada..." lirihnya berulang kali.
Sontak, kelima kawan Nadi yang menyaksikan hal itu semakin bingung. Mereka benar-benar dibuat harus berpikir ribuan kali atas perilaku Waru yang sangat aneh.
"There's something wrong here. Ini bukan tentang Waru yang jadi pelaku dari pembunuh Nada, tapi tentang kebenaran dari kejadian yang udah menimpa Nada" Ucap Keira mengalihkan fokus mereka.
"Aneh, ini beneran aneh" ungkap Helega.
Tak lama, Keira segera menghampiri tubuh Waru yang masih bergetar hebat dan bergumam tak jelas.
"Waru, hei... gak papa. Ayo ikut ke kamar, lo butuh istirahat"
"Kei!" Sergah Gigi setelah mendengar penuturan Keira.
"Kita butuh penjelasan dari Waru Gi! Jangan egois, Waru mungkin tau sesuatu yang kita gak tau!"
"Lo yang egois Kei!"
Gigi pun meninggalkan tempat itu lebih dulu dengan langkah kesalnya. Mike segera mengekori sang pacar dan mencoba memberi pemahaman untuknya.
Pasalnya, Mike juga merasa memang ada yang harus di gali dari sosok Waru. Mereka sepertinya membutuhkan gadis itu untuk mendapatkan fakta kebenaran dari kematian Nada.
Waru masih terduduk dan berkutat dengan rasa takut yang kini memenuhi dirinya. Kepalanya masih dihantam ribuan ingatan yang hanya ia yang tahu. Keira menatap Joan dan Helega yang berdiri menatapnya, matanya mengharapkan sebuah belas kasih untuk Waru.
"Ck" decih Helega.
Dalam satu gerakan, Pemuda itu kini mengangkat tubuh Waru dan menggendongnya dengan gaya bridal. Keira tersenyum, dan Joan melotot tak percaya dengan aksi Helega itu.
"Kalo bukan karna penasaran sama sesuatu yang mungkin ni cewe tau, gue gak akan sudi repot-repot gendong dia kayak gini. Diem lo Jo, ketawa lo jelek kaya buaya albino"
Ega kesal karna Joan tertawa melihatnya bertingkah manis bak pahlawan ini. Keira pun menegur Joan untuk tidak menjadikan itu bahan olokan.
Selama perjalanan menuju unit kamar mereka, Waru masih tak berhenti menutup kedua telinganya dan terisak. Helega juga samar-samar mendengar ucapan gadis itu yang terdengar sangat lirih di telinganya. Karna hal itu, Ega harus menahan rasa penasarannya hingga besok. Mungkin gadis itu akan menerima cercaan pertanyaan darinya dan dari yang lain.
Jadi, bersiaplah untuk itu Waru.
~~~
Sinar mentari mulai menelisik masuk pada tiap celah ruang kamar berukuran 6x4 meter itu. Seorang gadis yang masih tertidur lelap mulai terusik kala sinar menerpa tepat diwajahnya. Dahinya mengkerut dengan tubuh yang mulai bergerak karna merasa terganggu dengan sinar terangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Un)happy | END
Fanfiction"How can you love the things i hate about myself?" -Waru Aleia Adipati- A fanfiction story of Jaemin Na (NCT Dream) and Winter Kim (aespa).
