•
•
•
•
•
Hari ini, Nadi terpaksa harus meninggalkan Waru karna ia harus ikut turun tangan mengurus kasus yang telah menimpa gadisnya itu dan tentunya juga Nada.
Waru menangis hebat karna tak mau di tinggalkan oleh kak Abinya. Memang sejak siuman, Nadi tak pernah sekalipun pergi dari hadapan Waru dan selalu berusaha untuk terus berada disamping sang gadis, memberinya sebuah ketenangan dan rasa aman.
Nadi paham betul akan ketakutan Waru yang mungkin masih menghantuinya pasca di culik kemarin. Tetapi hari ini ia harus tega, ia pergi demi mendapat sebuah keadilan untuk Waru dan adiknya.
Waru masih terisak diatas ranjang pesakitannya, bahkan bu Arum dan Tasya turut membantu menenangkan Waru yang enggan melepas tautan erat tangannya pada Nadi.
"Nanti kak Abi pasti balik sayang... kak Abi janji..."
Waru menggeleng dengan isakan yang masih terdengar.
"Gak mau..." lirihnya yang terdengar seperti bisikan.
Nadi tak tega menyaksikan manik indah milik Waru yang kini di selimuti oleh air mata dengan sorot permohonan yang begitu jelas.
Bu Arum bahkan sampai harus membenarkan masker oksigen Waru dan menghapus jejak air mata gadis itu dengan gerakan lembut.
"Ada yang harus di urus dulu nak, sama kak Abi. Waru biar ibu yang temenin, ya?"
Waru sepertinya kukuh tak mau ditinggal oleh Nadi. Ia bahkan mencoba berontak dengan hendak bangkit dari tidurnya. Padahal dokter sudah memperingati gadis itu untuk tidak melakukan pergerakan sembarangan karna tulang belakang dan bahu kirinya masih dalam kondisi pemulihan pasca operasi.
"Hei, Waru, jangan sayang..."
Nadi segera merengkuh tubuh Waru yang sudah setengah duduk dan kembali membawanya pada posisi berbaring. Waru langsung memeluk erat tubuh Nadi dalam posisi itu sembari menangis keras bak bocah 5 tahun yang enggan di tinggal ayahnya bekerja.
"Kak Abi gak jadi pergi... sudah ya, nangisnya?"
Nadi memberi kecupan di kepala Waru beberapa kali sembari terus menenangkan gadis kesayangannya ini. Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, dan Nadi sengaja agar Waru bisa tenang.
Perlahan, satu tangan Waru yang melingkar di leher Nadi mulai mengendur. Nafas gadis itu mulai teratur. Ia tertidur. Waru pasti kelelahan karna terlalu banyak menangis.
Setelah memastikan kembali bahwa Waru telah tertidur pulas, Nadi akhirnya membenarkan posisi tidur Waru menjadi lebih nyaman dan melabuhkan kecup di pipi yang terdapat sisa air mata yang mulai mengering milik Waru.
"Maaf, ya... tapi kak Abi harus pergi"
Setelahnya, Nadi berpamitan dengan Tasya dan juga bu Arum yang berjaga disana. Ia sempat berpesan untuk terus mengabari kondisi Waru selama ia pergi, dan jika perlu, Nadi meminta pada bu Arum agar menelponnya saja kalau Waru kembali tantrum seperti tadi.
Bu Arum mengangguk dan akhirnya Nadi pergi dengan perasaan yang begitu berat.
~~~
Usai tiba di kantor kepolisian, Nadi segera melangkah masuk guna menemui sang ayah yang sudah menunggunya disana. Beberapa orang sesekali menyapanya karna mengenal Nadi, dan Nadi kembali menyapa mereka dengan ramah.
Ternyata, ketika masuk ke dalam ruang milik seorang perwira tertinggi di kantor tersebut, Nadi sedikit dikejutkan dengan kehadiran Mike, Joan, dan Kemal yang sudah berada disana. Lalu ada satu detektif yang sejak awal membantu Satria memecahkan kasus Nada.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Un)happy | END
Fanfiction"How can you love the things i hate about myself?" -Waru Aleia Adipati- A fanfiction story of Jaemin Na (NCT Dream) and Winter Kim (aespa).
