25 : Terjadi Begitu Saja

1.3K 165 18
                                        





Malam ini Helega memutuskan untuk tidak tidur di apartemen. Ia pergi darisana tepat setelah semuanya tertidur. Keadaan sungguh tak mengenakkan untuknya yang saat ini tengah berselisih pada kelima sahabatnya.

Helega butuh ketenangan sejenak. Semilir angin malam mungkin mampu membuat pikirannya menjadi sedikit lebih tenang dan rileks dari sebelumnya.

Ia duduk disalah satu kursi taman area apartemennya dengan satu kantung plastik berisi minuman soda dan beberapa snack ringan. Kepalanya menengadah keatas beberapa saat.

Semua pikiran yang membuat kepalanya berkecamuk mulai memberontak dan berkumpul jadi satu.

Helega menghembuskan nafasnya dengan panjang.

Beberapa kali ia membuka ponselnya dan memandang satu kontak yang sejak tadi terpampang jelas di layar ponselnya.

Renjana.

Ingin sekali ia menghubungi gadis itu hanya untuk sekedar menemaninya melepaskan semua masalah yang kini membuatnya merasa begitu jenuh. Helega butuh seseorang untuk ada disampingnya, dan entah mengapa satu-satunya orang yang terlintas dalam benaknya hanya Renjana.

Sosok gadis yang tak sengaja bertemu dengannya karna sebuah kejadian yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Satu kaleng soda Helega raih dan ia buka. Beberapa tegukan masuk kedalam mulutnya dan menjadikan tenggorokannya lebih segar. Pikirannya sangat kacau sekarang, Helega benar-benar terkurung dalam banyak kerumitan yang belum selesai.

"Helega?"

Kepalanya mendongak, menatap gadis yang tadi sempat memenuhi pikirannya.

"Loh, Jana? Kok disini?"

Gadis itu tersenyum manis lalu ikut duduk disampingnya.

"Aku baru aja kerja di minimarket deket sini, kebetulan shiftnya selesai jam segini"

"Kerja mulu, gak capek? Lo kan paginya kuliah"

Renjana mengulum senyum dan ikut mendongak menatap langit yang kian terlihat hitam pekat.

"Ya nggak dong. Selama ini aku ngelakuin semua pekerjaanku dengan seneng, jadi ya gak bakal capek. Toh, aku kan juga kuliahnya cuma 4 kali dalam satu minggu"

Helega mengangguk paham dan kembali menghela nafas yang terdengar berat di rungu Renjana.

"Kamu kenapa diluar malam-malam begini? Bukannya malah tidur"

Sempat hening sesaat, Helega perlahan melabuhkan netranya pada Renjana dengan sorot sendu.

"Jana, gue boleh ngeluh capek gak sih?"

Sontak, Renjana menatap Helega dengan netra yang menghantarkan sebuah kekhawatiran.

"Helega"

"Nggak, gue cuma ngerasa gak pantes aja buat ngeluhin semua beban yang nimpa gue. Ibaratnya, ini semua tuh memang hukuman buat gue. Gue kayaknya emang harus terus mendekam sama penderitaan deh, biar itu setimpal sama semua perbuatan gue"

"Helega, jangan ngomong gitu"

Helega terkekeh kecil dengan mata yang sedikit berkabut.

"Faktanya emang gitu"

Renjana menggeleng keras dengan wajah tegas.

"Kalau kamu mikirnya begitu, sama aja kayak kamu berprasangka buruk sama Tuhan. Aku aja yang manusia denger kamu ngomong gitu marah, apalagi Tuhan. Prasangkamu jelek banget, aku gak suka"

(Un)happy | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang