Sebuah peristiwa besar yang mengubah kehidupan seorang Althan, entah kesalahan apa yang ia buat sehingga ia harus merasakan semua ini.
Seseorang yang tidak bertanggung jawab merubah wajahnya menjadi wajah orang lain yang tak lain adalah wajah Alden...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Dengan perlahan mata yang beberapa saat yang lalu terpejam kini bergerak terbuka. Menatap atap langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia menolehkan pandangannya kepada beberapa orang yang menatapnya khawatir
"Akhirnya kamu sadar Al, mama khawatir sama kamu" ujar Yasmin mengusap rambut anaknya
Alden memegang kepalanya lalu ia bangun dari tidurnya dan terduduk menatap bergantian orang yang dihadapannya
Disana terdapat Yasmin, bik Wati dan Ashton. Walaupun Ashton wajahnya tetap datar, namun matanya terpancar rasa khawatir dengan keadaan Alden, adiknya
Alden melihat sekeliling kamarnya dan matanya tertuju pada cermin besar yang berada di dalam kamarnya. Lantas ia menyibakkan selimutnya dan menuruni ranjangnya menuju cermin tersebut
Yasmin menatap bingung Alden, ia menolehkan kepalanya pada Ashton yang juga tengah menatap Alden. Dengan tatapan penuh tanya ia layangkan pada Ashton dan dibalas gidikan bahu oleh Ashton
Alden menatap wajahnya di cermin dengan seksama. Setetes air mata jatuh mengalir membasahi pipinya. Dengan gemetar ia mengangkat kedua tangannya untuk memegang wajahnya
'siapa yang tega melakukan semua ini, merubah wajah aku menjadi wajah kak Alden' batinnya
Yasmin menghampiri Alden saat melihat anaknya meneteskan air mata "hei kamu kenapa Al? Ada apa, coba bicara sama mama" ujarnya seraya menangkup pipi Alden
Alden melepaskan tangan Yasmin yang berada di pipinya, ia menggelengkan kepalanya menatap satu persatu wajah orang orang yang menatapnya dengan tatapan bingung
'aku Althan bukan Alden...' batinnya
Alden mengusap pipinya yang berair, dengan wajah yang memerah ia segera pergi melangkahkan kakinya dengan berlari keluar kamarnya
"Al kamu mau kemana!? Ash cepat kejar adik kamu!!" seru Yasmin pada anak sulungnya
Dengan segera Ashton mengikuti langkah Alden yang kini berlari menuruni tangga
Alden dengan cepat membuka pintu rumah dan berlari lagi keluar rumah. Tingkahnya mengundang tatapan bingung dari beberapa pekerja dan juga satpam rumahnya
'kenapa semuanya jadi begini, kenapa wajah aku berubah menjadi wajah orang lain'
'bunda...aku disini bun. Aku masih hidup..'
Alden berlari, ia akan menemui Riani dan juga Elvan adiknya. Ia ingin menjelaskan bahwa sebenarnya ia masih hidup dan belum meninggal
"Hmmpppp..."
Alden terkesiap ketika seseorang menyekap mulutnya dan menyeretnya menuju pohon besar dipinggir jalan. Dengan memberontak ia memukul tangan yang menyekap mulutnya
"Diam jangan bergerak!!!"
Alden menolehkan kepalanya kepada orang yang menyeretnya, ia melebarkan matanya "pak Danu.."
"Selamat ingatanmu sudah kembali kan den Alden. Oh atau dipanggil Althan?" ujar pak Danu dengan seringai lebar dibibirnya
Alden terkesiap, ia semakin melebar matanya dan melepaskan diri dari dekapan pak Danu "k-kenapa bapak t-tau?"
Pak Danu melipatkan tangannya didepan dadanya "kamu harus menjalani hidup baru kamu menjadi Alden dan melupakan bahwa kamu adalah Althan"
Alden menggelengkan kepalanya "gak!! Aku gak mau!! Aku Althan bukan Alden!!"
Pak Danu mengangguk anggukkan kepalanya, ia mengambil hp di sakunya dan menyerahkan pada Alden untuk memperlihatkan sesuatu
"Lepas...siapa kalian hmppp"
"Bunda!! Lepas lepasin bunda!!"
"Kamu harus menuruti apa yang saya mau. Kamu jalani hidup baru kamu atau tidak kedua orang ini kami lenyapkan"
Alden terkesiap dengan wajah yang memerah ia kembali meneteskan air matanya melihat rekaman video yang memperlihatkan orang dikenalnya yang tak lain bundanya dan adiknya yang disekap oleh beberapa orang
"Kamu tidak mau kan ibu dan adikmu itu celaka. Jadi lebih baik kamu menuruti apa yang saya ucapkan" ujar pak Danu seraya mengambil hp yang berada digenggaman Alden
"Gak!! Aku gak mau. Siapa kalian!? Kenapa kalian melakukan semua ini!?"
Pak Danu mencengkram erat pipi Alden "kamu jangan banyak tanya, kamu hanya perlu mengikuti apa yang saya mau. Sekarang kamu Alden bukan Althan" ucapnya penuh ancaman
"Al!! Lo dimana!!"
Mendengar suara teriakan tersebut pak Danu melepaskan tangannya dari Alden "ingat apa yang saya ucapkan atau tidak kedua orang yang kamu sayangi itu tiada!" dengan segera ia melangkahkan kakinya meninggalkan Alden
Alden menjatuhkan tubuhnya dan menyandarkannya pada batang pohon. Matanya menatap kosong kedepan mencerna apa yang terjadi dengan kehidupannya. Ia menelungkupkan kepalanya pada lututnya. Isakan kecil terdengar dibibirnya
"Al!! Ada apa, lo kenapa!?"
Alden menengadahkan kepalanya menatap Ashton yang menatapnya khawatir
Ashton menghembuskan nafasnya lega ketika menemukan adiknya. Ia sempat kehilangan jejak Alden yang begitu cepat larinya. Namun benaknya dipenuhi beberapa pertanyaan saat melihat keadaan adiknya
Ashton mengulurkan tangannya membantu Alden untuk berdiri, lalu ia membawa tubuh Alden ke pelukannya saat melihat Alden yang semakin menangis
Alden menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ashton. Dengan wajah yang masih memerah dan tangisannya belum berhenti
Ashton membiarkan adiknya menangis di dadanya, ia mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap rambut Alden "lo kenapa sebenarnya?"