Sebuah peristiwa besar yang mengubah kehidupan seorang Althan, entah kesalahan apa yang ia buat sehingga ia harus merasakan semua ini.
Seseorang yang tidak bertanggung jawab merubah wajahnya menjadi wajah orang lain yang tak lain adalah wajah Alden...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
tok tok tok
"Masuk aja!!"
Ashton lantas membuka pintu kamar Alden ketika mendengar suara tersebut, terlihat Alden yang berada dimeja belajarnya tengah memegang bunga tulip yang kini sudah berada di vas kaca
Alden lantas berdiri menghampiri Ashton "Ada apa kak?" tanyanya dengan menatap heran Ashton, untuk apa Ashton ke kamarnya di malam hari
Ashton menatap bunga yang berada diatas meja itu lalu kembali menatap wajah Alden. Sebenarnya ia penasaran dan cukup heran saat pulang tadi adiknya membawa bunga ditangannya
"Bukannya lo alergi bunga?"
Alden menatap Ashton bingung serta gugup "a-apa?"
"Bukannya lo dari dulu selalu bersin saat mencium bau bunga?" lanjutnya
Alden menggelengkan kepalanya dengan gugup "s-sekarang ngga kok" ia menggigit bibir bawahnya dengan gelisah
"M-mungkin karena kecelakaan s-saat itu hmmm...a-aku, alergi aku hilang m-mungkin" lanjutnya
Alden semakin gugup, ia meremas kedua tangannya saat Ashton terus menerus menatapnya tanpa berkedip
Sedangkan Ashton benaknya memikirkan perubahan adiknya. Perubahan adiknya itu sangat berbeda kepribadiannya dengan yang dulu sebelum pasca dikabarkan hilang karena kecelakaan. Apakah kecelakaan itu sangat parah sehingga membuat adiknya berubah total?
"Lo tadi kemana dulu pulang sekolah?" tanya Ashton mengalihkan pembicaraan
"Hmm....beli bunga itu" tunjuk Alden pada bunganya
Ashton menatap lekat wajah Alden "sama siapa?"
"Ya sama pak Arman"
Ashton menganggukkan kepalanya lalu ia memasukkan tangannya ke saku celananya dan membalikkan badannya pergi keluar kamar meninggalkan Alden
Alden menutup pintu kamar dengan cepat. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya. Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya. Matanya terpejam, namun benaknya dipenuhi banyak pikiran. Jadi Alden punya alergi terhadap bunga? Bagaimana mungkin ia menjalani hidupnya barunya yang bertolak belakang dengan kehidupannya dulu?
***
"Bunda!!"
"Lepas!!"
Theo menyentak tangan Erick yang hendak menampar Ariana lalu menarik tangan bundanya itu untuk berada dibelakang badannya
Theo menatap wajah Ariana dengan khawatir "Bunda gapapa?" tanyanya
Theo mengelus pipi Ariana yang merah bekas tamparan, sepertinya ia sedikit terlambat untuk datang kemari
"G-gapapa. Kamu masuk aja ke kamar" Ariana mengelus lengan Theo untuk menenangkannya
Theo menggeleng keras "gak!! Aku gak mau liat bunda begini" ucapnya
Theo mengalihkan pandangannya menatap tajam Erick, wajahnya mulai mengeras "mending anda tidak usah kembali jika hanya buat masalah"
Erick yang masih menatap tajam Ariana lantas mengalihkan pandangannya pada anaknya "kamu jangan ikut campur!"
Theo mengepalkan tangannya, urat urat tangannya terlihat menonjol. Ia tak gentar membalas tatapan tajam Erick padanya
"Udah Theo, bunda baik baik aja gapapa kok" Ariana mengelus lengan Theo untuk menenangkan emosi anaknya
"Sebenarnya apa masalah anda!?" ucap Theo penuh penekanan
Erick mengalihkan pandangannya, enggan menatap wajah anaknya "kamu belum saatnya tau" ucapnya lalu pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Theo dan juga Ariana
"Kamu tenang aja. Bunda baik baik aja" ucap Ariana seraya mengelus rambut Theo
Theo menuntun Ariana untuk duduk di sofa ruang tengah "Biar aku kompres pipi bunda, tunggu sebentar" ia lantas pergi menuju dapur untuk mengambil kompresan
Tak lama Theo kembali menghampiri Ariana dengan baskom kecil yang berisi air hangat dengan handuk kecil
"Tahan bentar bun"
Ariana mengambil handuk kecil yang dipegang anaknya "biar bunda sendiri aja. Kamu sana masuk kamar aja"
Theo menghela nafasnya lantas ia berdiri dari duduknya "yaudah aku ke kamar" mungkin bundanya butuh waktu untuk sendiri, begitupun ia juga ingin menenangkan emosinya
***
Cklek
Erick kembali menutup pintu ruang kerjanya, ia melangkahkan kakinya menuju meja yang terdapat laptop dan beberapa berkas diatasnya
Memang ruangan ini hanya dirinyalah yang bisa mengakses, bahkan istri dan anaknya pun tidak pernah memasuki atau tidak bisa memasuki ruangan ini
Erick mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, tangannya mengambil salah satu foto yang terpajang diatas meja kerjanya. Ia mengelus wajah seseorang yang tengah tersenyum difoto tersebut
"Dimana kamu sebenarnya.."
Erick mendekap foto tersebut di dadanya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Wajahnya menengadah ke atas. Ia menutup matanya, namun tak lama setetes air mata keluar dari mata yang terpejam itu
***
Theo menghembuskan asap rokoknya. Kedua tangannya terlipat didepan dadanya dengan rokok yang terselip di jari tangan kanannya. Matanya menatap langit malam, namun tidak dengan benaknya yang memikirkan permasalahan kedua orangtuanya. Ia sungguh ingin tau apa yang membuat ayahnya itu berubah
Sebenarnya ia pernah menyelidiki ayahnya, namun tetap tidak membuahkan hasil. Ayahnya tidak memiliki wanita lain. Justru ayahnya sangat gila bekerja. Ia sesekali melihat ayahnya yang selalu melamun dengan tatapan mata yang kosong
Tangan kiri Theo mengambil hp di saku celananya. Tanpa sadar ia menekan tombol panggilan pada salah satu kontaknya
Tak lama ia melihat panggilannya terhubung, ia tak menyangka orang yang ditelepon langsung mengangkat panggilannya. Padahal ini cukup malam, ia tadinya takut mengganggu tidurnya
"Ya halo, ada apa?"
Mendengar suara tersebut ntah mengapa membuat hatinya sedikit lebih tenang, ia hanya membiarkannya tanpa menjawabnya
"Halo...apa ada orang..."
Theo menyunggingkan senyum tipisnya saat suara seseorang tersebut mulai terdengar kesal
"Please, call my name"
"Theo?"
"No"
"Lah kan itu nama kamu, io...?"
"Yes"
Theo menyanggakan tubuhnya pada pembatas balkon kamarnya dengan mendekatkan hpnya pada telinganya
"Ada apa malam gini telfon?" tanya Alden ditelfon
"Gw gabut"
Terdengar suara menguap "gak jelas...aku ngantuk nih mau tidur"
"Oke. Good night, sweet dreams"
Theo dengan segera memutuskan panggilannya, ia mengumpat seraya membuang puntung rokoknya. Kenapa ia mengucapkan itu kepada temannya itu, bahkan ini adalah pertama kalinya