Sebuah peristiwa besar yang mengubah kehidupan seorang Althan, entah kesalahan apa yang ia buat sehingga ia harus merasakan semua ini.
Seseorang yang tidak bertanggung jawab merubah wajahnya menjadi wajah orang lain yang tak lain adalah wajah Alden...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"Pak Arman, kita ke jalan xxxx dulu ya, aku mau ke toko bunga"
"Baik den"
Alden menyandarkan kembali tubuhnya pada kursi mobil. Matanya memandang kosong kedepan, perasaannya berkecamuk saat ini ia akan menemui seseorang yang sangat ia sayangi dan juga rindukan
"Ini toko bunganya den Al?"
Alden tersentak ia menolehkan pandangannya ke kaca mobil yang langsung tertuju pada sebuah toko bunga. Ia menarik nafas panjang, hatinya sungguh berdebar tak karuan
"Iya pak, bapak langsung pulang aja biar aku pulangnya naik taxi online"
"Tapi kalo ibu nanti nanyain gimana den?"
"Pak Arman tenang aja, aku udah ijin sama mama kok kalo aku pulang telat"
"Yaudah den Al hati hati"
Alden menganggukkan kepalanya "iya makasih pak"
Alden membuka pintu mobilnya, ia terdiam sejenak menatap toko bunga didepannya dengan tatapan sendu. Ia kembali menghela nafas panjang dan mulai melangkahkan kakinya memasuki toko bunga tersebut
tring
"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"
Alden tertegun melihat seseorang didepannya yang tengah tersenyum menatapnya. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju meja kasir tersebut dengan matanya yang tak teralihkan dari sosok wanita paruh baya didepannya itu. Air mata menggenang di pelupuk matanya seakan siap untuk terjatuh. Perasaan rindu kian membuncah melihat sosok wanita paruh baya tersebut
Riani mengernyitkan dahinya saat seseorang yang didepannya ini hanya memandangnya "nak kenapa? Mau beli bunga apa?" tanyanya
Alden tersadar dengan segera tangannya mengelap air mata yang hendak turun "a-aku mau b-bunga tulip pink" ucapnya dengan gemetar
Riani terdiam, tak lama ia kembali menerbitkan senyumnya "bentar saya ambil bunganya" ia beranjak pergi untuk mengambil bunga tersebut
Tak lama Riani kembali dengan buket bunga ditangannya "Ini bunga tulip pink nya. Tulip pink sangat indah, seindah maknanya. Warna pink menggambarkan kelembutan dan penghargaan, sementara bunga tulip sebagai simbol keindahan dan harapan. Jadi— "
"Bunga tulip pink melambangkan rasa penuh cinta dan kasih sayang serta kebahagiaan" potong Alden seraya menatap dalam wajah wanita paruh baya didepannya
Riani tertegun, ucapan seseorang didepannya ini membuatnya kembali teringat dengan mendiang anaknya, Althan. Tanpa sadar ia terdiam cukup lama "ehh maaf, saya jadi teringat seseorang" ujarnya seraya mengelap sudut matanya yang sedikit berair
Alden yang tidak tahan lantas memeluk erat Riani. Sungguh ia tidak sanggup menahan air matanya dan keinginannya untuk memeluk sosok wanita paruh baya tersebut
Riani tersentak saat pria yang masih memakai seragam putih abu itu tiba tiba memeluknya erat "nak, ada apa?"
Riani merasa bingung, namun ntah mengapa ia tidak bisa untuk tidak menolak pelukan itu. Ia merasakan kehangatan dari pelukannya. Pelukan yang terasa sama dengan mendiang anaknya
Alden semakin terisak ketika rambutnya diusap oleh seseorang yang dipeluknya. Perasaan rindu kian membuncah yang membuatnya semakin mengeratkan pelukannya
Alden melepaskan pelukannya, dengan wajahnya yang sembab penuh air mata ia menatap wajah Riani "s-sebenarnya... a-aku—"
drtt
Getaran disaku celananya membuatnya terhenti, lantas Alden dengan segera mengambil hpnya. Terlihat nomor asing tertera di hpnya, ia memilih untuk menerima telfon tersebut
"H-halo?"
"Kamu mau main main sama saya hah!! Dengan mengabaikan ancaman dari saya!! Kamu mau ibu dan adik kamu itu mati di tanganku hah!!"
Alden tersentak, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Namun ia tidak mendapati apapun
"Kamu tidak akan bisa melihatku. Ingat kamu adalah Alden bukan lagi Althan!! Simpan rahasia ini dari siapapun itu jika tidak mau ibu mu itu kenapa napa"
Alden lantas mematikan hpnya, ia menoleh menatap Riani yang menatapnya juga dengan raut bingung serta khawatir. Ia menggelengkan kepalanya teringat dengan ancaman orang tersebut
"M-maaf bu, aku mau bunga ini. Ini uangnya" dengan segera ia pergi meninggalkan toko bunga tersebut seraya membawa buket bunga ditangannya
Alden berlari dengan air mata yang masih bercucuran diwajahnya. Perasaannya campur aduk, hatinya sangat sakit saat didepan orang yang sudah melahirkannya, ia tidak bisa mengungkapkan bahwa ia sebenarnya adalah Althan, anak kandungnya sendiri
Hujan datang membasahi seluruh tubuhnya. Alam seakan akan mengetahui perasaan yang dialaminya kini
Alden berhenti dipinggir jalan, ia menengadahkan kepalanya membiarkan rintikan hujan menerpa wajahnya 'kenapa? Kenapa semuanya jadi begini? Kenapa takdir aku sekejam ini ya tuhan'
Alden mengusap wajahnya. Tanpa melihat sekitarnya, Alden kembali berjalan menuju ke tengah jalan tanpa tahu ada sebuah mobil yang melintas didepannya
ckitt
"Akhhh..."
Alden menjatuhkan badannya, ia menutup kedua matanya. Namun mobil tersebut tidak menabrak dirinya. Ia lantas membuka matanya, sebuah uluran tangan mengalihkan perhatiannya. Ia menengadahkan kepalanya menatap wajah orang itu yaitu Theo
"Kak Theo..."
Theo mengernyitkan dahinya mendengar panggilan Alden kepadanya, namun ia mengabaikannya. Ia membungkukkan badannya ketika Alden hanya menatap uluran tangannya. Ia lantas membantu Alden untuk berdiri, membiarkan badannya juga basah terkena guyuran hujan
"Lo kenapa bisa ada disini?" ucapnya penasaran melihat keadaan Alden.
Walaupun wajah Alden tertutup air hujan, namun ia tau bahwa Alden tengah menangis seraya mendekap erat buket bunga ditangannya
Alden hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Theo. Ia menundukkan kepalanya menatap buket bunga yang juga basah terkena hujan
Theo menghela nafasnya "ayo gw anter"
Alden hanya terdiam, namun ia membiarkan Theo menuntunnya masuk kedalam mobil
Theo menjalankan kembali mobilnya, sebenarnya ia sudah pulang ke apartemennya, namun ia ditelfon sang ibu untuk pulang ke rumah.
Theo menolehkan kepalanya kepada Alden yang kini tengah meringkuk "Lo bisa cerita sama gw Al"
Alden hanya menggelengkan kepalanya, ia mulai memejamkan matanya
"Al... Al!!!"
Theo mengguncangkan pelan badan Alden, namun sepertinya Alden pingsan. Ia lantas melajukan mobilnya dengan cepat
_______________________________
Maaf banget baru bisa update. Gak akan ngegantung kok tenang aja, soalnya kemarin kemarin lagi ada masalah, urgent. Jadi... mohon maaf bangettt