"Sialan, gimana ini bisa-bisanya gw kelewat stasiun. Mana ini malam lagi. Apes gw emang bener kata orang jangan melawan restu mama papa."
Berawal dari kelewatan stasiun, ternyata menjadi awal mula pertemuan Kala dan Raja. Awal yang mungkin menurut...
Sampailah Kala pada terminal. Raja tak turun sama sekali, ia benar-benar hanya menjaga Kala dari jarak pandangnya saja. Tak begeming turun dari mobil, hingga bus yang dinaiki Kala berjalan mobil nya pun ikut meninggalkan terminal dengan berada tetap dibelakang bus.
Perjalanan berlangsung ±2 jam an. Sudah terlalu larut, bahkan sudah hampir menjelang fajar saat sampai di Jogja. Capek pasti, namun yang Kala pikirkan hanya kak Raja. Bagaimana tidak ia menyetir sendirian, ditengah orang-orang sedang tidur ia malah menyetir. Tentu Kala merasa tidak enak, namun itu semua kehendak Kak Raja sendiri, apa boleh buat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sementara itu, Kala mencoba untuk menghubungi Malik. Satu-satunya orang yang ia kenal di Jogja saat ini. Ia dan Malik memang belum terlalu dekat, namun ini urgent kalau kata Kala. Kala tahu jika ia tidak ada yang menjemput takutnya ia malah akan lebih merepotkan kak Raja yang sudah sejauh ini. Alhasil ia pun meminta bantuan kepada Malik.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mungkin ada kali sekitar ½ jam ia menunggu di terminal, menunggu kehadiran Malik. Ditemani dengan Sang Raja. Kala tidak memiliki topik obrolan begitupun dengan Raja. Hanya ada keheningan berpadu dengan keheningan malam itu. Canggung bagi Kala semua ini. Ia hanya bisa berharap Malik segera datang menjemputnya.
"Kala, btw kamu rencana mau ambil jurusan apa?"
"Oh aku mau ambil HI kak atau nggk Ilkom."
"Wah keren, semangat Kala. Pasti lolos!" Ucap Raja yakin.