Its Tough

58 3 1
                                        

Hari ini ia kembali belajar bersama Malik. Tentu saja ucapannya kemarin tak mengada, ia benar-benar memberikan setumpuk soal HOTS untuk menjadi bahan yang mereka bahas hari ini. Berkutat pada laptop dan buku sidah menjadi makanan sehari-hari bagi Kala. Biasanya ia belajar karena memang ia suka namun rasa saat ia belajar kalo ini sedikit berbeda, ada perasaan beban dan pressure yang lebih tinggi dari biasanya. Beberapa kali ia melamun, saat Malik menjelaskan materi nya.

"Euyyy di jelasin malah ngelamun." Suara Malik sangat keras hingga membuyarkan semua lamunannya.

"Apa sih." Kala mendengus kesal.

"Apa sih apa sih, gw lagi jelasin ya nyet. Lo malah gak hargai gw klo lo ngelamun." Malik sepertinya memang benar kesal.

"Iya iya Pak Guru Malik terhormat."

"Gak usah lo pikiran hasil kedepannya. Toh kalau lo begini terus nggk fokus mau jadi gimana ntar semua materi itu."

"Hidup jangan diambil pusing Kal, masa lalu ya masa lalu, masa depan yang masa depan, masa sekarang ya masa sekarang. Kalau lo memberi makna yang lebih dari ketiga itu rumit hidup lo."

"Perihal hasil nya gimana yaudah itu mah pasrah aja, sekarang lo fokus. Giat itu udah cukup. Usaha nggk akan mengkhianati hasil percaya sama gw deh." Sambung Malik seperti layaknya seorang guru saja memberi nasihat pada muridnya, namun ia rasa itu harus ia lakukan. Meminimalisir apa yang tidak dibarapkannya.

Mata Kala berkaca-kaca, ia terlalu malu jika menjatuhkan air matanya dihadapan Malik. Maka ia menahan dan hanya menatap layar laptop dengan tagapan kosong dan hampa.

"Tapi semua hasil selalu mengkhianati gw Mal, masalahnya itu. Gw kaga percaya sama kata-kata begituan. Toh nyatanya bertolak belakang sama gw." Balas Kala diiringi suaranya yang parau.

"Anjing bisa ae lo balesnya. Yaudah ini belajarnya sampai sini aja kali ya. Lo udah nggk fokua gitu. Lo belajar kalau udah tenang aja."

"Mal kalau boleh gw jujur gw capek." Jujur Kala yang seolah ia tidak memiliki tempat mengadu, namun itu kenyataannya. Semua ia pendam dan tutup rapat-rapat seolah itu semua menjadi kotak pandora dalam benaknya, yang kala dibuka akan mengeluarkan semua emosi nya dan luka yang mungkin bisa membawa bencana baginya sendiri.

"Semua orang juga capek kali nyet. Gw juga. Tapi ya santai aja namanya hidup. Nggk usah dipikir terlalu dalam lah. Lulus ya bersyukur nggk lulus ya masih ada banyak opsi lain nyet."

"Dah semangat aja, karena lo lagi mellow mode on gw balik aja kalau gitu. Kalau ada pertanyaan message gw aja."

Malik menyudahi sesi belajar itu dan disetujui oleh Kala. Ucapan Malik terus terngiang di kepalanya. Kepalanya kali ini rasanya berat sekali, semua seolah menjadi beban dan harus ia tuntaskan. Belum lagi saat ia melihat tumpukan buku dan laptop nya yang masih menyala di meja belajarnya. Membuatnya tiba-tiba merasa emosi. Ia ambil bantal dan ia lempar semuanya memberantakkan kamarnya yang selalu rapih. Hingga salah satu lemparan bantalnya mengenai vas bunga di dekat buffet meja di kamarnya.

Pyarrrr

Suara nyaring khas kaca yang pecah. Dilihatnya semua berserakan, dan Kala langsung saja duduk frustasi dibawah. Menatap kekacauan yang ia buat. Berniat untuk membersihkan semua itu, hingga pada satu titik saat ia membersihkan pecahan itu jarinya tegores dan sedikit mengeluarkan cairan berwarna kental merah yang amis itu. Ditatapnya kosong pecahan kaca itu. Dilihatnya hingga ia tanpa sadar tersenyum. Semua hal yang terjadi hari ini seolah membuatnya merasa lega. Terlebih lagi saat jarinya terkena pecahan kaca, ia merasakan sensasi yang mana itu tidak terlalu menyakitkan. Rasa sakit hanya ia rasakan sepersekian detik, setelah itu semua itu rasa sakitnya pudar seolah ada yang lebih menyakitkan dari ini.

Raja dan semestanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang