Extra Part 04

6.1K 189 9
                                        

EXTRA PART 4





•••

  Hari ini Lula sudah siap dengan seragamnya untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa, ia akan ikut bersama Eros.

  Kali ini tak ada raut ceria seperti biasa, karena hari ini adalah hari senin, hari yang amat sangat tidak Lula sukai. Alasannya? Tentu saja karena harus berpanas-panasan saat upacara.

  Sembari menuruni tangga, ingatannya kembali berputar pada kejadian kemarin di mana papa dan ayahnya terlihat begitu senang dengan kedatangan om Lintang, bahkan mereka membicarakan banyak hal, dan sepertinya sudah membuat janji untuk berkumpul.

  Apa ia terima saja tawaran pacaran dari om Lintang? Lagipula om Lintang itu tampan, mapan, dan tentunya idaman Lula sekali.

  Ah sudahlah, nanti saja ia pikirkan, lagipula bisa saja om Lintang hanya bercanda kemarin.

  Tapi sepertinya tidak mungkin! Foto-foto kecilnya di kamar pria itu sudah membuktikan jika pria itu benar-benar sudah menyukainya sedari kecil.

"Pagi pa, ma."

"Pagi, sayang."

  Mereka mulai sarapan pagi seperti biasanya, hanya ada dentingan sendok yang mengalun.

  Setelah selesai, Lula pun pamit, begitupula sang papa yang akan berangkat ke kantor.

"Abang, ayok berangkat."

  Eros menoleh pada Lula yang tiba-tiba muncul, ia tersenyum, tak lupa mengusap puncak kepala gadis itu setelah memasukkan ponselnya ke saku celana.

"Cantik banget sih adek Abang."

"Tau kok."

  Keduanya pun masuk ke dalam mobil, meninggalkan pekarangan rumah.

  Tiba di sekolah, Lula segera menuju kelasnya, menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya, kemudian menaruh tasnya di dalam kelas. Bertepatan dengan itu bel upacara berbunyi.

  Dengan malas ia melangkah menuju lapangan, dan terhenti kala dirinya bertemu dengan Rayyan, teman sekelasnya yang muncul dari belakang.

"Hai La, kusut banget tuh muka."

"Males upacara, panas."

"Nanti baris di deket gue, biar Lo nggak kena panas."

  Lula menoleh semangat. "Boleh, badan kamu kan tinggi."

"Yaudah ayok," tanpa menolak, Lula menerima perlakuan Rayyan yang menepuk puncak kepalanya, lalu menggenggam tangannya menuju lapangan.

  Rayyan itu teman dekat Lula, tapi belum pernah di ajak ke rumah, mungkin kapan-kapan ia akan mengajak Rayyan ke rumahnya.

  Tanpa keduanya sadari, dari sudut lapangan ada sepasang mata tajam yang menatap ke arah keduanya.

"Shit!"

"Cio, saya mau sekolah ini pindah kepemilikan atas nama saya."

"M-maksud bapak, sekolah ini mau di beli?"

"Hm."

"Tapi pak---"

"Kamu saya pecat jika tidak bisa melakukan itu."

"Siap pak, akan saya laksanakan."

"Bagus."

"Apa bapak mau ikut saya kembali ke kantor?"

"Tidak, saya masih harus bertemu calon istri saya." Senyum yang terbit di bibir pria itu membuat sang sekretaris tercengang, pasalnya ini pertama kalinya ia melihat bosnya tersenyum.

Arshan Gentala [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang