7. Kunjungan Bunda

551 49 5
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca dan komentar jika berkenan.

Happy reading!

🍒🍒🍒

Setelah tuduhan tak berdasar yang Dirga lemparkan padanya perkara masakan yang dibuat dengan membaca ajian jaran goyang maupun semar mesem dalam proses pembuatannya, Dinda memutuskan membelikan sarapan untuk Dirga lewat aplikasi saja sejak beberapa hari yang lalu. Selain banyak pilihan menu yang beragam, gadis itu berusaha agar tidak lagi terjadi perdebatan tak bermanfaat antara ia dan suaminya itu yang selalu sukses membuat mood-nya berantakan setelahnya.

Pagi ini setelah Dinda menerima pesanannya dari Driver ojol, ia meletakkan sarapan tersebut di atas meja makan dan berniat hendak masuk kamar untuk bersiap-siap berangkat kerja. Namun sebelum kakinya menjauh dari meja makan, sebuah tangan menghentikan langkahnya.

"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dirga. Pria itu tampak sudah rapi dengan setelan kantornya yang selalu mempesona.

Dinda mengangguk dan memilih kembali ke meja makan dan mengambil tempat duduk di salah satu kursi yang kosong.

"Ini apa?" tanya Dinda mengernyit saat Dirga menyodorkan sebuah benda pipih persegi panjang ke arahnya.

"Walau pernikahan kita tak didasari dengan cinta, saya tetap harus memenuhi semua kebutuhan kamu," ucap Dirga menjawab rasa penasaran di hati Dinda.

Sudah beberapa hari ini ia melihat Dinda memesankan sarapan untuknya lewat aplikasi online. Entah karena masih tersinggung akan ucapannya beberapa hari lalu, yang pasti ia harus mengganti uang yang Dinda keluarkan untuk keperluaannya. Karena Dirga tak ingin berhutang pada gadis tersebut.

"Tapi, Pak--"

"Atau anggap saja itu bayaran dari kesepakatan kita. Setiap bulan saya akan transfer gaji kamu," potong Dirga lagi.

"Gaji saya di toko roti sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya sehari-hari," jawab Dinda.

Saat mengatakan hal tersebut ia memang tak berbohong sama sekali. Gajinya selama menjadi karyawan di toko roti Ibu Mertua memang digunakannya untuk kehidupan sehari-hari setelah menyisihkan beberapa lembar seratus ribu yang diberikannya pada Ibu di panti untuk membantu memenuhi kebutuhan adik-adik di sana. Walau kadang gajinya tak cukup sampai akhir bulan, karena lebih mementingkan adik-adik pantinya, namun Dinda masih sangat bersyukur karena dulu ia nyaris saja kehilangan harga diri hanya karena tak memiliki uang sepeserpun.

Selain itu label sebagai gadis yang berharap mendapat suami kaya raya seperti yang Dirga tuduhkan kemarin seakan mengusik harga diri yang susah payah ia pertahankan membuatnya tak ingin sama sekali menyentuh uang yang Dirga berikan padanya.

"Jangan begitu, saya tidak mau ada hutang sama kamu, jadi...."

"Lagipula bukankah gaji saya sebagai istri Bapak sudah anda bayarkan di awal?" ucap Dinda mengingatkan kembali pada Dirga jika saja ia lupa sudah membayar Dinda dengan nominal fantastis sebelum mereka menikah.

Perdebatan unfedah tentang kartu ATM yang masih tergeletak pasrah di atas meja makan itu terhenti saat terdengar bell pintu rumah mereka berbunyi.

"Bunda?" Senyum Dirga terbit kala mendapati kehadiran Bunda di depan rumahnya pagi ini dengan senyum membentang sempurna.

"Pagi, Sayang." Bunda memeluk Dirga erat penuh afeksi guna meluruhkan segala bentuk kerinduan di dalam hati. "Oya Dinda mana?" tanya Bunda seakan tersadar jika ada sosok lain yang ingin ia temui.

Married By Agreement(TAMAT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang