Biasakan memberi vote sebelum membaca dan komentar jika berkenan.
Happy reading!
🍒🍒🍒
Merasa mood-nya kurang baik pagi ini setelah adu mulut dengan Dirga, Dinda urung melangkahkan kaki ke toko roti dan memutuskan untuk mengunjungi panti asuhan yang sempat beberapa tahun menjadi tempat ternyamannya. Lagipula Bu Aminah yang sekarang sudah resmi menjadi mertuanya menyarankannya tak perlu masuk bekerja karena tau jika pengantin baru perlu waktu untuk istirahat setelah melewati rangkaian acara pernikahan lalu dilanjutkan dengan ritual malam pengantin.
Dinda hanya bisa garuk-garuk kepala kala ritual malam pengantin itu disebut oleh sang ibu mertua.
Ritual malam pengantin? Dinda bahkan tak pernah sedikitpun berpikiran ke arah sana. Karena selain tak ada cinta antara ia dan Dirga, pernikahan mereka hanya ditopang oleh sebuah perjanjian yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Setidaknya itu yang Dirga tekankan padanya sebelum akad nikah mereka berlangsung kemarin.
Dinda lumayan terkejut saat satu jam sebelum akad Dirga masuk ke dalam kamar dan meminta orang-orang termasuk Bunda untuk meninggalkan mereka berdua.
"Apa kamu udah tidak sabar, Ga! Tinggal satu jam lagi loh. Masa nggak bisa nahan?" goda Bunda dengan kekehan geli yang tentu saja membuat sang putra nampak salting sendiri.
"Aga cuma mau menatap wajah calon istri Aga sebentar aja, Bun. Untuk memantapkan hati saat ijab qabul nanti," jawab Dirga mantap.
"Masa sih?" tanya Bunda lagi.
"Yah... minta DP sedikit boleh-boleh ajakan." Jawaban Dirga dengan kedipan nakal membuat Bunda dan keluarga lainnya cekikikan geli dan segera meninggalkan mereka berdua.
DP? Awas saja kalau Pak Dirga berani macam-macam!
Dinda yang sejak tadi hanya diam duduk di pinggiran kasur kini bersiap memasang alarm waspada.
Setelah semua orang meninggalkan mereka berdua, Dirga mengambil tempat duduk pada sebuah kursi yang tak jauh dari jangkauannya.
"Kamu tau kan jika pernikahan kita bukanlah pernikahan seperti kebanyakan orang?" tanya Dirga membuka pecakapan di antara mereka.
"Lalu?" tanya Dinda setelah terdiam lama meresapi mukaddimah yang meluncur dari bibir sang Eksekutif Muda. Bagi seorang Dinda, siapapun pria yang menikahinya kelak maka ia wajib untuk menjadi istri yang baik untuk pria tersebut.
"Kita menikah bukan karena cinta melainkan simbiosis mutualisme," ucap Dirga yang dibenarkan Dinda dengan anggukan kepala. "Saya bahkan berniat tak ingin menikah jika bukan Bunda yang meminta."
"Bapak... kaum pelangi?" Mata Dinda melotot mendapati kenyataan yang baru saja didapatnya pagi ini.
"Tak penting saya ini kaum pelangi atau bukan. Yang jelas saya minta walau sudah menikah, jangan pernah berusaha untuk membuat saya jatuh cinta sama kamu!"
"Maksud, Bapak?"
"Saya akan menikahimu, mencukupi kebutuhanmu, tapi jangan berharap saya akan melaksanakan tugas saya sebagai suami yang memberikan nafkah batin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
ChickLitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
