Biasakan memeberi vote sebelum membaca.
Terimakasih
🍒🍒🍒
Pagi-pagi sekali, Dinda mendatangi ruang kerja Zayyan yang ada di samping kamarnya. Cahaya matahari baru saja menyentuh jendela, tetapi Dinda sudah siap dengan keputusan besarnya. Ia berdiri di ambang pintu, menunggu Abangnya selesai dengan panggilan telepon.
"Ada apa, Din?" tanya Zayyan setelah menutup ponselnya, melihat adiknya membawa amplop. Ada senyum lega di wajahnya, tanda bahwa ia tahu adiknya sudah memilih.
Dinda berjalan ke meja, meletakkan amplop pilihannya itu di depan Zayyan. "Aku sudah memilih, Bang."
Zayyan tersenyum lega. "Alhamdulillah. Abang tahu kamu tidak akan lama. Jadi, siapa pria beruntung ini?" Zayyan hendak membuka amplop tersebut namun kaget karena amplop itu masih tertutup rapat.
"Sayang, kamu nggak buka amplopnya?" tanya Zayyan, mengangkat alisnya yang tebal.
Dinda mengangguk. "Iya, Bang."
"Kenapa? Di dalam amplop ini terdapat semua informasi tentang calon suamimu, Din. Nama, profesi, latar belakang. Penting, Dek."
Dinda kembali menggeleng. "Aku nggak perlu tahu siapa dia."
"Are you sure? Ini pernikahan, Din!" Zayyan mulai bingung dengan tindakan ekstrem adiknya.
"Yes!" jawab Dinda dengan keyakinan yang dingin, namun mantap.
"Lalu bagaimana kamu akan memutuskan, Dekkk?"
"Aku sudah percayakan semua ini pada kalian dan Allah," jawab Dinda kalem. "Pilihan di tangan Abang dan Ayah, dan petunjuk di tangan Allah. Aku hanya menjalankan."
"Ya Allah! Anti-mainstream sekali gebrakanmu, Sayang." Zayyan tidak bisa menahan tawa kecilnya, ia benar-benar terkesan. "Baik! Mari kita lihat siapa pria yang beruntung itu." Zayyan meraih cutter di atas mejanya.
Namun, Dinda kembali melarangnya.
"Tunggu, Bang!" potong Dinda cepat.
"Kenapa lagi?" Zayyan mengangkat alis, bingung.
"Aku... aku tidak mau tahu siapa dia," ucap Dinda, matanya menatap Zayyan dengan tatapan penuh permohonan.
"Maksudmu?"
"Aku sudah melakukan Istikharah. Aku sudah berserah pada Allah dan pada pilihan Abang serta Ayah. Aku sudah berusaha menepis hati yang tidak seharusnya ada. Aku tidak ingin ada campur tangan dari hatiku lagi," jelas Dinda, suaranya sedikit bergetar. Ia takut jika ia tahu siapa calonnya, ia akan membandingkannya dengan Dirga, atau ia akan merasa cemas dan membatalkan keputusan yang sudah ia yakini kebenarannya. Ia butuh totalitas dalam berserah diri.
Dinda maju selangkah, memohon pada Abangnya. "Abang boleh membuka amplop itu setelah aku keluar dari ruangan Abang. Aku tidak mau tahu apa isinya."
"Heh?" Zayyan masih tercengang.
"Aku minta tolong, Bang. Jangan pernah beri tahu aku siapa calon suamiku ini. Jangan berikan fotonya, jangan sebutkan namanya, bahkan di hari pernikahan pun..."
Dinda menarik napas dalam-dalam. Permintaan terakhir ini yang paling berat diucapkan. "Aku hanya ingin tahu siapa dia sampai kata 'sah' dari penghulu dan saksi terdengar. Saat itu, aku akan tahu bahwa dialah takdir yang Allah pilihkan untukku. Itu saja."
Zayyan terdiam. Ia menatap adiknya, memahami dalamnya luka dan kuatnya tekad Dinda untuk move on dengan cara yang paling ekstrem. Dinda sedang membangun benteng terakhir untuk melindungi hatinya dari bayangan masa lalu. Dinda sedang mencoba menyembuhkan hati yang hancur dengan penyerahan diri total pada takdir, menutup rapat-rapat pintu yang mungkin bisa dibuka oleh masa lalunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
ChickLitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
