49. Flashback: Janji Abang

203 20 2
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca.

Thank You!

🍒🍒🍒

Di rumah peristirahatan yang tenang di kota kembang, Bandung, pagi itu terasa damai. Udara sejuk di pagi hari memeluk erat, menenangkan jiwa yang pernah porak poranda. Dinda dan Zayyan baru saja pulang dari pengajian mingguan di masjid terdekat. Mereka berjalan berdampingan dengan Zayyan yang setia mendengarkan celotehan panjang Dinda tentang topik pengajian yang tadi Ustadz sampaikan. Dinda terdengar antusias, sesekali mengutip ayat atau hadis dengan penuh semangat.

Zayyan bersyukur kegiatan rutin di dekat rumah mereka sedikit banyak bisa membantu mengobati luka hati sang adik. Ia melihat Dinda kini kembali ceria, meskipun ia sadar bahwa proses penyembuhan itu belum sepenuhnya tuntas. Lukanya masih terasa perih, karena Zayyan tak jarang mendengar isak tangisnya yang lirih di sepertiga malam terakhir, sebuah tanda bahwa duka kehilangan sang buah hati dan trauma perceraian masih berusaha ia lupakan. Beruntung keberadaan keluarga dan rutinitas ibadah telah memberinya kekuatan luar biasa.

"Sebagai ucapan terima kasih karena Abang menemani aku ikut pengajian. Pagi ini aku akan buatkan nasi goreng spesial," ucap Dinda, menggandeng tangan sang kakak masuk ke dalam rumah yang mereka tinggali berdua. Gerakan manja dan sentuhan tangan itu adalah hal paling berharga bagi Zayyan.

"Nah.. Itu baru namanya Adek yang baik. Tahu kalau Abangnya lagi kelaparan," sahut Zayyan, menepuk-nepuk bahu Dinda sayang. Ia selalu meladeni dan membalas kemanjaan adiknya, sebuah hak yang tak pernah ia sangka akan ia miliki.

Dinda terkekeh, langsung berjalan menuju dapur, menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.

"Sembari kamu bikin nasi goreng, mau Abang buatkan jus nggak? Kamu suka alpukat kan?" tanya Zayyan, membuka kulkas dua pintu di depannya. Tangannya sibuk memilah dan memilih buah alpukat yang sudah matang sempurna untuk dibuat jus kesukaan sang adik.

"Boleh, Bang. Makasih, ya!" ucap Dinda sambil tangannya terampil memotong bawang merah dan bawang putih. Kepulan asap tipis mulai mengepul dari wajan, disusul bau masakan yang menyeruak dari pertemuan minyak goreng dan bumbu membuat perut Zayyan semakin keroncongan.

Setelah selesai membuat jus alpukat dan menuangnya ke dalam dua gelas berbeda, pria itu mengambil tempat duduk di meja makan.
Ia selalu senang saat melihat Dinda yang terampil memasak di dapur, laksana peserta Master Chef yang pernah ia tonton di televisi. Dinda memasak dengan penuh cinta, seolah dapur adalah tempat ia melupakan semua rasa sakit.

Zayyan diam-diam mengamati setiap gerakannya. Mungkin seperti inilah gambaran hari-hari yang Dirga lihat setiap hari sebelum badai rumah tangga itu memporak porandakan segalanya. Zayyan menghela napas panjang, hatinya sangat menyayangkan langkah gegabah yang Dirga ambil saat itu.

"Sayang, kamu tahu nggak? Dulu, setiap Dirga bawa bekal makan siang hasil masakanmu, aku pasti mencuri sedikit lauknya. Dan berakhir dengan gerutuan panjang Dirga yang kesal karena jatahnya berkurang," Zayyan sengaja memancing reaksi Dinda dengan menyebut nama mantan suami adiknya itu di dalam percakapan mereka. Ia ingin Dinda bisa menyebut nama Dirga tanpa rasa sakit lagi.

Walau sempat terdiam sejenak, Dinda akhirnya tertawa. "Lagian Abang hobi banget bikin dia kesal."

"Salah sendiri selalu pamer istri yang jago masak. Ujung-ujungnya dia suruh aku cari istri. Kan ngeselin, ya," gurau Zayyan.

Dinda tertawa geli. "Jadi itu alasannya kenapa Mas Dirga saat makan malam selalu minta dimasakin masakan yang sama persis seperti bekal makan siangnya! Ternyata Abang sering ngambil jatah makan siangnya," ucapnya sambil meletakkan dua piring nasi goreng yang masih mengepulkan asap di atas meja makan. Aroma bumbu yang sempurna memenuhi udara. Dia lalu mengambil tempat duduk di samping Zayyan.

Zayyan menyerahkan segelas jus alpukat kepada Dinda, ia lalu menatap Dinda dengan pandangan yang tiba-tiba berubah serius.

"Bukan cuma soal masakan, Din," kata Zayyan, suaranya pelan. "Ada hal lain yang dulu membuatku cemburu pada Dirga."

Dinda menatapnya penasaran. "Apaan?"

"Aku pernah terpesona saat melihatmu di pelaminan," Zayyan mengakui. "Kau tahu, di hari pernikahanmu dan Dirga. Aku melihatmu, bersinar seperti bidadari. Walau tampilanmu sederhana namun auramu luar biasa."

Dinda kembali tertawa geli. "Itu era di mana aku lagi cupu-cupunya, Bang," sahutnya.

"Cupu-cupu tapi memikat. Makanya, kadang kalau Dirga bercerita penuh emosi tentang pertikaiannya denganmu dulu, aku selalu berpesan agar dia kasih kabar kalau kalian bercerai."

"Untuk apa?" tanya Dinda heran. Ia sama sekali tidak pernah tau godaan Zayyan yang satu ini.

"Karena aku menunggu jandamu," jawab Zayyan, terkekeh.

Zayyan meringis saat perutnya dicubit keras oleh Dinda. "Ya Allah Abang jahat banget sih."

"Dulu Aku anggap kata-kata asbun-ku itu hanya godaan. Tapi ternyata, ucapanku jadi kenyataan," Zayyan menghela napas panjang.

"Ya udah sih. Namanya juga takdir, Bang. Nggak ada yang harus disesali." Dinda menepuk-nepuk baju Zayyan dengan senyum ringan, seringan hatinya yang kini merasa jauh lebih baik.

Zayyan memegang tangan Dinda. "Sejak hari pertama kamu masuk ke dalam lingkaran Dirga, saat kita sering tanpa sengaja bertemu, hatiku rasanya selalu ingin melindungimu." Zayyan menatap mata adiknya yang kini mulai berkaca-kaca. Ia menceritakan bagaimana perasaan protektif itu terasa aneh dan kuat.

"Pantas saat melihatmu hati Abang rasanya selalu ingin melindungi. Ternyata itu adalah firasat jika kamu adikku," kata Zayyan, mengakhiri ceritanya.

"Itu artinya Allah tidak membiarkan kita terpisah selamanya, Bang," sahut Dinda kalem. "Aku juga ingat kita ketemu saat aku mau ke panti asuhan. Dan Abang baik banget mau nganterin aku."

"Iya... walaupun yang dibantuin mintanya duduk di belakang," sindir Zayyan yang masih ingat betul akan penolakan Dinda duduk di sampingnya.

"Kan dulu takut fitnah, Bang," Dinda tertawa lalu meletakkan jusnya yang baru saja diminumnya sedikit. Ia lalu memeluk lengan Zayyan erat. "Terima kasih, Abang Zayyan," bisik Dinda, manja. Ia bersandar sepenuhnya di dada Zayyan. "Terima kasih selalu melindungiku."

"Tak perlu berterima kasih untuk sebuah kewajiban. Kamu akan selalu jadi prioritas utamaku," janji Zayyan, mengusap puncak kepala Dinda dengan kelembutan murni kasih sayang seorang kakak kandung kepada adiknya. Mereka tertawa, menikmati kedamaian yang akhirnya mereka temukan, setelah melalui berbagai badai kehidupan yang menyakitkan.

"Ayo isi energi dulu. Setelah ini kita harus belanja bulanan."

"Siap!" jawab Dinda ceria.

Pada akhirnya Zayyan tak menyangka kegiatan belanja bulanan mereka hari ini membuat Dirga mengetahui segalanya. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang mengatur Dirga untuk melihat kebahagiaan Dinda dengan matanya sendiri, dan salah memahami keintiman murni antara adik dan kakak kandung. Ini adalah awal dari gejolak emosi dan kecemburuan Dirga yang menjadi babak baru dalam kisah mereka.

Flasback end

🍒🍒🍒

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 16 Desember 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang