57. Tugas Baru

187 20 0
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca!

Happy reading!

🍒🍒🍒

Dirga akhirnya dibolehkan pulang dari rumah sakit dan kembali ke Jakarta bersama Bunda yang setia menemaninya. Ia meninggalkan Bandung dengan kondisi fisik yang telah pulih total dan yang lebih penting, dengan hati yang terasa ringan dan tenang. Proses penyembuhan batinnya jauh lebih signifikan daripada penyembuhan lukanya.

Pengampunan Dinda adalah penawar terbaik. Rasa bersalah yang membakar dirinya telah berganti menjadi penyesalan yang damai. Ia dan Dinda telah saling memaafkan dan sepakat untuk sama-sama berdamai dengan ketentuan takdir. Sebuah babak kehidupan yang menyakitkan telah ditutup, digantikan oleh harapan baru.

Langkah Dirga memasuki gedung kantor di Jakarta terasa berbeda pagi itu. Jika dulu ia melangkah dengan beban penyesalan yang membungkus pundaknya, kini ia berjalan dengan kepala tegak dan sorot mata yang jernih. Meskipun langkahnya sedikit melambat karena sisa cedera di kakinya, semangat di dadanya menyala lebih terang dari sebelumnya.

Baru saja ia meletakkan tas di meja kerjanya, sebuah panggilan internal masuk. Pak Hasan, pria yang kini ia hormati bukan hanya sebagai atasan namun juga sebagai mantan mertua yang bijaksana, memintanya datang ke ruang pimpinan.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Pak Hasan duduk di balik meja besarnya. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya, ada gurat kekecewaan yang mendalam di sana. Begitu Dirga duduk, Pak Hasan langsung menyodorkan sebuah map tebal berisi laporan audit dari bagian keuangan.

"Dirga, saya memanggil kamu bukan untuk membahas masa lalu," buka Pak Hasan dengan suara berat. "Saya butuh orang yang paling saya percayai untuk menangani masalah internal yang sangat sensitif ini."

Dirga membuka map tersebut dan matanya menyipit saat membaca deretan angka yang tidak sinkron. "Penggelapan dana, Pak?"

Pak Hasan mengangguk perlahan, ia menghela napas panjang. "Aromanya sudah tercium sejak sebulan lalu. Ralin, anak tiri saya dari istri kedua, ternyata bekerja sama dengan Daffa sekretaris pribadinya. Mereka memanfaatkan celah di divisi pengembangan untuk mengalirkan dana perusahaan ke rekening pribadi."

Dirga tertegun. Ralin dan Daffa, dua orang yang selama ini menjadi sosok yang sering menoreh luka di hatinya memang terkenal ambisius. Mereka ternyata berani mengkhianati kepercayaan Pak Hasan demi materi.

"Ini jumlah yang sangat besar, Pak. Dan dilakukan secara sistematis," ujar Dirga sambil menunjuk beberapa transaksi fiktif.

"Itulah sebabnya saya menugaskan kamu," Pak Hasan menatap Dirga tajam namun penuh harapan. "Saya ingin kamu membereskan kekacauan yang mereka tinggalkan. Audit ulang semua departemen yang pernah mereka sentuh, kumpulkan bukti yang tak terbantahkan, dan pastikan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum."

"Kenapa Bapak memilih saya? Padahal saya baru saja pulih," tanya Dirga pelan.

Pak Hasan tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung pengakuan. "Saya sudah kenal kamu sejak lama. Kamu jujur dan kompeten. Selain itu saya tahu kamu sudah melewati ujian hidup yang paling berat. Orang yang sudah berdamai dengan kematian dan kesalahan masa lalunya, biasanya memiliki kejujuran yang paling murni. Saya butuh kejujuran itu sekarang, Dirga."

Dirga berdiri, meskipun kaki kirinya masih sedikit berdenyut, ia memberikan anggukan hormat. "Saya terima tugas ini, Pak. Saya akan pastikan semua dana yang digelapkan kembali, dan perusahaan ini bersih dari orang-orang yang berkhianat."
"Terima kasih, Dirga. Lakukan dengan bersih. Jangan ada ruang untuk kompromi, meskipun itu melibatkan anak tiri saya dan kakak tirimu sekalipun," tegas Pak Hasan.

Dirga melangkah keluar dari ruangan itu dengan misi baru. Di hatinya, ia berjanji bahwa keberadaannya di Jakarta kali ini adalah untuk menjadi pelindung bagi orang-orang yang telah berbaik hati memberinya kesempatan kedua. Baginya, membereskan kekacauan Ralin dan Daffa adalah langkah awal untuk membuktikan bahwa Dirga yang sekarang benar-benar telah lahir kembali.

🍒🍒🍒


Dirga kembali ke mejanya dengan rahang yang mengeras. Ia menatap map di tangannya, namun pikirannya melayang ke beberapa bulan lalu. Ia ingat betul bagaimana Ralin datang padanya dengan wajah "simpatik" palsu, menyodorkan foto-foto Dinda yang sedang bekerja di tempat karaoke remang-remang di Banjarmasin. Foto yang membuat Dirga buta oleh amarah dan tega menceraikan istrinya tanpa tau jika ia sedang mengandung anak pertama mereka.

Tanpa membuang waktu, Dirga melangkah menuju divisi pengembangan. Langkah kakinya yang sedikit pincang justru memberikan kesan intimidasi yang kuat. Begitu ia membuka pintu ruangan, ia melihat Ralin dan Daffa sedang tertawa sambil memeriksa beberapa dokumen.
Tawa mereka terhenti seketika melihat Dirga berdiri di ambang pintu.

"Dirga?" Ralin berdiri, wajahnya berubah pucat, tak menyangka jika Dirga pulih secepat ini. namun ia berusaha memasang topeng keramahannya.

"Wah, si pahlawan sudah kembali. Katanya baru kecelakaan hebat, kok sudah masuk kantor?"Daffa menyeringai sombong, bersandar di meja.

"Iya, Ga. Harusnya kamu istirahat lebih lama. Perusahaan aman kok dihandle kita."

Dirga tersenyum, namun senyumnya sangat dingin. Ia berjalan mendekat dan meletakkan map laporan audit di atas meja Daffa dengan dentuman keras. "Aman menurut siapa? Menurut rekening pribadi kalian?" tanya Dirga dengan suara rendah yang mengancam.

Daffa terkesiap, sementara Ralin membuang muka, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Apa maksud kamu, Ga? Jangan asal bicara!"

Dirga mencondongkan tubuh, menatap Ralin tepat di matanya. "Ralin, dulu kamu sangat ahli dalam hal memberikan data. Kamu memberiku foto masa lalu Dinda untuk menghancurkan hidupku. Tapi sayangnya, kali ini data yang sampai ke tanganku jauh lebih akurat dan nyata. Data penggelapan dana perusahaan oleh kalian berdua."

Ralin gemetar. "Itu... itu pasti salah paham! Seseorang mencoba menjebak kami!"

"Benarkah?" Dirga beralih menatap Daffa. "Daffa, kamu sudah mengambil Ralin dariku dulu. Aku diam. Kamu merendahkanku, aku juga diam. Tapi saat kalian mulai mencuri dari Pak Hasan dan mencoba merusak perusahaan ini, aku tidak akan diam lagi."

Dirga mengeluarkan surat tugas resmi yang ditandatangani Pak Hasan. "Mulai detik ini, akses kalian ke seluruh sistem perusahaan dicabut. Dan Ralin... terima kasih sudah mengajarkanku bagaimana cara menghancurkan hidup seseorang dengan data. Bedanya, data yang aku punya ini akan membawamu ke penjara, bukan ke pengadilan agama."

Daffa mencoba berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Dirga. "Lo pikir lo siapa, hah?!"

Dirga tidak mundur sedikit pun. Ia menepis tangan Daffa dengan kekuatan yang tak terduga."Brader, tak perlu nge-gas kalau lo merasa nggak salah."

"Fine! Buktikan kalau memang kami melakukan penggelapan!" tantang Daffa masih dengan gaya arogannya seperti biasa.

"Aku tau kalau kamu menaruh dendam. Padaku, Ga! Tapi tidak begini caranya kalau mau balas dendam. Ini fitnah! Aku akan adukan ini pada Papa kalau ini akal-akalan kamu saja."

Dirga geleng-geleng kepala melihat Ralin yang nampak tak terima dengan data yang ada di depannya. Pria itu kembali teringat Dinda yang harus berjuang sendirian di jalanan karena fitnah wanita ini. Ia teringat Hanif yang tidak sempat ia sapa.

Dirga berbalik, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Mengabaikan sumpah serapah Daffa dan Ralin yang terdengar saling bersahutan.

🍒🍒🍒

Salam sayang untuk kalian semua!

Kita kasih pelajaran ke Ralin & Daffa dulu ya.

Martapura, 25 Desember 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang