Biasakan memberi vote sebelum membaca.
Terima kasih
🍒🍒🍒
Kajian sore itu baru saja usai. Ustadz Malik, pembimbing spiritual yang sangat dihormati Dirga, memberi isyarat agar ia tetap tinggal. Mereka duduk berhadapan di sudut masjid yang tenang.
"Dirga," buka Ustadz dengan suara rendah yang menyejukkan. "Saya perhatikan ibadah dan perubahanmu begitu sungguh-sungguh. Masya Allah, semoga Allah senantiasa menguatkan langkahmu."
Dirga menunduk takzim. "Amin, Ustadz. Semua berkat bimbingan Ustadz juga."
Ustadz Malik tersenyum tipis, lalu menatap Dirga dengan pandangan kebapakan. "Begini, Dirga. Jika dirasa hati sudah lapang, apakah kamu sudah terpikir untuk menyempurnakan ibadah dengan menikah lagi? Ada seorang akhwat, ia sangat salihah, cerdas, dan berasal dari keluarga baik-baik. Saya rasa dia sangat cocok untuk mendampingi sosok seperti kamu."
Dirga terdiam. Pertanyaan itu menusuk tepat ke inti hati yang selama ini ia jaga rapat. Sejak berdamai dengan Dinda, ia tak pernah berpikir untuk mencari sosok untuk menggantikan Dinda di sisinya. Hatinya hanya terpaut pada satu nama. Dia selalu berharap akan Dinda. Harapan yang selama ini ia simpan di sudut hati, jauh dari sorot mata dunia.
Namun, harapan itu baru saja dihantam oleh kenyataan pahit. Beberapa minggu yang lalu Zayyan mengabarkan jika Dinda memutuskan untuk menikah. Kabar itu mematahkan harapan kecil Dirga. Dan itu membuatnya galau berhari-hari. Ia tahu ia harus melepaskan, tetapi melakukannya terasa mustahil.
"Ustadz... jujur, saya masih merasa belum layak," jawab Dirga pelan dengan suara yang agak berat.
"Dirga, kamu harus ikhlas," nasihat Ustadz dengan lembut seolah bisa membaca luka di balik mata pemuda itu. "Allah sudah menulis takdirmu dan takdir mantan istrimu dalam lembaran yang berbeda. Jangan jadikan hatimu penjara untuk sesuatu yang sudah selesai."
"Jangan biarkan masa lalu menghalangi masa depan yang mungkin sudah Allah siapkan dengan lebih indah. Pikirkanlah matang-matang."
Dirga menarik napas panjang. Ia mengangguk, menerima kebenaran yang diucapkan oleh gurunya. "Saya mengerti, Ustadz. Tapi saya butuh waktu untuk meyakinkan hati saya."
Dirga akhirnya menjawab akan istikharah terlebih dahulu. "Mohon doanya, Ustadz. Saya ingin Allah yang memilihkan yang terbaik untuk saya."
Sepanjang perjalanan pulang, Jakarta yang riuh terasa seperti padang pasir yang sunyi. Pikiran Dirga melayang pada sosok Dinda yang kini bahagia tinggal di Bandung. Sosok yang kini begitu anggun dengan hijab panjangnya, memancarkan kedamaian yang justru membuat Dirga merasa semakin jauh.
Dinda adalah penyesalan terindahnya. Di mata Dirga, Dinda bagaikan seekor kupu-kupu indah yang baru saja keluar dari kepompong duka. Dulu, Dirga-lah yang mematahkan sayapnya. Dan kini, setelah Dinda berhasil menemukan kembali kekuatan untuk terbang, ia akan hinggap di taman milik pria lain.
Ada rasa frustrasi yang menyesakkan dada. Ia ingin menjadi pelindung bagi sayap-sayap itu, namun ia sadar, dirinya mungkin adalah badai yang paling dihindari oleh sang kupu-kupu.
"Hanya orang bodoh yang mau kembali pada orang yang telah menghancurkannya," bisik logika Dirga dengan kejam.
Kalimat itu menjadi tembok tinggi yang menghalangi Dirga untuk mengucap kata rujuk. Ia merasa Dinda kini terlalu tinggi untuk ia jangkau. Dinda telah bertransformasi menjadi bulan yang sangat bercahaya, sementara ia masih merasa sebagai pungguk yang penuh noda masa lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
Chick-LitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
