Biasakan memberi vote sebelum membaca
Happy reading
🍒🍒🍒
Perjalanan dari Bandung menuju Jakarta seharusnya terasa biasa saja, namun bagi Dinda, setiap kilometer yang mereka tempuh degup jantung Dinda semakin tak bisa diajak kerja sama. Status baru mereka sebagai suami istri untuk kedua kalinya masih terasa seperti mimpi yang terlalu nyata untuk dipercaya.
Dinda duduk menyandar di kursi penumpang, matanya terpejam rapat. Namun, ia tidak benar-benar tidur. Ia bisa merasakan setiap pergerakan Dirga, aroma maskulin khas suaminya yang memenuhi kabin mobil, hingga suara napas Dirga yang tenang saat mengemudi. Detak jantung Dinda benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Dadanya bergemuruh hebat setiap kali Dirga sedikit mengubah posisi duduk atau saat tangan pria itu secara tidak sengaja menyentuh sandaran tangannya. Untuk menutupi kegugupan yang luar biasa itu, Dinda memilih berpura-pura tidur.
Ia mengeratkan genggaman tangannya, kepalanya sedikit miring ke arah jendela. Ia berusaha mengatur napasnya agar tampak teratur seperti orang yang sedang terlelap, meskipun pikirannya sedang sibuk berteriak karena rasa canggung yang membuncah. Dirga, yang sesekali melirik ke arah samping, hanya bisa menyunggingkan senyum tipis. Sebagai pria yang sudah lama mengenal Dinda, ia tahu persis bahwa istrinya itu sedang berakting.
"Tidur ya, Din?" batin Dirga geli.
Ia memperhatikan bagaimana bulu mata Dinda yang panjang sesekali bergetar dan bibir mungilnya yang terkatup rapat tanda bahwa gadis itu sedang menahan matanya agar tidak terbuka. Bagi Dirga, ekspresi Dinda yang mencoba terlihat tenang padahal sedang gelisah itu sungguh menggemaskan. Saat mobil melewati jalanan yang sedikit bergelombang, Dirga sengaja sedikit melambatkan lajunya. Ia merogoh kursi belakang, mengambil sebuah selimut tipis yang memang sudah ia siapkan. Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, Dirga menyelimuti tubuh Dinda hingga batas dada.
Dirga sempat berhenti sejenak, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Dinda. Ia bisa melihat rona merah yang tiba-tiba muncul di pipi istrinya, sebuah respons alami tubuh yang tidak bisa disembunyikan meski mata tertutup. Dirga menahan napasnya sendiri, mengagumi pahatan wajah wanita yang sempat hilang dari dekapannya itu. Ia mengusap pucuk kepala istrinya yang tertutup kerudung dengan penuh kelembutan, seolah takut jika sentuhan yang sedikit lebih keras akan menghancurkan momen indah ini.
"Kalau pura-pura tidurnya sudah capek, bilang ya, Sayang. Nafas kamu kedengaran kayak orang habis lari keliling lapangan bola sepuluh kali," bisik Dirga lirih tepat di dekat telinga Dinda, suaranya mengandung nada godaan yang kental.
Dinda semakin merapatkan matanya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa atau berteriak karena malu.
Sementara Dirga terkekeh rendah, kembali memfokuskan pandangannya ke jalan tol di depannya. Ia merasa sangat bahagia, perjalanan pulang ke Jakarta kali ini bukan lagi tentang urusan pekerjaan, melainkan tentang membangun kembali istana yang dulu sempat runtuh.
Sepanjang sisa perjalanan, Dirga tidak melepaskan tangan kirinya dari atas tangan Dinda yang berada di bawah selimut, memberikan usapan-usapan kecil yang seolah ingin meyakinkan bahwa kali ini, ia tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Mobil berhenti dengan halus di depan pagar rumah yang sangat familiar bagi Dinda. Ketika gerbang terbuka, Dinda merasa seperti ditarik kembali oleh mesin waktu. Rumah ini adalah saksi bisu dari air mata dan luka lamanya. Bangunan itu kini berdiri tegak menyambutnya kembali sebagai nyonya rumah. Langkah kaki Dinda terasa berat dan ragu saat melewati ambang pintu. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di ruang tamu, napasnya tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
Romanzi rosa / ChickLitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
