Biasakan memberi vote sebelum membaca!
Happy Reading
🍒🍒🍒
Dirga menatap pintu kamar hotelnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia harus melakukan hal yang paling sulit, yaitu menerima kebenaran, dan yang terberat, membiarkan Dinda lepas dari genggamannya.
Dirga akhirnya mengalah dengan menuruti apa yang Zayyan minta. Ia tahu, Zayyan benar. Setelah apa yang terjadi diantara mereka, memaksa Dinda untuk bertemu, apalagi untuk kembali, sama saja dengan menjadi pembunuh untuk kali kedua. Ia tak ingin menjadi pembunuh kedamaian dan kesembuhan wanita yang sangat ia cintai.
Dirga menghabiskan sisa harinya di Bandung dengan menenangkan diri, sebelum akhirnya kembali pulang ke Jakarta. Ia mengelilingi kota Bandung hingga langkah kakinya terhenti di sebuah masjid tua di pinggir kota. Di sana ia duduk berjam-jam setelah salat fardu, memohon petunjuk dan kekuatan agar bisa kembali menjalani hidup walau tanpa Dinda di sampingnya.
Saat meninggalkan kota kembang itu, ia kembali dengan hati yang mulai ringan. Bukan ringan karena bebas dari masalah, melainkan ringan karena beban ketidakpastian telah terangkat. Walaupun tidak berhasil menemui Dinda untuk minta maaf secara langsung, setidaknya kini ia tahu jika mantan istrinya itu aman dalam perlindungan Zayyan, kakak kandungnya. Kenyataan yang menciptakan kelegaan mendalam di sanubarinya.
Sebelum Dirga benar-benar pergi, Zayyan kembali menemui sang sahabat untuk memastikan komitmen duda tampan tersebut. Zayyan berpesan dengan nada yang lebih lembut, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sahabat yang kini berbagi tanggung jawab akan kedamaian hidup Dinda.
"Dengar, Ga! Hidup harus terus berjalan, Ga. Kita semua sudah mendapat jatah sakit kita masing-masing. Mari kita sama-sama melanjutkan hidup, meski tak bersama." Zayyan menekankan.
"Berilah Dinda waktu untuk membangun kehidupannya yang baru, menemukan kedamaian yang layak ia dapatkan. Dan Lo sendiri, berilah diri Lo waktu untuk sembuh," ucap Zayyan, kembali mengulangi nasihatnya agar Dirga fokus pada dirinya. "Selesaikan dulu semua urusan batinmu. Itu yang terpenting."
Dirga mengalah dengan anggukan kepala. Ia tahu Zayyan benar. Dirga menghargai kejujuran Zayyan. Ia sudah kenal Zayyan sejak kuliah. Walau mulutnya kadang suka asbun, namun bagi Dirga Zayyan adalah sosok yang bisa menempatkan diri dengan baik, dan yang kini, tanpa diminta, telah menjadi perantara antara ia dan Dinda.
Setibanya di Jakarta, Dirga segera menemui Bunda di rumah. Bunda, yang melihat penampilan anak laki-lakinya yang tampak mengenaskan, muka pucat, mata bengkak, dan pakaian yang kurang terurus langsung memeluknya erat. Menanyakan apa gerangan yang telah terjadi hingga anak laki-lakinya yang penuh pesona itu tampak amburadul.
Dengan air mata yang tak lagi bisa ia tahan, ia menceritakan tentang penemuan yang tak terduga. Tentang pertemuan tak sengaja dengan Dinda dan Zayyan, menceritakan tentang makam Hanif, penyesalannya karena tak ada di samping Dinda saat wanita yang ia cintai sedang dalam keadaan sulit, hingga fakta bahwa Dinda adalah putri dari Pak Hasan serta penolakan Zayyan akan permohonannya untuk bertemu kembali dengan Dinda.
Bunda yang Dirga ceritakan tentang penemuan Dinda dan fakta jika dia adalah anak dari Pak Hasan, tentu saja terkejut. Kejadian demi kejadian dalam hidup putranya terasa seperti drama yang penuh dengan plot twist yang tak terduga. Air mata Bunda menetes mendengar penderitaan yang harus dilalui Dinda dan kehilangan cucunya. Ia menyesal tidak bisa menjaga menantunya lebih baik.
Namun, sebagai seorang ibu yang bijaksana, ia membenarkan apa yang Zayyan pinta pada Dirga, membiarkan Dinda pulih dari kesakitannya adalah cara untuk membuktikan berapa berharga seorang wanita bernama Adinda Sabila di hidupnya.
"Zayyan benar, Ga. Dinda sudah terlalu banyak terluka," bisik Bunda. "Bunda mendukung penuh keputusan Zayyan untuk melindungi Dinda."
Sebagai seorang kakak yang ingin melindungi adiknya, permohonan Zayyan meminta Dirga agar tidak lagi mengganggu Dinda menurut Bunda sudah benar.
"Beri dia ruang, Nak. Beri dia waktu untuk menemukan kedamaiannya sendiri."
Hari itu Dirga kembali menangis di pelukan Bunda. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Kesakitan saat kehilangan Dinda ternyata jauh lebih sakit dari pada saat ia kehilangan Ralin karena lebih memilih pria lain ketimbang dirinya.
Kejadian besar dalam hidupnya kali ini membuat Dirga merasa semakin dekat dengan sang pemilik takdir. Ia tidak lagi mencari solusi di dunia fana. Ia mencari perlindungan dan pengampunan pada satu-satunya Zat yang tak pernah meninggalkannya sampai kapan pun.
Setiap malam, rintihan penyesalannya di atas sajadah tak pernah absen. Dirga membenamkan diri dalam salat malam. Ia memohon ampun atas kesombongan dan keraguan yang telah merenggut nyawa Hanif kecil. Ia berdoa dan meminta di sepertiga malam, berharap kesedihan ini menjadi penebus dosa masa lalunya.
Bunda sebagai saksi perubahan Dirga yang signifikan merasa bahagia dan sedih di waktu yang bersamaan. Bahagia karena Dirga kini jauh lebih tenang dan sedih saat mendengar rintihannya yang penuh nestapa saat kadang tanpa sengaja Bunda melewati kamarnya di sepertiga malam.
Selain itu sebuah rutinitas baru terbentuk, yang menjadi bentuk penyesalan Dirga akan kebodohannya di masa lalu. Kini setiap weekend, ia akan meluangkan waktu untuk pergi ke Bandung, mengunjungi makam anak kesayangannya dengan waktu yang berbeda dengan Dinda. Ia tidak pernah melanggar janji pada Zayyan. Ia akan membawa bunga, membacakan doa, dan berbicara pada Hanif, menceritakan penyesalannya dan meminta maaf karena cintanya yang datang terlambat untuk sang buah hati.
Di sana, di samping nisan yang dingin, Dirga menemukan sedikit kedamaian dalam perannya sebagai seorang ayah.
Tak lupa, ia mulai ikut pengajian yang disarankan Zayyan dan hal itu sedikit banyak membuat hatinya semakin tenang dan hidupnya seakan terarah. Dirga tidak lagi mencari Dinda dalam wujud fisik, melainkan mencari kekuatan spiritual untuk menghadapi kenyataan bahwa ia kini adalah seorang ayah yang gagal, seorang suami yang kejam, dan seorang pria yang harus membayar mahal harga sebuah ketidakpercayaannua pada mantan istrinya itu.
Dirga kini menjalani hidupnya dalam ketenangan walau kadang terasa menyakitkan. ditemani oleh doa dan penyesalan, menunggu takdir apakah suatu hari nanti ia layak untuk mendapatkan pengampunan dari wanita yang kini dilindungi oleh sahabat sekaligus kakak kandungnya.
Ia tahu, perjalanannya masih panjang. Tetapi kini, ia yakin telah berjalan di jalan yang benar.
🍒🍒🍒
Semangat, Aga! Terima kasih sudah mau berubah.
Salam sayang untuk kalian semua
Martapura, 20 Desember 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
Literatura FemininaKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
