67. Extra Part: Canggung

256 22 1
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca

Happy Reading

🍒🍒🍒

Dirga menyadari betul bahwa meski Dinda sudah memberikan lampu hijau untuk kembali, jejak trauma di hati istrinya tidak bisa terhapus hanya dalam hitungan hari. Kecanggungan yang terpancar dari gerak-gerik Dinda yang ia perhatikan seperti tangan yang meremas ujung jilbab, atau mata yang tidak berani menatapnya lama bagi Dirga adalah sinyal untuk menahan diri.

Ia tidak ingin Dinda merasa tertekan di malam pertamanya kembalikembali di rumah ini

Setelah selesai membersihkan diri, Dirga keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Ia melihat Dinda sedang berdiri kaku di depan jendela, seolah bingung harus melakukan apa.

"Din," panggil Dirga lembut.

Dinda menoleh sedikit tersentak. "Ya, Mas?"

Dirga berjalan menuju kasur, untuk mengambil bantal.
"Malam ini Mas tidur di sofa ruang tengah ya," ujar Dirga tenang.

Dinda membelalakkan matanya, merasa tidak enak hati. "Lho, kenapa Mas? Ini kan kamar Mas juga. Aku, aku tidak apa-apa kalau Mas mau tidur di sini. Aku tidak mau Mas sakit karena tidur di sofa."

Dirga tersenyum tipis, langkahnya terhenti di ambang pintu kamar. Ia menatap Dinda dengan tatapan yang sangat menghargai.

"Mas tahu kamu masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan suasana rumah ini, Din. Mas tidak mau kehadiran Mas di sampingmu malam ini malah membuatmu tidak bisa tidur nyenyak karena canggung," jelas Dirga.
Ia melangkah mendekat sebentar,   mengelus lembut pundak Dinda.
"Anggap saja ini masa transisi. Mas ingin kamu merasa bahwa rumah ini adalah tempat yang paling aman bagimu, tanpa ada paksaan apa pun dari Mas. Tidurlah yang nyenyak, kunci pintunya kalau itu membuatmu merasa lebih tenang."

"Tapi, Mas..." Dinda merasa hatinya tersentuh oleh kepekaan Dirga yang luar biasa. Pria ini benar-benar menjaga perasaannya hingga ke detail terkecil.

"Sudah, tidak apa-apa. Lagian mas mau nonton bola. Sofanya cukup empuk kok," canda Dirga untuk mencairkan suasana.
"Selamat malam, Dinda. Istirahatlah."

Dirga menutup pintu kamar dengan perlahan, meninggalkan Dinda dalam keheningan yang kini terasa jauh lebih damai.

Di ruang tengah, Dirga merebahkan tubuhnya di sofa. Kakinya memang sedikit menjuntai karena sofa itu tidak sepanjang ranjang mereka, namun hatinya terasa sangat lapang. Baginya, kenyamanan Dinda adalah segalanya. Ia tidak keberatan tidur di sofa berhari-hari pun, asalkan ia tahu bahwa saat Dinda terbangun besok pagi, wanita itu tidak lagi merasa ketakutan atau merasa asing di rumah sendiri.

Sementara di dalam kamar, Dinda memeluk bantalnya erat. Ia menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah, haru, dan cinta yang mulai kembali tumbuh bergejolak di dadanya.

"Terima kasih, Mas... terima kasih sudah sesabar ini," bisik Dinda pada terdengar jelas di keheningan malam.

Malam itu, meski raga mereka terpisah oleh dinding kamar, jiwa mereka terasa jauh lebih dekat dari sebelumnya. Dirga dengan pengorbanannya, dan Dinda dengan rasa syukurnya yang kian dalam.

🍒🍒🍒

Malam semakin larut, namun mata Dinda tidak bisa terpejam. Pikirannya terus melayang pada sosok pria yang rela menekuk tubuhnya di sofa ruang tengah demi memberinya ruang bernapas.

Dengan langkah sangat pelan, nyaris tanpa suara, Dinda membuka pintu kamar. Ia berjalan mendekat ke arah sofa. Di sana, ia melihat Dirga tertidur dengan posisi yang tampak kurang nyaman. Kakinya sedikit menggantung ditemani satu bantal tanpa selimut.

"Mas...kenapa baik sekali sih?" bisik Dinda sangat lirih.

Ia mengambil selimut tebal yang dibawanya dari kamar, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia membentangkan kain hangat itu ke tubuh suaminya. Ia memastikan setiap sudut kaki Dirga tertutup agar tidak kedinginan oleh hembusan AC.

Setelah menyelimutinya, Dinda tidak langsung pergi. Ia justru berlutut di samping sofa, menopang dagunya sambil memperhatikan wajah suaminya yang diterpa cahaya lampu remang dari sudut ruangan.

Dinda menyusuri setiap garis di wajah Dirga dengan jemari lentiknya. Alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, hingga rahangnya yang kokoh. Dalam hati ia mengakui, ketampanan Dirga tidak pernah berkurang sedikit pun, justru saat ini terlihat lebih matang dan teduh. Ada rasa hangat yang aneh di dadanya. Rasa rindu yang akhirnya menemukan pelabuhan.

Terbawa oleh suasana yang begitu hening, Dinda memberanikan diri. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kening Dirga dengan sangat lembut dan lama. Sebuah kecupan yang penuh dengan doa dan rasa terima kasih.
"Selamat tidur, Mas Dirga sayang," bisiknya pelan sebelum berdiri dan bergegas kembali masuk ke kamar dengan jantung yang berdegup kencang.

Dinda tidak pernah tahu, bahwa sesaat setelah pintu kamar tertutup rapat, sudut bibir pria yang dikiranya sedang bermimpi itu perlahan terangkat.
Dirga sebenarnya sudah terbangun sejak mendengar langkah kaki Dinda keluar dari kamar. Ia sengaja tetap memejamkan mata, berpura-pura tidur agar Dinda tidak merasa malu. Namun, ia tidak menyangka Dinda akan melakukan hal semanis itu.

Dirga membuka matanya, tangannya meraba bekas kecupan Dinda di dahinya yang masih terasa hangat. Ia menarik selimut yang diberikan Dinda sampai ke hidung, menghirup aroma sabun yang tertinggal di sana sambil tersenyum lebar sendirian di kegelapan.
"Dapet kecupan maut, mana bisa tidur kalau begini?" batin Dirga kegirangan. Rasa pegal di punggungnya akibat sofa yang sempit seolah hilang seketika, berganti dengan perasaan terbang ke awan.

Tepat pukul 02.30, keheningan malam dipecahkan oleh getar alarm dari ponsel Dirga. Ia terjaga dan perlahan bangkit dari sofa. Pria itu berusaha menghalau kantuk dengan basuhan air wudhu yang menyegarkan jiwa dan pikiranya. Ia melangkah kw dalam mushala kecil yang terletak di samping ruang tengah. Di atas sajadah yang terbentang Dirga hanyut dalam Qiyamul Lail yang kini menjadi rutinitasnya yang rasanya kurang jika tidak dikerjakan.

Dalam sujud yang panjang, ia berbisik penuh syukur kepada Sang Pencipta karena telah mengembalikan belahan jiwanya ke rumah ini lagi. Sebuah janji pada Allah ia swmatkan dalam do'a. Ia akan menjaga istrinya dengan seluruh napas, hingga kelak mereka melangkah bersama memasuki pintu surga.

Usai bersimpuh, Dirga kembali merebahkan diri di atas sofa yang sempit. Namun, sofa itu tak lagi terasa keras. Kehangatan kecupan Dinda di keningnya beberapa jam lalu seolah masih tertinggal di sana, membekas manis hingga relung hati.
Dirga tersenyum sendirian, wajahnya memerah layaknya remaja yang baru mengenal cinta. Ia memejamkan mata, mencoba menjemput kembali mimpi indahnya.

Namun kedamaian itu hanya bertahan sekejap.

"TIDAK! JANGAN SENTUH AKU!

"PERGI KALIAN!"

"TOLONGGGG...!!! TOLONGGG.... "

Teriakan histeris Dinda menyambar indra pendengaran Dirga di dini hari yang sunyi ini. Itu bukan sekadar teriakan, itu adalah jeritan yang terdengar penuh ketakutan.

Tanpa pikir panjang, ia melompat dari sofa dan berlari secepat kilat, menerjang masuk ke dalam kamar utama.

🍒🍒🍒

Aku kebanyakan ngetik. Jadi aku bagi 2 aja ya.

Terimakasih sudah membersamai aku sampai part ini

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 6 Januari 2026

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang