Biasakan memberi vote sebelum membaca!
Terimakasih
🍒🍒🍒
Satu minggu berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan di koridor rumah sakit. Doa-doa yang dipanjatkan di akhir sholat fardhu dan di sepertiga malam akhirnya terjawab. Dirga berhasil melewati masa kritis pasca-operasi besar, dan perlahan namun pasti, grafik kesehatannya mulai menunjukkan kestabilan.
Pagi itu, kabar yang dinanti pun tiba. Dirga sudah siuman.
Mendengar kabar tersebut dari balik pintu ruang ICU, Dinda yang duduk di samping Bunda berkali-kali mengucap tahmid. Sebuah kelegaan yang luar biasa besar membanjiri relung hatinya. Air mata syukur menetes deras, ia benar-benar merasa lega karena pria yang pernah menghancurkannya itu kini selamat. Setidaknya, Dinda tidak perlu memikul beban rasa bersalah seumur hidup sebagai penyebab hilangnya nyawa seseorang.
Setelah memastikan kondisi Dirga stabil dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa, Dinda memutuskan untuk mengambil langkah mundur. Tubuhnya butuh istirahat, dan batinnya butuh ruang untuk bernapas setelah seminggu penuh mengabaikan dirinya sendiri demi menemani Bunda.
"Bun, Dinda pamit pulang dulu, ya," ujar Dinda lembut sambil menggenggam tangan Bunda.
Bunda membalas genggaman itu dengan penuh kasih, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, ya Sayang. Kamu sudah menjadi kekuatan luar biasa bagi Bunda selama seminggu ini."
Dinda sadar ia harus tetap menjaga jarak. Pengorbanan Dirga memang telah meruntuhkan dinding kebenciannya, namun untuk bertemu dan bertatap muka ia merasa belum siap.
Saat pertama kali kelopak mata Dirga yang berat itu terbuka, hal pertama yang ia rasakan bukanlah rasa sakit di kakinya atau denyut perih di kepalanya yang diperban. Dunia di sekitarnya tampak buram, putih, dan beraroma obat yang tajam. Namun, satu bayangan yang terekam jelas di ingatannya adalah tubuh Dinda yang terpental saat tabrakan itu terjadi.
"Din... Dinda..."
Suara itu nyaris tidak terdengar, lebih mirip bisikan yang tercekik.
Zayyan yang sedang berjaga di samping ranjang langsung menegakkan duduknya. "Aga, lo udah sadar?" Zayyan mendekat, wajahnya tampak lega sekaligus cemas.
Dirga tidak mempedulikan rasa haus yang membakar tenggorokannya. Tangannya yang dipasang infus bergerak lemah, berusaha menggapai lengan Zayyan. Matanya mencari-cari ke seluruh penjuru ruangan yang asing itu.
"Bang Zayyan... Dinda... Dinda di mana? Dia... dia nggak kenapa-napa kan? Apa dia terluka?" tanya Dirga dengan napas yang memburu, membuat mesin pendeteksi jantung di sampingnya berbunyi lebih cepat.
"Ga, lo tenang dulu. Jangan banyak gerak," cegah Zayyan panik.
"Jawab, Bang! Dinda... Dinda selamat, kan? Dia nggak luka parah karena aku telat dorong dia, kan?" Dirga mulai terisak, melupakan bahwa sekujur tubuhnya sendiri sedang dipenuhi jahitan dan pen penyangga tulang.
Zayyan memegang bahu Dirga, mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang didera ketakutan luar biasa. "Dinda selamat, Ga. Dia sehat. Dia nggak luka sedikit pun. Waktu lo dorong dia, dia jatuh ke rumput, bukan ke aspal. Lo yang kena paling parah, Ga. Lo yang hampir lewat!"
Mendengar penjelasan Zayyan yang mengatakan jika Dinda selamat dan tak kurang satu apapun, ketegangan di tubuh Dirga perlahan luruh. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air mata lolos dari sudut matanya dan membasahi perban di pelipisnya. Isak tangisnya kini terdengar lebih lega, meski tubuhnya terasa sangat lemas.
"Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih..." bisik Dirga berulang kali.
"Lo itu bener-bener ya," gumam Zayyan sambil menyeka sudut matanya sendiri.
"Bangun-bangun yang ditanya orang lain. Lo tahu nggak? Operasi lo berjalan enam jam. Kepala lo pendarahan. Tapi yang lo pikirin cuma Dinda?"
Dirga tersenyum tipis di balik masker oksigen yang masih menempel sebagian di wajahnya. Tatapannya kosong ke langit-langit kamar rawat, namun penuh kedamaian.
"Nyawa gue nggak ada harganya kalau Dinda yang celaka karena gue, Bang," ucap Dirga parau. "Kalau dia selamat... biar aku aja yang sakit. Biar aku aja yang nanggung semuanya."
Zayyan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketulusan yang begitu murni dari sosok Dirga. Pria di depannya ini bukan lagi pria egois yang dulu menyia-nyiakan Dinda, melainkan seorang pria yang telah menyerahkan nyawanya sebagai penebusan dosa.
"Dinda ada di sini selama lo kritis, Ga. Dia nungguin lo bareng Bunda," kata Zayyan kemudian.
Dirga menoleh cepat, matanya kembali berbinar. "Dia di sini? Dia... dia nggak pergi?"
"Dia nunggu sampai lo dipastikan lewat masa kritis. Sekarang dia lagi pulang buat istirahat, tapi dia yang nyiapin semua kebutuhan lo lewat Bunda," bohong Zayyan sedikit, agar semangat hidup Dirga kembali pulih.
Dirga kembali memejamkan mata, kali ini dengan gurat senyum di wajahnya yang pucat. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seolah berubah menjadi tawar. Mengetahui Dinda selamat dan sempat menunggunya adalah obat paling mujarab yang pernah ia terima seumur hidupnya.
Meski fisiknya tak lagi tampak di kamar rawat, kehadiran Dinda tetap terasa nyata. Ia memilih cara lain untuk menunjukkan kepeduliannya. Setiap pagi, dapur rumah yang Dinda tempati bersama Zayyan kembali mengepulkan aroma hangat. Ia memasak bubur untuk sarapan dan menyiapkan menu-menu yang selama masa pernikahan mereka dulu menjadi makanan kesukaan Dirga.
Setiap hari, Zayyan menjadi kurir setia yang membawa bekal-bekal tersebut. Mulai dari gurihnya Bubur Ayam Banjar dengan bumbu rempah yang khas, hingga Sup Iga yang dagingnya begitu lembut, menu yang selalu membuat Dirga makan dengan lahap di masa lalu.
Di kamar rawat, Dirga menikmati bubur yang bunda siapkan padanya dengan gerakan perlahan. Setiap kunyahan membawa memorinya terbang kembali ke masa-masa indah yang pernah mereka miliki. Aroma kayu manis dan rempah yang familier itu tak mungkin salah.
"Bubur ini... Dinda yang buat, Bang?" tanya Dirga, suaranya masih serak dan lemah namun binar matanya penuh semangat hidup.
Zayyan yang sedang merapikan buah di atas meja tersenyum tipis. "Siapa lagi yang tahu resep rahasia ini? Dia bilang, orang sakit harus makan masakan yang paling disukainya supaya semangat sembuh."
Hati Dirga terasa hangat, seolah ada cahaya kecil yang menyala di tengah kegelapan penyesalannya. Masakan-masakan itu adalah isyarat. Sebuah tanda bahwa Dinda tidak lagi membencinya dengan beringas, meskipun pintu maaf itu belum sepenuhnya terbuka.
Setiap suapan terasa seperti janji yang tak terucapkan. Sebuah pertanda bahwa pintu maaf yang selama ini terkunci rapat, kini perlahan mulai terbuka kuncinya, meski ia masih harus menunggu di balik pintu itu. Dirga tahu, kini tugasnya bukan hanya untuk pulih secara fisik, melainkan untuk membuktikan bahwa ia benar-benar layak menerima pengampunan yang kini terasa kian dekat untuk ia raih.
🍒🍒🍒
Salam sayang untuk kalian semua
Martapura, 23 Desember 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
Chick-LitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
