60. Desakan Zayyan

207 24 7
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca.

Thank you

🍒🍒🍒

Kehidupan Dinda di Bandung, di tengah rutinitas pengajian dan kegiatan sosialnya, memang telah membuatnya kembali bersinar. Kecantikannya yang anggun dan kepribadiannya yang santun tak pelak menarik perhatian banyak ikhwan.

Zayyan sendiri mulai gerah melihat banyak pria yang mencari perhatian adiknya. Baik di pengajian, di kegiatan sosial, maupun melalui media sosial. Zayyan semakin sering menerima pesan masuk dari rekan-rekannya yang menanyakan kontak Dinda, atau bahkan menanyakan makanan atau bunga kesukaan wanita mempesona itu

Ia tahu adiknya cantik, anggun, dan berhati malaikat, namun bagi Zayyan tak seperti itu cara menarik hatinya.
Ia lebih menghargai kejantanan dan keberanian.

"Datangi secara gentle walinya dan minta baik-baik. Bukan dengan cara mengirim bunga dan hadiah layaknya seorang fans kepada idolanya," gerutu Zayyan seringkali.

Karena sudah tak tahan dengan fans Dinda yang berjibun, Zayyan akhirnya meminta Dinda untuk segera menikah agar tidak terjadi fitnah dan fans fanatik itu berhenti mengejar.
Sebagai seorang abang, Zayyan merasa bertanggung jawab penuh atas adiknya, dan situasi ini mulai mengganggu ketenangan mereka.

Suatu sore, saat mereka duduk di teras sambil menikmati teh, Zayyan membahasnya lagi.

"Dek, Abang serius loh ini. Kamu harus segera menikah," tegas Zayyan.

Dinda mengerucutkan bibirnya. "Kenapa Abang mendadak jadi mak comblang?"

"Bukan mak comblang, tapi Abang sudah gerah dengan antrian hadiah dan bunga-bunga itu. Ini sudah mengganggu, Din. Lagipula..." Zayyan menatap Dinda lekat-lekat.

"Abang harap kamu jangan terikat pada kenangan masa lalu. Kamu harus menata hidup baru dengan orang yang baru juga. Jangan mengharap Dirga, karena ia sudah sibuk dengan dunianya sendiri."

Dirga memang sesekali berkunjung, tetapi kunjungan itu murni untuk Zayyan dan makam Hanif. Dirga tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ingin kembali.

Mendengar nama Dirga disebut, Dinda langsung bereaksi. Dinda merengut dan bilang, suaranya sedikit defensif, "Siapa juga sih yang mengharap dia? Abang jangan sotoy ya!"

"Oh, ya? Kalau begitu, kenapa kamu tidak segera membuka hati untuk pria lain?" tantang Zayyan, ia tahu Dinda sedang menutupi perasaannya.

"Emangnya kenapa?" tanya Dinda, menantang balik.

Zayyan tersenyum tipis. "Abang kan sudah bilang, menikah."

Dinda menghela napas, menyerah pada situasi dan desakan kakaknya, namun ia membalikkan serangan.

"Harusnya Abang dulu yang mencari istri! Aku takut Abang berkarat!" balas Dinda, mencubit lengan Zayyan gemas.

"Jangan cuma sibuk mengurus aku, Abang juga harus bahagia! Nanti aku dibilang adik durhaka yang bikin Abangnya jadi bujangan seumur hidup!"

Zayyan tertawa keras, mengusap lengan yang dicubit Dinda. "Aduh, iya deh. Tapi masalah Abang lebih gampang. Abang nggak punya fans fanatik yang kirim bunga mawar setiap hari."

Dinda menghela napas, menyerah pada situasi dan desakan kakaknya. Ia pun lelah dengan fans fanatik yang ia sendiri tak tau dari mana asalnya.

"Ya sudah, carikan aku calon suami," putus Dinda akhirnya. "Agar pria-pria fanatik yang mengaku fans dan sering mengirim hadiah itu tidak lagi mengganggu hidupku."

Wajah Zayyan seketika cerah. Ia bertepuk tangan sekali.

"Siapppp!" seru Zayyan penuh semangat. "Akan Abang carikan yang terbaik. Yang berani datang ke wali, yang gentle, dan yang pastinya, lebih baik dari yang dulu!"

Keputusan Dinda untuk meminta Zayyan mencarikan calon suami adalah langkah besar. Sebuah penanda bahwa ia benar-benar siap menutup babak lama dan membuka lembaran baru. Zayyan bertekad, ia akan melaksanakan amanah ini dengan serius, demi kebahagiaan sejati adiknya.

🍒🍒🍒

Keputusan Dinda untuk meminta Zayyan mencarikan calon suami bukan tanpa perjuangan batin yang hebat. Di malam hari, setelah salat Isya, Dinda duduk termenung di sajadahnya, melawan gejolak hatinya sendiri.

Dinda sendiri akhirnya meyakinkan diri untuk melangkah lebih maju ke depan dengan kembali membuka hati untuk orang lain. Ia sadar, ketenangan yang ia temukan tidak akan sempurna jika ia terus-menerus hidup dalam penantian atau bayang-bayang masa lalu yang mustahil kembali.

Lalu, bagaimana dengan desiran halus yang selalu ia rasakan setiap kali Dirga datang ke rumah? Desiran yang muncul saat mata mereka bertemu sesaat, desiran yang terasa begitu akrab namun kini dilarang? Derisan yang bersarang di hatinya untuk Dirga.

Bagi Dinda, desiran itu terasa seperti jebakan,bersumber dari sisa-sisa cinta yang belum sepenuhnya mati, tetapi jika dibiarkan, akan menjadi racun bagi masa depannya.

Dinda menganggap mungkin saja desiran itu hanyalah salah satu cara iblis membuat tipu daya untuknya yang harusnya sejak lama ia tepis. Dinda melihat logika ini sebagai senjata terkuatnya. Kenangan yang indah memang manis, tetapi ia harus membedakannya dari harapan yang sia-sia. Alih-alih mendiamkannya dan ujung-ujungnya jadi menciptakan harapan untuk bersama, ia harus tegas.

"Lupakan itu, Dinda!" perintahnya pada dirinya sendiri, seolah berbicara pada anak kecil yang merengek.

"Dia sudah punya hidup yang baru, sibuk dengan pekerjaan pentingnya di Jakarta, sibuk dengan ibadahnya." Dinda meyakinkan dirinya. "Dan mungkin kini juga sedang ingin memulai hidup baru dengan orang baru juga."

Dinda memejamkan mata, membiarkan pemikiran rasionalnya mendominasi. Ini adalah demi kebaikan mereka berdua.

"Mas Dirga berhak hidup bahagia dengan orang lain."

Dinda percaya, jika takdir mereka memang berjodoh, Allah tidak akan membiarkan mereka berpisah sejauh ini. Perpisahan, kehilangan Hanif, dan pengorbanan Dirga, semua itu adalah pelajaran berharga, bukan jaminan reuni.

Kebahagiaan sejati terletak pada penerimaan takdir dan keberanian untuk membuka lembaran baru, dengan Ridha Allah.

Mulai malam itu, Dinda bertekad. Ia akan mendukung Zayyan sepenuhnya dalam misi mencari calon suami. Ia akan membuka hatinya, dan setiap desiran rindu untuk Dirga yang datang, akan ia tepis dengan istighfar, sebagai pengingat bahwa masa depannya ada di depan, bukan di belakang.

🍒🍒🍒

Dindanya udah move on, Ga🥀

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 28 Desember 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang