47. Flashback: 99 ℅

217 22 4
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca!

Happy Reading!

🍒🍒🍒

Di ruang rawat inap yang tenang, Zayyan mendekati sang ayah, Pak Hasan duduk di kursi samping ranjang Dinda yang terlelap pulas setelah minum obat. Pandangan Pak Hasan terpaku pada wajah Dinda yang damai dalam tidur.

​"Ayah," bisik Zayyan, "Apa ada yang mengganggu pikiran ayah? Abang amati Sejak kemarin Ayah sering termenung menatap Dinda," tanya Zayyan yang merasa penasaran sejak beberapa hari yang lalu.

​Pak Hasan kaget mendapati kehadiran Zayyan di sampingnya dengan pertanyaan yang ia sendiri bingung dengan jawabannya. Namun melihat Zayyan yang sudah dewasa ia merasa harus menceritakan keresahan yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini

​"Ayah merasa seakan sudah lama mengenal Dinda, Bang," jawab Pak Hasan pelan, tatapannya tidak lepas dari Dinda. "Aneh sekali. Rasanya seperti... melihat anak sendiri."

​Zayyan tertawa. "Ayah baru pertama bertemu dengannya beberapa hari lalu di pinggir jalan kalau ayah lupa! Ayah pasti kelelahan."

"Bukan itu, Bang," sanggah Pak Hasan.

"Lalu?"

Pak Hasan menghela napas. "Ayah seakan merasa sayang pada wanita malang itu sejak hari pertama kita bertemu. Selain itu, wajah Dinda... mengingatkan Ayah pada ibumu yang kini tak tahu rimbanya."

​Zayyan terdiam, ia tau jika ayah sangat merindukan anak bungsunya yang tak pernah bisa ia temui setelah bercerai.

Zayyan masih ingat saat ia dan ayah mendatangi kediaman saudara ibunya untuk menjemput sang adik, mereka mengatakan jika ibu dan adiknya sudah lama pergi dari rumah. Saat ditanya mereka pergi kemana, mereka hanya menjawab ke luar negri.

​Pak Hasan menutup matanya sejenak.

​"Ayah tak percaya jika ibu membawa adikmu bekerja di luar negri," kata Pak Hasan, matanya basah.

Zayyan mengangguk, ia juga merasa jika keluarga ibunya tersebut seakan menutupi sebuah fakta.

"Hingga saat ini, Ayah tetap berharap akan bertemu lagi dengan putri kecil yang dibawa ibumu pergi bahkan sebelum ayah memberikannya sebuah nama. Sayang saat itu ibumu tak mau sedikit bersabar menemani ayah meniti bisnis yang akhirnya membawa ayah pada titik kesuksesan seperti sekarang.

​Pak Hasan kembali menatap wajah Dinda yang tenang dalam tidurnya. "Dan saat melihat Dinda, Ayah seakan melihat putri kandung Ayah sendiri, Bang."

​Zayyan berpikir sejenak kemudian mengaitkan segala peristiwa yang terjadi di hidup mereka akhir-akhir ini.

Kejadian tak terduga, kemiripan wajah, dan kota... Banjarmasin tempat Dirga mencari mantan istrinya serta tempat di mana sang ibu membawa adik perempuannya. Semuanya seakan mirip potongan puzzle yang kini hampir menyatu sempurna. Satu-satunya cara untuk menyempurnakan potongan puzzle tersebut adalah memastikan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.

"Ayah... Harus kah kita... "

Pak Hasan menatap putranya lalu mengangguk. "Iya, Bang, untuk membunuh rasa penasaran kita, Ayah akan meminta dokter tes DNA."

​Zayyan yang menyadari bahwa ini mungkin adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka lama ayahnya mengangguk dengan cepat.

​"Baik, Yah," Zayyan mengangguk. "Abang akan mengurusnya. Selagi Dinda masih dirawat dan belum sepenuhnya pulih, kita bisa melakukannya dengan mudah."

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang