48. Flasback: Luka Lama

209 22 2
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca

Thank you!

🍒🍒🍒

"Tidak," katanya datar.

"Ini tidak mungkin! Aku tidak mau menerima ini."

"Aku sudah tidak punya ayah!"

Pak Hasan mendekat, mencoba meraih tangan Dinda yang gemetar. "Nak, maafkan Ayah. Ayah tidak pernah tahu jika kamu ada di Jakarta.

Dinda menarik tangannya dengan cepat, seolah sentuhan sang ayah adalah bongkahan bara api yang bisa kembali melukainya. "Kemana saja kalian selama ini? Kenapa tidak mencariku?" tanya Dinda tajam menatap dia orang di depannya.

"Kami sudah mencari kamu, Din. Tapi karena sedikitnya petunjuk tentangmu, kami jadi kesulitan," sahut Zayyan yang menangkap api amarah yang ada di mata Dinda.

"Lalu, kenapa Ayah dan Bang Zayyan tidak mencariku lebih keras lagi?" suara Dinda mulai meninggi, dipenuhi kepedihan yang menusuk.

Ia menatap Ayahnya dengan tatapan terluka.

"Kenapa Ayah dan Abang menyerah begitu saja?" Air mata Dinda akhirnya kembali mengalir, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena amarah yang meledak.

"Aku bertahan hidup sendirian sejak ibu pergi ke Luar negri, Ayah! Aku kabur ke Jakarta karena tau paman dan bibi akan menjualku untuk melunasi hutang mereka. Ayah tau Kenapa aku memilih kabur ke Jakarta?" Dinda menyeka kasar air matanya dengan punggung tangan.

"Aku memilih Jakarta karena berharap bisa bertemu dengan Ayah dan Abang yang selama ini hanya bisa aku lihat melalui selembar foto."

Tangis Dinda terdengar menyayat hati, membuat terenyuh hati siapapun yang mendengarnya. Kegagalan demi kegagalan dalam pencarian ayah dan Abangnya membuatnya seakan sadar jika mungkin saja mereka tak pernah mau ditemukan.

"Dan sekarang, setelah aku kehilangan segalanya, setelah aku diceraikan karena masa lalu yang Ayah tinggalkan, kalian datang dan dengan entengnya meminta maaf." Dinda memalingkan wajahnya, menolak pandangan kedua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya.

"Aku sudah hancur dan rasanya percuma punya keluarga yang baru datang setelah aku hancur."

Zayyan menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit. Ia tak menyangka penemuan puzzle terakhir yang memberikan penjelasan terang benderang itu bukannya membawa kelegaan, justru membuka luka lama yang membuat Dinda semakin terluka.

Zayyan mengerti, jika adik kandungnya itu belum siap menerima kenyataan bahwa ayah dan kakak yang selama ini ia rindukan adalah orang-orang yang terlambat datang menyelamatkannya dari kejamnya dunia.

🍒🍒🍒

Setelah luapan emosi Dinda yang terdengar pilu dan menyakitkan, suasana di kamar VIP rumah sakit itu menjadi hening. Dinda yang kelelahan mengeluarkan seluruh emosi yang ia pendam kini termenung diam dengan jejak air mata yang masih mengalir di kedua pipinya.

Sejak tadi Pak Hasan dan Zayyan tidak mencoba membela diri. Mereka membiarkan Dinda meluapkan semua amarah dan kesakitan yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun. Mereka tahu, kemarahan Dinda adalah bentuk kekecewaannya pada orang-orang terdekatnya yang tak pernah ada saat ia membutuhkan.

"Kamu benar, Nak," katanya, suaranya parau dan penuh penyesalan. "Ayah memang bodoh. Ayah membiarkan rasa sakit dan penyesalan masa lalu membutakan Ayah. Ayah tidak mencari tahu lebih keras, dan Ayah minta maaf," Ucap Pak Hasan lirih dengan mata yang memerah menahan tangis.

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang