64. Konspirasi Langit

223 23 3
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca.

Thank You!

🍒🍒🍒

Suasana ruang makan malam itu terasa begitu hangat, berpadu dengan aroma teh melati yang mengepul dari cangkir porselen di atas meja.

Ayah dan Zayyan duduk santai, sesekali jemari mereka menggeser layar tablet yang menampilkan foto-foto momen sakral akad nikah siang tadi. Senyum puas tak lepas dari wajah keduanya.

"Nggak nyangka ya, Yah," tawa Zayyan membahana, memecah kesunyian malam. "Dari puluhan amplop yang masuk, lalu kita kerucutkan jadi dua kandidat yang diseleksi super ketat, ternyata Dirga juga pemenangnya. Tahu gitu dari kemarin nggak usah repot-repot kita sortir panjang lebar!"

Ayah terkekeh pelan, menyesap tehnya dengan saksama. "Iya, Ayah juga sebenarnya tidak tahu kalau Dirga itu salah satu murid sahabat Ayah, Ustadz Malik. Waktu Ayah minta beliau mencarikan jodoh terbaik untuk adik bungsumu, Ayah cuma bilang cari pria yang sudah 'selesai' dengan dirinya sendiri. Dan saat beliau datang memberikan amplop berisi biodata Dirga, Ayah sempat tertegun."
Ayah meletakkan cangkirnya, pandangannya menerawang jauh ke depan.

"Sebenarnya sebelum menemui Ustadz Malik, jauh di lubuk hati, Ayah masih berharap Dinda mau kembali pada Dirga. Selain karena Dirga sudah Ayah anggap seperti anak sendiri, Ayah butuh sosok setegas dia untuk melanjutkan estafet kepemimpinan di kantor. Dirga punya kemampuan itu."

Beliau menghela napas lega. "Namun melihat hubungan mereka yang tidak ada kemajuan Ayah akhirnya menemui sahabat Ayah diJakarta. Ayah tak mau memaksa. Ayah tahu luka Dinda dulu sedalam apa. Itu hidup Dinda, dia berhak memutuskan dengan siapa ia ingin menua. Makanya, Ayah cuma bisa titipkan doa lewat Ustadz Malik."

Zayyan kembali tertawa kecil sambil menggelengkan kepala takjub. "Aku juga takjub sih dengan cara Allah mengatur skenario-Nya, Yah. Mulai dari Ayah yang secara acak minta bantuan Ustadz Malik, lalu muncul nama Dirga di tumpukan biodata itu, hingga Dinda sendiri yang memilih."

Zayyan menjeda kalimatnya, mengingat bagaimana adiknya itu bersikeras. "Dinda itu keras kepala. Dia bilang dia mau istikharah dan memilih berdasarkan petunjuk hati, tanpa mau melihat foto atau tahu siapa calon suaminya sampai kata 'sah' terdengar. Dia menyerahkan segalanya pada Allah. Dan lihat hasilnya... ternyata hatinya tetap menunjuk pada pria yang sama."

Ayah mengangguk setuju. "Itu artinya, semuanya memang sudah diatur oleh Allah. Tidak ada konspirasi, tidak ada paksaan. Hanya dua manusia yang sedang diuji jarak, namun ditarik kembali oleh takdir ke dalam satu ikatan."

Zayyan tersenyum menatap foto Dirga yang sedang mencium kening Dinda di layar. "Semoga kali ini, Dirga benar-benar bisa jadi pelabuhan terakhir buat Dinda. Kalau sampai dia bikin nangis lagi, biar aku yang turun tangan sebagai abangnya."

Kejadian ini menunjukkan bahwa sejauh apa pun manusia pergi, jika Allah sudah menuliskan "kembali", maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk menyatukannya.

Tawa Ayah meledak melihat ekspresi Zayyan yang berubah seketika. Suasana ruang makan yang tadinya penuh haru biru, mendadak berubah menjadi panggung sandiwara komedi.

Ayah meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Zayyan dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. "Tugas kamu menjaga adikmu sudah selesai dengan nilai sempurna."

Ayah mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya, memberikan penekanan pada setiap kata. "Sekarang, tugas utamamu adalah menyeret salah satu wanita untuk kamu jadikan istri ke depan Ayah. Ayah nggak mau tahu, tahun depan harus ada penghuni baru di rumah ini."

Zayyan mendadak pucat. Senyum penuh kemenangan yang tadi ia tunjukkan saat membahas Dirga, kini luntur tak bersisa. Ia menelan ludah dengan susah payah, merasa seolah ada batu besar yang baru saja menimpa pundaknya.

"Yah... tapi kan proyek di Bandung lagi padat-padatnya," Zayyan mencoba mencari alasan, suaranya mendadak cicit.

"Nggak ada alasan proyek!" potong Ayah cepat. "Dirga saja yang sibuknya minta ampun bisa mengusahakannya. Masa kamu tidak? Apa perlu Ayah minta tolong Ustadz Malik lagi buat kasih kamu amplop cokelat?"

Zayyan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aduh, Yah... Permintaan ini jauh lebih susah daripada menyortir puluhan kandidat calon suami Dinda!"

Ia membayangkan betapa rumitnya harus mencari wanita yang bisa menerimanya tanpa melihat statusnya sebagai eksekutif muda yang bergelimangan harta. Menyeleksi orang lain memang mudah, tapi ketika diri sendiri yang harus masuk ke "medan tempur", Zayyan merasa lututnya lemas.

"Kalau sampai bulan depan nggak ada nama yang kamu sebut, Ayah sendiri yang akan pilihkan dari daftar anak teman-teman Ayah," ancam Ayah sambil berdiri, meninggalkan Zayyan yang masih mematung lemas di kursi.

Zayyan menatap sisa teh melati di depannya dengan pandangan kosong. "Sialan si Dirga," gerutunya pelan. "Dia yang enak-enakan di kamar pengantin, malah aku yang kena getahnya sekarang."

🍒🍒🍒

Ada yang punya rekomendasi jodoh buat Bang Zayyan nggak?

Salam sayang untuk kalian semua

Jangan lupa mampir di lapak Alina dan Zaidan ya! Aku udah post part terbaru di sana😉

Jangan lupa mampir di lapak Alina dan Zaidan ya! Aku udah post part terbaru di sana😉

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Martapura, 1 Januari 2026

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang