27. Happy Birthday

376 33 6
                                        

Jangan lupa vote sebelum membaca!

Happy reading!

🍀🍀🍀

Menjilat ludah sendiri! Sepertinya adalah pribahasa yang sangat cocok jika dikaitkan dengan nasib yang menimpa Dirga saat ini. Dia yang dulu dengan percaya diri mengatakan jika sampai kapan pun tak akan pernah membuka hati lagi untuk urusan asmara nyatanya harus mengakui jika pesona Dinda sukses merobohkan prinsip tersebut.

Dia benar-benar jatuh cinta!

Sayang, karena ucapannya yang dulu selalu mengatakan jika Dinda bukanlah tipe wanita idealnya, membuat gadis itu sampai saat ini belum percaya dengan ungkapan cinta yang Dirga katakan. Gadis itu lebih memilih abai seakan-akan apa yang keluar dari bibir pria berlesung pipi itu hanya sekedar hembusan angin lalu yang tak perlu diingat apalagi dijawab.

Dinda yang sejak awal sudah diperingatkan Dirga untuk tidak masuk dalam kehidupannya mencoba sadar diri untuk tidak terbawa perasaan. Ia selalu dan selalu mengingatkan diri untuk tidak terpesona pada sosok Dirga yang jelas sekali berada di kasta berbeda walaupun detak jantungnya berkata sebaliknya.

"Mas... Memang ini ada acara apa?" tanya Dinda keheranan saat malam ini Dirga menggenggam tangannya menuju sebuah meja yang berada di bagian outdoor dari resto yang mereka kunjungi.

Tadi sore gadis itu terheran-heran ketika baru saja sampai ke rumah, seorang driver ojol ramah datang mengantarkan paket dari Dirga yang berisi gamis cantik lengkap dengan kerudung warna senada untuknya. Dalam kotak yang membungkus gamis itu terdapat secarik kertas berisi pesan dari sang suami.

Pakai gamis dan kerudungnya! Satu jam lagi saya jemput.

Mas Dirga💜

Walau benaknya dipenuhi dengan tanya, pada akhirnya ia tak ingin membuat Rapper yang belakangan ini sering bikin hati repot itu kecewa. Dinda memilih mengikuti permintaan tersebut dengan bergegas mandi dan berganti pakaian.

"Merayakan ulang tahun kamu," jawab Dirga menunjuk sebuah kue ulang tahun bertuliskan nama Dinda di sebuah meja yang sudah ia pesan beberapa hari sebelumnya.

"S-saya ulang tahun?" tanya Dinda yang justru menciptakan keheranan di wajah Suaminya.

"Iya! Apa kamu lupa?" tanya Dirga mengernyit bingung karena baru kali ini mendapati seseorang yang tidak mengingat dengan baik hari bersejarah dalam hidupnya itu.

Dinda dengan cepat mencari KTP yang selalu ia simpan dalam tasnya. Beberapa detik kemudian gadis itu menutup mulut karena baru sadar jika hari ini memang benar adalah hari kelahiranya.

"Iya ternyata. Saya benar-benar lupa." Dinda terdengar menertawakan dirinya sendiri akan sifat pelupa yang dideritanya.

Dirga menarik sebuah kursi untuk Dinda duduki. Setelah yakin istrinya duduk dengan nyaman, pria itu lalu kemudian menarik kursi lain untuk dirinya sendiri.

"Kamu ini aneh, Din! Masa sama ulang tahun sendiri lupa." Dirga geleng-geleng tak habis pikir.

"Seumur hidup saya tidak pernah merayakan yang namanya ulang tahun, Mas," jawab Dinda terkekeh namun justru membuat Dirga terdiam tak mampu berkata. "Bagi saya tak ada yang spesial dari hari itu kecuali angka umur yang bertambah sedangkan waktu hidup saya di dunia semakin berkurang."

"Jadi ini yang pertama?" tanya Dirga mendadak prihatin menatap gadis yang malam ini sangat cantik dengan gamis yang dikenakannya.

Dinda mengangguk dengan senyum mengembang. "Terimakasih ya, Mas sudah repot-repot mempersiapkan semuanya," ucap Dinda dengan mata sedikit berkaca.

Dulu waktu masih sekolah dasar, impian terbesar Dinda adalah ingin merayakan ulang tahun bersama ibu. Gadis kecil itu tak berharap saat pulang sekolah rumahnya dihiasi dengan dekorasi indah khas ulang tahun pada umumnya. Kue dengan lilin angka di atasnya, balon yang beraneka warna serta kado dari keluarganya. Ia hanya ingin saat hari lahirnya tiba, ibu mengingatnya.

Sayangnya impian tersebut tidak pernah terwujud. Ibu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga membuat Dinda kecil selalu merasa kesepian.

Kini bagaimana ia tidak terharu saat impian masa kecilnya itu justru diwujudkan oleh pria yang sekarang menjadi suaminya.

"Kamu suka?"

Dinda kembali mengangguk membenarkan. "Jika nanti kita tak bersama lagi, Mas Dirga akan selalu saya ingat sebagai orang pertama yang memberikan kejutan ulang tahun," ucap Dinda dengan mata berbinar namun justru membuat Dirga mendadak cemas.

Dirga meraih tangan Dinda lalu menggenggamnya erat. "Din, tolong jangan bicarakan soal perpisahan di saat saya baru saja memulai perjuangan," pintanya. Diam-diam pria itu bersyukur Dinda tidak menarik jari-jemari dari genggamannya.

Dinda menghembuskan nafas berat. Semakin ia meminta Dirga untuk tidak jatuh terlalu dalam pada pernikahan settingan mereka, pria itu justru semakin kuat berusaha agar Dinda luluh.

Dia tidak main-main, 'kan?

"Mas Dirga belum mengenal saya dengan baik, "elak Dinda lagi.

"Seiringnya kebersamaan kita, saya akan mengenalmu lebih baik," sahut Dirga.

"Apa Mas lupa jika kasta kita berbeda?"

"Persetan dengan kasta. Bukankah setiap manusia sama kedudukannya di mata Allah. Kecuali iman dan takwanya," sanggah Dirga dengan membawa nama Tuhan yang membuat Dinda harus kembali terdiam.

Dinda akhirnya tak bisa berbuat banyak ketika usahanya untuk menyadarkan Dirga jika mereka tak sekufu tak pernah membuahkan hasil. Dia bahkan tak dapat berdusta ketika panah-panah asmara yang yang Dirga lesatkan tepat di hatinya akhir-akhir ini membuat Dinda seakan terbang ke langit ke tujuh.

Bolehkah jika ia mencoba membuka hati?

Awalnya Dinda mengira jika berubahnya rasa benci menjadi cinta itu hanya ada di dalam sebuah drama. Namun pemikiran tersebut sirna kala ia sendiri mengalami hal tersebut. Masih jelas dalam jejak ingatannya ketika awal pernikahan bagaimana mereka berdua sering beradu urat leher, membenci satu sama lain karena harus terjebak dalam pernikahan yang sama sekali tidak mereka inginkan.

Mungkin mereka lupa jika ada Allah yang Maha membolak-balikkan hati hamba-hambaNya. Dalam waktu sekejap rasa benci yang ada di hati masing-masing kini berubah menjadi cinta. Pada akhirnya tak ada yang dapat mereka lakukan selain hanya bisa berjalan di titian takdir yang Allah ciptakan.

Bukankah takdir yang Allah ciptakan adalah jalan hidup terbaik untuk hamba-hambaNya?

Melihat binar antusias yang terlihat jelas dari kedua mata Dinda yang indah saat memberikan potongan kue pertama pada suaminya, entah kenapa Dirga justru tiba-tiba teringat dengan Ralin sang mantan kekasih.

Kedua wanita itu jelas dua orang berbeda dan memiliki watak yang tak sama. Saat ulang tahun Ralin akan ngambek ketika tau Dirga datang tanpa sebuket besar mawar merah dan hadiah berupa barang branded yang disukainya.

Sebagai anak pemilik perusahaan, sejak kecil mantan kekasihnya itu memang sudah terbiasa hidup dikelilingi kemewahan. Kemudahan demi kemudahan dalam menjalani hidup kerap ia dapatkan berkat materi yang berlimpah. Hal tersebut membuatnya abai terhadap rasa syukur dan sering kali kesal saat apa yang ia inginkan tidak didapatkan.

Berbeda dengan mantan kekasihnya, Dinda yang menjadi istrinya saat ini adalah sosok yang tidak banyak menuntut. Mudah sekali membuat hati gadis itu bahagia hanya dengan hal-hal yang menurut Dirga sangat sederhana.

Bukan bermaksud untuk membandingkan dua wanita yang sukses merebut hatinya tersebut. Hanya saja saat bersama Dinda, Dirga merasa mendapatkan pemahaman baru untuk banyak-banyak bersyukur dengan apa yang Allah berikan padanya sampai saat ini. Karena di luar sana, masih banyak orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung dirinya.

☘️☘️☘️

Sampai jumpa😍

Martapura, 15 April 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang