39. Torehan Luka di Hari Bahagia

320 21 3
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca

Happy reading

🍒🍒🍒

Dirga berdiri menatap air terjun buatan yang megah, ikon dari Jewel Changi Airport. Wajahnya menunjukkan gurat kekecewaan. Sebenarnya ia sudah membayangkan rencana sempurna: membawa Dinda, sang istri, pelesiran ke negeri singa ini.

​Ia membayangkan bergandengan tangan menelusuri Orchard Road dan menggoda Dinda untuk membeli barang-barang mewah yang selama ini belum pernah dimilikinya. Mereka akan naik Singapore Flyer, bianglala raksasa yang menyajikan keindahan Marina Bay dan sekitarnya yang menakjubkan dari atas ketinggian. Lalu, mereka akan menikmati sunset di Gardens by the Bay, berlatar pohon-pohon raksasa buatan. Dirga yakin Dinda akan menatap takjub saat siluet Super Tree berpadu cantik dengan langit jingga yang perlahan meredup.

Jika tak lelah, ia akan menahan Dinda duduk di sana sembari menunggu pertunjukan Garden Rhapsody yang menampilkan seni dan musik ikonik.

Sayang sekali, jadwal Dirga kali ini sangat padat. Perjalanan bisnis mendadak membuatnya tak dapat mengajak Dinda turut serta.

​Lamunannya buyar saat suara tajam seorang wanita yang sangat dikenalinya terdengar.

"Kamu terlalu bucin, Ga!"
​Dirga menoleh. Ralin berdiri di sampingnya.

"Memangnya nggak boleh ya bucin sama seseorang yang sudah halal untuk kita?" tanya Dirga, nadanya datar.

​"Ya, nggak salah sih. Tapi, at least kalau mau bucin, sama orang yang selevel," balas Ralin, suaranya mengandung nada merendahkan dan itu membuat Dirga kembali gerah.

​"Kamu masih sama, Ra. Selalu menempatkan materi di atas segalanya," sindir Dirga geleng-geleng.

​"Aku cuma nggak mau kamu salah memilih," tukas Ralin, mencoba terdengar peduli.

​Dirga tersenyum sinis. "Tak perlu mengurusi aku dan pernikahanku. Urus saja pernikahanmu dan Dafa yang sedang menunggu waktu itu."

Ralin mengabaikan peringatan itu. Matanya menatap Dirga penuh ambisi. "Kamu harus tahu siapa Dinda sebenarnya, Ga."

​"Memang Dinda siapa? Bidadari yang jatuh dari langit? Atau apa?" Dirga mulai lelah dengan permainan Ralin.

​"Dia wanita murahan yang hanya ingin mengeruk harta para pria berduit."

​Dirga mengerutkan dahi. "Kamu halu?"

​Ralin hanya tersenyum tipis, seolah menghina Dirga dengan segala kebodohannya. Tangan lentiknya dengan lincah membuka dokumen yang tersimpan rapi di iPad miliknya.

​"Alamat email kamu masih sama, kan?"
​Dirga mengangguk pelan.

​"Aku sudah kirim semua bukti semurahan apa istrimu itu via email. Setelah ini, kamu akan berterima kasih padaku karena sudah memberikan bukti yang terang benderang."
Ralin kembali tersenyum penuh kemenangan sebelum melangkah pergi, meninggalkan Dirga yang masih kebingungan mencerna kalimat terakhirnya.

​Tidak butuh waktu lama. Sebuah notifikasi bahwa email dari Ralin telah masuk langsung muncul di ponsel Dirga. Pria yang kini siap bertolak kembali ke Indonesia itu segera membuka laptopnya.

​Ia mematung cukup lama, menatap tajam foto-foto yang memenuhi layar. Foto-foto Dinda dengan pakaian minim di tempat remang-remang.

​"Aku tidak salah lihat, kan?" batinnya, rasa terkejut dan marah mulai menyerbu.

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang