62. Amplop Coklat

186 19 0
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca!

Terimakasih

🍒🍒🍒

Langit senja mulai berganti gelap, menyisakan kerlip lampu kota Bandung yang indah. Di kamar yang hangat, Dinda baru saja menyelesaikan ayat terakhir Surah Al-Mulk yang ia baca selepas salat Magrib. Hatinya terasa damai, sebuah ketenangan yang hanya bisa ditemukan setelah beribadah. Usai menutup lembaran mushaf, ia bangkit perlahan untuk menutup tirai jendela kamarnya yang masih terbuka.
Bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu kamarnya terdengar, disusul dengan suara Bang Zayyan yang memanggil namanya.

"Masuk!"

Senyum manis Zayyan nampak ketika pintu itu terbuka. "Kamu sibuk?" tanya pria penuh pesona tersebut.

Dinda menggeleng. "Kenapa, Bang?"

"Abang mau bicara," jawab Zayyan, yang kini ikut berdiri di depan jendela, menatap pemandangan malam Bandung yang memamerkan kerlipan cahaya bagai bintang yang jatuh ke bumi.

"Boleh," angguk Dinda, tersenyum.

"Sesuai permintaan kamu," Zayyan mengulurkan dua amplop berwarna cokelat muda pada Dinda. Amplop itu terasa tebal dan penting di tangan kakaknya.

"Ini apa?" tanya Dinda, keningnya berkerut bingung. Ia tidak menyangka Zayyan secepat ini bertindak.

"Biodata dan foto calon suami kamu."
Dinda memegang kedua amplop itu, terkejut. Tangannya sedikit gemetar.

"Hah? Secepat itu?"

"Lebih cepat lebih baik. Abang capek sama kelakuan fans gilamu itu, " canda Zayyan.

Dinda tertawa miris. "Jadi janda susah juga ya, ternyata."

"Risiko orang cantik," sahut Bang Zayyan, mengacak puncak kepala adiknya lembut.

"Abang, ih!" protes Dinda kesal, tetapi ia tak bisa menahan senyum.

Zayyan kembali serius. "Dua orang yang mengajukan diri ini sudah Ayah dan Abang survey, Din. Mereka sudah melalui proses seleksi yang ketat dari Abang dan Ayah. Memang keduanya masih dalam proses belajar dan hijrah, tapi insyaallah mereka sudah mampu untuk menikah, baik secara agama maupun finansial."

"Abang sudah bilang kalau aku pernah menikah?" tanya Dinda hati-hati. Statusnya adalah hal pertama yang harus diketahui calon suaminya.

"Tentu. Dan mereka tidak keberatan sama sekali dengan statusmu saat ini."
Dinda menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru membanjirinya.

"Kenapa bukan Abang dan Ayah saja yang memilihkan untukku? Siapa pun pilihan kalian insyaallah aku ridho."

"Kami sudah selesai menyeleksi beberapa orang, Din. Dan dua orang ini adalah kandidat terbaik yang Ayah restui," jelas Zayyan. "Kami sudah melakukan tugas wali. Lagipula, sebagai seorang wanita, kamu punya hak untuk memilih. Kami ingin kamu yakin. Ini hidupmu, Dek."

Dinda mengangguk. Rasa terima kasihnya tak terhingga. "Makasih ya, Bang!" ucap Dinda tulus, memeluk pinggang Zayyan. Zayyan membalasnya dengan menepuk-nepuk punggung adiknya lembut.

"Iya, sama-sama! Sekarang tugas kamu untuk menentukan salah satu dari amplop tersebut," ujar Zayyan.

"Baik, Dinda akan istikharah secepatnya," jawab Dinda.

"Anak pintar!"

Dinda melepaskan pelukan dan menatap Zayyan dengan tatapan penuh perhatian. "Sebelum mencarikan aku suami, Abang harusnya cari istri."

"Abang harus memastikan kamu bahagia terlebih dahulu sebelum Abang mencari pendamping hidup," jawab Zayyan.

Ia tahu, permintaan itu terdengar klise, namun itu adalah janji suci batinnya. Ia sejatinya merasa bersalah karena sebelumnya tidak pernah ada di samping sang adik di waktu-waktu sulitnya. Ia bahkan tak dapat membayangkan betapa susahnya seorang Dinda kecil saat tak memiliki orang yang menjadi tempat bersandar. Jadi, sebagai kakak laki-laki yang baik, ia bersumpah akan mendahulukan kebahagiaan adiknya daripada kebahagiaan dirinya sendiri.

Sepeninggal Zayyan, Dinda menatap dua amplop yang ada di tangannya. Hatinya ragu untuk membuka keduanya. Saat mengiyakan tawaran Zayyan untuk kembali membuka hati, sebenarnya Dinda sudah memutuskan untuk menerima siapa pun sosok pria yang dipilihkan oleh Ayah dan saudara laki-lakinya tersebut. Karena ia yakin mereka akan selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Namun, ini adalah takdir yang harus ia pilih sendiri.

Dengan bergetar, ia meletakkan kedua amplop itu di atas meja, siap memulai ritual istikharah untuk menentukan takdir barunya. Ia memohon petunjuk, bukan berdasarkan rasa suka, tetapi berdasarkan ketenangan jiwa.

Setelah salat Istikharah selama dua malam, Dinda akhirnya menemukan ketenangan. Gejolak di hatinya mereda. Dengan hati yang mantap, ia mengulurkan tangan dan mengambil salah satu dari dua amplop di atas meja.

Ia tidak merasakan gejolak cinta, tidak ada rasa penasaran yang menggebu, hanya sebuah keyakinan yang dingin—keyakinan yang jauh lebih kuat daripada perasaan fana.
Dinda memegang amplop yang tersegel itu. Ia sama sekali tak ingin membukanya.

🍒🍒🍒

4 Bab tersisa menuju ending

Terima kasih banyak yang masih setia menunggu

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 30 Desember 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang