Biasakan memberi vote sebelum membaca.
Happy reading
🍒🍒🍒
Suasana kamar pengantin itu mendadak hening, hanya menyisakan deru napas keduanya yang tidak beraturan. Dinda masih mematung di tepi ranjang, menatap Dirga dengan pandangan yang sulit diartikan, antara tidak percaya, takut, dan penuh tanda tanya.
Dirga perlahan duduk di lantai, bersimpuh di hadapan Dinda. Ia tidak mencoba menyentuh istrinya, memberikan ruang yang dibutuhkan Dinda untuk merasa aman.
"Mas bisa kamu jelaskan bagaimana bisa pernikahan ini terjadi? Apakah ini konspirasi antara kamu, Abang dan Ayah?" tanya Dinda yang masih kebingungan. Dalam pikirannya, mereka bekerja sama agar Dinda dan Dirga kembali bersatu. Tapi kalau memang begitu, untuk apa Abang Zayyan pura-pura menyeleksi calon suaminya? Niat sekali mereka!
"Din, apa yang kamu tuduhkan itu tidak benar. Jika memang ini konspirasi, aku akan menyebut ini sebagai konspirasi langit."
"Maksudnya?" Bukannya mengerti, Dinda justru semakin merasa bingung.
Dengan nada suara yang sangat rendah dan tenang, Dirga mulai berkisah tentang kejadian satu bulan yang lalu.
Setelah mendapat tawaran dari Ustadz Malik, satu minggu kemudian Dirga kembali menemui sang guru.
"Ustadz... apakah pria penuh cela seperti saya masih layak mengharap pendamping yang baik?" tanya Dirga saat itu, suaranya nyaris hilang ditelan angin sore.
Ustadz Malik tersenyum teduh. "Pintu tobat itu seluas langit dan bumi, Dirga. Dan jodoh adalah rahasia yang paling indah. Ambillah, pelajari, dan tanyakan pada Pemilik Hati." Sang Ustadz menyodorkan sebuah amplop berisi biodata dari akhwat yang satu minggu lalu beliau ceritakan.
"Dia anak sahabat saya. Beberapa minggu yang lalu beliau datang, berniat mencarikan pendamping untuk putri bungsunya. Siapa tahu ada ikhwan yang cocok. Entah kenapa, hati saya langsung tertuju padamu saat beliau bercerita."
Dirga menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Bacalah dulu informasinya. Jika hatimu tidak bergetar, katakan saja. Mungkin memang belum jodoh," pungkas Ustadz dengan ketenangan yang menghanyutkan.
"Ya Allah, jika Engkau izinkan aku memulai kembali, pilihlah dia yang bisa membimbingku dan kucintai karena-Mu. Tapi jika Engkau ingin aku sendiri, aku ridha."
Malam itu, dunia seolah berhenti berputar bagi Dirga. Selepas melaksanakan salat malam yang panjang, ia duduk di atas sajadahnya, menatap amplop cokelat yang tergeletak di atas nakas. Dengan bismillah yang bergetar di bibir, ia merobek amplop tersebut lalu menarik selembar kertas dari dalamnya.
Sret...
Manik mata Dirga terpaku pada foto di sudut kanan atas. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana, wajah wanita yang namanya tak pernah absen dari doanya, terpampang nyata.
Biodata: Adinda Sabila Hasan
"Dinda?" bisiknya dengan suara pecah. Air matanya seketika tumpah, membasahi kertas yang kini ia dekap erat di dada.
Ia terisak dalam sujud syukurnya, tidak menyangka bahwa dari ribuan wanita, Allah menuntunnya kembali pada sosok yang pernah ia lukai. Ia merasa sangat kecil, menyadari bahwa meski ia telah berusaha menjauh karena rasa malu, Allah justru mendekatkannya dengan cara yang paling tak terduga.
Ia merasa tak pantas, namun di saat yang sama, ia merasa Tuhan sedang memberinya kesempatan kedua.
Keesokan harinya, Dirga kembali menemui Ustadz Malik. Namun kali ini, ia datang dengan kerendahan hati yang luar biasa. Ia tidak datang sebagai seorang eksekutif muda yang berkuasa, melainkan sebagai hamba yang sedang mengemis takdir.
"Bagaimana, Dirga? Apakah hatimu bergetar?" tanya Ustadz Malik yang dijawab Dirga dengan anggukan malu.
"Alhamdulillah. Tapi apa kamu tidak keberatan jika ikut tahap seleksi? Soalnya yang antri banyak, Ga," ujar Ustadz Malik dengan nada serius. "Ada dokter, ada dosen, bahkan ada pengusaha muda yang rekam jejaknya sangat bersih. Sahabat saya dan anak laki-lakinya sangat selektif. Mereka mencari yang terbaik untuk anak bungsunya."
Mendengar kata "antreannya banyak", jantung Dirga seolah diremas. Ada ketakutan luar biasa bahwa ia akan kehilangan Dinda untuk kedua kalinya karena masa lalunya yang kelam.
"Ustadz..." Dirga menunduk dalam, menyerahkan map biodatanya dengan kedua tangan yang bergetar. "Saya tahu, jika dibandingkan dengan mereka yang 'bersih', saya tidak ada apa-apanya. Saya adalah pria yang pernah gagal menjaga permata paling berharga."
Dirga menjeda kalimatnya, matanya berkaca-kaca. "Tapi sampaikan pada Ayah dan Abangnya... bahwa di antara semua pria yang antre itu, mungkin saya adalah pria yang paling merasa berdosa dan paling tahu betapa berharganya gadis itu. Jika pria lain ingin memilikinya untuk bahagia, saya ingin memilikinya untuk menebus setiap tetes air mata yang pernah jatuh karena saya. Saya pasrah, Ustadz. Jika memang ada yang lebih baik daripada saya, saya akan mundur dengan ridha. Saya hanya ingin akhwat itu bahagia, meski mungkin bukan dengan saya."
Kalimat itu keluar dari lubuk hati Dirga yang paling dalam. Sebuah kepasrahan total. Ia menyerahkan biodata itu bukan untuk menang, tapi untuk menunjukkan bahwa ia telah kembali ke jalan pulang.
Dirga menatap Dinda yang kini sudah terisak pelan. "Jadi, Din... saat Abangmu menelepon dan mengatakan bahwa setelah istikharah panjang, kamu memilihku di antara puluhan pria lain, aku langsung sujud syukur di kantor. Aku tidak pernah merasa seberuntung ini sepanjang hidupku."
Dirga mengusap air mata di pipi Dinda. "Ini bukan konspirasi kami, tapi konspirasi langit yang ingin kita kembali bersatu. Aku datang bukan untuk menjadi suamimu yang dulu, tapi sebagai Dirga yang baru, yang hatinya sudah kuserahkan sepenuhnya pada Allah, dan cintanya kuserahkan padamu."
Dirga menatap Dinda dengan penuh pengharapan, matanya berkaca-kaca mencerminkan ketulusan yang murni. "Aku tidak memaksamu untuk menerimaku malam ini. Aku tahu lukamu mungkin belum sepenuhnya pulih. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku di sini bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk membangun masa depan yang diridai-Nya. Aku di sini karena kasih sayang Allah yang luar biasa pada kita."
Dinda terisak, tangannya yang gemetar perlahan terulur menyentuh bahu Dirga yang masih bersimpuh. Di kamar itu, tembok kecurigaan akhirnya runtuh, digantikan oleh keajaiban takdir yang baru saja mereka sadari keindahannya.
🍒🍒🍒
Gimana? Udah pada lega nggak karena happy ending?
Martapura, 3 Januari 2026
Jangan lupa mampir di lapak Zaidan dan Alina ya❤

KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
ChickLitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
