Biasakan memberi vote sebelum membaca
Happy reading
🍒🍒🍒
Kini di ruang tamu Bunda hanya bisa menangis sambil memeluk kertas hasil USG seolah ia sedang memeluk sang menantu. Air matanya tak berhenti mengalir, membasahi hijab yang dipakainya.
"Kamu kejam, Aga," Suara bunda terdengar parau.
"Kalaupun kamu nggak percaya kalau itu darah dagingmu. Bunda yang akan maju membuktikannya. Bunda akan buktikan kalau Dinda adalah wanita yang menjaga kesuciannya hingga detik ini."
Dirga hanya bisa diam, duduk di lantai, bersandar di sofa tempat Bunda menangis. Ia menerima setiap kata makian itu. Ia tahu kali ini sang ibu benar.
"Dinda itu anak baik,Nak," lanjut Bunda dengan nada yang lebih keras agar Dirga mendengar jelas. "Dia berjuang sendiri untuk hidup, dan kamu? Kamu malah menuduhnya wanita murahan."
Bunda menatap Dirga dengan mata bengkak dan merah. Tatapannya tajam penuh dengan aroma kekecewaan.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Bunda bagaikan cambuk yang melecut hati kecil Dirga. Ia telah gagal sebagai suami. Ia telah gagal melindungi istrinya. Ia telah gagal sebagai ayah, bahkan sebelum ia sempat menyandang gelar tersebut.
Dirga akui ia telah masuk dalam perangkap Ralin yang kini tampaknya tengah merayakan keberhasilannya tersebut.
"Kamu bilang dia juga meninggalkan semua pemberianmu kan. Itu karena dia tidak menginginkan hartamu, Ga. Dia hanya menginginkan kepercayaan dan cintamu. Dan kamu, kamu dengan tega menceraikannya."
Dirga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa bersalah itu menusuk hingga ke tulang. Ia tahu tangisan bunda hari ini seperti cerminan dari rasa sakit yang jauh lebih besar yang kini Dinda rasakan di suatu tempat.
"Maafkan Dirga, Bun," ucapnya lirih, penuh penyesalan.
"Maaf? Kamu bilang maaf? Setelah menghancurkan hidup seseorang, kamu hanya bisa meminta maaf? Pecundang!"
Dirga terdiam.
"Bunda nggat butuh maaf darimu, Aga!"
"Bun.... "
"Buktikan kalau kamu pria sejati, Ga! Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat anak dan istrimu menderita."
Dirga mengangguk cepat, "Aga akan mencari Dinda, Bun. Aga harus temukan dia."
Bunda mengangguk pelan, menyeka air matanya. Meskipun marah, ia tahu sekarang bukan waktunya untuk berdebat panjang. Hal itu sama saja akan memperkeruh keadaan. Satu hal yang ia syukuri tentang anaknya adalah, dia menyesali perbuatannya dan akan bertanggung jawab dengan mencari keberadaan sosok yang kini tak bisa lagi dihubungi.
"Temukan dia segera, Ga. Bunda nggak mau Dinda berjuang sendirian lagi."
🍒🍒🍒
Dirga dan Bunda bergerak cepat. Atas saran Bunda, tempat pertama yang mereka datangi adalah panti asuhan tempat Dinda dulu tinggal. Satu-satunya tempat yang nyaman bagi Dinda saat ini pastinya berada di sana.
Sayangnya saat sampai panti, ibu Justru terkejut dengan kabar perceraian Dinda dan Dirga.
"Jadi ibu tidak tau dimana menantu saya berada?"suara Bunda terdengar cemas.
"Saya benar-benar tidak tau, Bu. Terakhir dia datang kemari ketika Mas Dirga dinas ke Singapura."
Mereka pulang dengan perasaan kecewa. Semangat yang awalnya membara kini seakan redup mendapati kenyataan jika Dinda tidak ada di panti tempat ia pernah tinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
Chick-LitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
