54. Harapan Dinda

199 24 6
                                        

Biasakan memeberi vote sebelum membaca!

Terimakasih

🍒🍒🍒

Kekacauan di lokasi tabrakan itu menyisakan bau anyir di atas aspal dan sisa sirene ambulans yang memekakkan telinga. Dirga dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam keadaan tidak sadarkan diri. Zayyan, dengan tangan yang masih gemetar dan kemeja yang ternoda darah sahabatnya, terus mendampingi di dalam ambulans.

Di belakang mereka, Dinda menyusul dengan sisa tenaga yang ada membawa mobil Zayyan menuju rumah sakit. Pikirannya kacau balau karena terjebak di antara pusaran rasa bersalah, amarah yang memudar, dan trauma yang kembali menganga.

Di lorong Instalasi Gawat Darurat (IGD), suasana terasa begitu mencekam. Detak jarum jam terdengar seperti lonceng kematian yang dibawa oleh malaikat Izrail. Zayyan terus mondar-mandir, berusaha mengatur napas sambil menghubungi Bunda di Jakarta dengan suara yang bergetar.

Setelah beberapa jam yang terasa seperti satu abad, dokter keluar dengan wajah tegang. "Pasien dalam kondisi kritis. Ada pendarahan hebat di kepala dan cedera pada tulang kaki. Kami harus melakukan operasi segera hari ini."

Dinda, yang selama ini membangun benteng hati sekeras baja, perlahan merasakan pertahanannya runtuh. Melihat bagaimana darah Dirga membasahi aspal demi melindungi tubuhnya, rasa benci itu mendadak surut, berganti menjadi ketakutan yang mencekam. Ia menyadari satu hal, Dirga tidak hanya meminta maaf dengan kata-kata, tapi dia baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Tiga jam kemudian, Bunda tiba di Bandung bersama Pak Hasan. Bunda berlari menyusuri koridor rumah sakit dan langsung menghambur ke pelukan Zayyan. Isak tangis Bunda pecah saat mendengar kondisi putra semata wayangnya yang berada di antara hidup dan mati.

Lalu, mata Bunda tertuju pada Dinda. Melihat wajah mantan menantunya yang pucat dengan mata sembab yang menyedihkan, Bunda tidak menaruh benci sedikit pun. Bunda mendekat, merangkul Dinda dengan kehangatan seorang ibu yang juga sedang terluka.

"Sayang... Menantu Bunda..." isak Bunda tertahan di ceruk leher Dinda. "Terima kasih sudah bertahan di sini. Tolong, jangan tinggalkan Bunda ya, Din. Temani Bunda di sini."

Dinda tidak mampu beranjak. Rasa tanggung jawab atas nyawa Dirga kini mengikatnya lebih kuat dari rasa sakit hati mana pun. Mereka duduk berdampingan di bangku tunggu yang dingin, saling menggenggam tangan seolah sedang menyalurkan kekuatan satu sama lain. Zayyan datang membawakan teh hangat, berusaha memberi sedikit ketenangan di tengah badai.

"Dinda," bisik Bunda perlahan, menatap kosong ke arah pintu ruang operasi. "Bunda tahu luka yang dibuat Dirga teramat dalam. Tapi Bunda ingin kamu tahu satu hal... Selama 6 bulan ini, Dirga hidup seperti mayat yang berjalan. Dia mencari ampunanmu di setiap embusan napasnya."

Bunda bercerita dengan suara yang bergetar. Tentang bagaimana Dirga nyaris gila mencari keberadaan Dinda hingga ke Banjarmasin. Tentang Dirga yang memilih kembali tinggal di rumah lama mereka yang penuh kenangan hanya demi menghirup sisa wangi Dinda yang tertinggal di sudut ruangan.

"Dia sering memeluk guling kesayanganmu hanya agar bisa tidur barang sekejap, Nak. Dia berubah total. Dirga tidak pernah lagi absen salat malam, memohon pada Allah agar kamu diberi kebahagiaan, meski tanpa dirinya. Dan setiap akhir pekan, dia selalu ke Bandung untuk mengunjungi makam Hanif, bersembunyi di jam yang berbeda agar tidak melanggar janjinya pada Zayyan untuk tidak menampakkan diri di depanmu."

Dinda mendengarkan setiap kata dengan air mata yang mengalir deras. Ia tahu Dirga adalah penyebab luka yang nyaris mematikannya, namun ia juga baru menyadari bahwa pria yang sedang berjuang di bawah lampu operasi itu adalah pria yang pernah menjadi dunianya. Pria yang kini menjadi perisai hidup baginya.

"Dirga benar-benar mencintaimu, Nak. Dia pernah bodoh, dia pernah buta oleh ego, tapi cintanya padamu tidak pernah padam," ucap Bunda lirih.

Dinda tidak sanggup lagi menahan beban di dadanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Bunda, membiarkan tangisnya pecah sejadi-jadinya. Air mata penyesalan, ketakutan, dan rasa kehilangan menyatu dalam diam. Di ruang tunggu yang sunyi itu, kebencian Dinda pada Dirga perlahan menguap, terbang bersama doa-doa yang mulai ia bisikkan dalam hati.

Hiduplah, Mas...! Agar aku bisa memberimu pengampunan yang selama ini kamu cari.

Hari itu, Dinda tidak lagi menunggu seorang mantan suami yang ia benci, melainkan menunggu seorang pria yang ia harapkan kembali untuk memperbaiki sejarah mereka yang sempat hancur.

🍒🍒🍒

Beberapa jam kemudian, operasi Dirga selesai, dan ia dipindahkan ke ruang ICU. Zayyan berhasil memaksa Dinda dan Bundanya untuk beristirahat sebentar di ruang rawat inap.

Di ruangan yang sepi itu, Zayyan mendekati Dinda yang duduk di samping jendela.

Zayyan menarik napas. "Din," panggilnya lembut.

Dinda menoleh, matanya masih merah karena menangis. "Kenapa, Bang?"

"Aku minta maaf padamu karena memberikan informasi pada Dirga," ucap Zayyan, suaranya tulus. Ia tahu ia telah melanggar kepercayaan Dinda, dan ia harus menjelaskan.

"Aku tahu kamu marah dan kecewa, Dek. Tapi, dengarkan dulu. Aku melakukan itu karena aku menjadi saksi bagaimana hancurnya sahabatku mendapati kenyataan yang ada. Aku melihat dia benar-benar berada di titik terendah. Dia merasa dirinya pembunuh, Din."

Zayyan duduk di samping Dinda.
"Dirga adalah ayah Hanif. Dia berhak berduka di atas pusara anaknya," jelas Zayyan.

Dinda menunduk, air matanya jatuh membasahi jemarinya.

Zayyan menghapus air mata di jemari adiknya lalu meraih tangan adiknya. " aku tidak pernah berniat mengkhianatimu. Aku mencoba menyeimbangkan kebutuhanmu untuk sembuh dan kebutuhan Dirga untuk tau keberadaan anaknya." Zayyan melanjutkan, menegaskan bahwa ia tidak sepenuhnya melanggar janji.

"Dengar, Dek. Aku tak pernah ingkar janji, Aku tidak memberitahunya alamat rumahmu atau bahkan nomor teleponmu. Aku hanya mengatakan makam Hanif dengan syarat Dirga tidak menampakkan diri di depanmu."

Zayyan memandang Dinda dengan tatapan meyakinkan. "Kamu hanya memintaku tidak memberitahu Dirga tentang kamu. Itu berbeda, Din."

"Aku mempertaruhkan persahabatanku demi melindungi dirimu dari pertemuannya. Aku menyuruhnya datang di pagi hari agar kalian tak bertemu. Aku tidak pernah ingin kau terluka lagi, Dek. Aku hanya ingin Dirga mengerti, dan pergi dengan damai."

Air mata Dinda kembali mengalir. Ia menyadari kebenaran ucapan Zayyan. Zayyan tidak sepenuhnya berbohong. Ia hanya ingin menempatkan dirinya sebagai seorang sahabat yang baik serta sebagai seorang kakak yang tak akan membiarkan adik yang disayanginya terluka lagi.

"Aku minta maaf, Dek. Tapi sekarang kau lihat? Dia menyelamatkanmu. Dia membayar dosanya dengan darahnya sendiri. Tolong, jangan sia-siakan pengorbanannya. Setidaknya, berikan dia kesempatan untuk meminta maaf, Din."Zayyan mengusap lembut pucuk kepala Dinda berusaha memberi pemahaman agar Dinda tidak selamanya terjebak dalam rasa benci.

Dinda memeluk Zayyan, menumpahkan segala rasa takutnya. Ia tahu, di balik semua ini, Zayyan hanya ingin yang terbaik untuk mereka berdua.

"Abang, maafkan aku yang terlalu egois," ucap Dinda diantara isak tangisnya.

Zayyan menepuk-nepuk lembut bahu adiknya yang berguncang."It's okay, Sayang!"

🍒🍒🍒

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 22 Desember 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang