69. Bucin Era

363 24 1
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca

Happy Reading

🍒🍒🍒

Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram setelah fajar menyingsing, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. Dinda masih mengenakan mukena putihnya, sementara Dirga masih bersarung. Mereka duduk berhadapan di atas sajadah yang menjadi saksi bisu kembalinya jiwa mereka yang sempat hilang.

Dirga memajukan posisinya, jemarinya yang hangat naik menyentuh dagu Dinda. Ia mengusap lembut bibir merah ranum istrinya yang sedikit gemetar. Tatapan Dirga begitu dalam, ada gejolak rindu yang sangat dahsyat di sana, namun ia mencoba menahannya agar tidak menakuti Dinda yang baru saja kembali di hidupnya.

"Sayang... May I?" tanya Dirga dengan suara yang sangat rendah dan serak, sebuah permintaan izin yang penuh nada penghormatan namun tersirat keinginan yang sudah lama ia tahan.

Dinda bisa merasakan deru napas Dirga yang hangat menerpa wajahnya. Ia melihat ketulusan yang luar biasa di mata pria di depannya. Tidak ada lagi rasa takut, yang ada hanyalah rasa ingin dimiliki sepenuhnya oleh imamnya ini.

Dinda tidak menjawab dengan lisan. Ia mengangguk dan perlahan menutup matanya. Dirga tersenyum kemudian dengan lembut dan perlahan memangkas jarak yang tersisa di antara mereka.

"Mas cinta kamu, Dinda. Lebih dari nyawa Mas sendiri," bisik Dirga parau, setelah mereka kembali berjarak.

Dinda membuka mata, menatap Dirga dengan binar yang kembali hidup. "Aku juga, Mas... Jangan pernah biarkan aku jauh lagi."

Setelah momen syahdu di atas sajadah tadi, suasana yang semula penuh haru perlahan mencair. Dirga sepeertinya sudah belajar banyak hal selama mereka berpisah. Salah satunya belajar cara membuat jantung Dinda jungkir balik.

Sambil melipat sajadah, Dirga melirik Dinda yang sedang merapikan mukenanya. Ia mendekat, lalu berdiri tepat di depan istrinya dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sangat khawatir.

"Sayang, sebentar..." Dirga memegang kedua bahu Dinda, menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan teliti.

Dinda yang melihat perubahan raut wajah suaminya jadi ikut panik. "Kenapa, Mas? Ada yang salah?

"Bukan... Mas cuma mau tanya," Dirga merendahkan suaranya, terdengar sangat serius. "Sayang, badan kamu ada yang sakit-sakit nggak?"

Dinda mengerutkan dahi, mencoba merasakan seluruh tubuhnya. "Nggak, emangnya kenapa, Mas?"

Dirga menghela napas panjang, pura-pura lega tapi matanya mulai berkilat nakal. "Bukannya kamu baru saja jatuh?"

Dinda semakin bingung. Ia mengingat-ingat kejadian semalam dan tadi pagi. Ia merasa tidak terpeleset atau jatuh sama sekali. "Hah? Jatuh dari mana? "

Dirga memajukan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia tersenyum miring, senyum andalannya yang selalu berhasil membuat pertahanan Dinda runtuh.
"Bukannya kamu bidadari yang baru saja jatuh dari surga?" bisik Dirga dengan nada serendah mungkin, sangat menggoda.

Dinda tertegun selama dua detik, sebelum akhirnya menyadari kalau ia baru saja diprank dengan gombalan maut suaminya. Pipinya seketika berubah merah padam, lebih merah dari sebelumnya. Ia mencubit pelan pinggang Dirga karena gemas dan malu yang luar biasa.

"Mas Dirgaaaa! Aaaa... apaan sih! Pagi-pagi udah gombal banget!" seru Dinda sambil menutupi wajahnya dengan ujung mukena, mencoba menyembunyikan senyum lebarnya.

Dirga tertawa lepas, ia menarik Dinda ke dalam pelukannya."Habisnya kamu beneran kayak bidadari kalau pakai mukena begini. Mas jadi takut kamu terbang lagi ke atas kalau nggak Mas pegangin erat-erat."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 18 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang