59. Pelepas Penat

215 22 7
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca.

Happy reading

🍒🍒🍒

Pagi itu, langit Jakarta tampak abu-abu, seolah mencerminkan beban berat yang menggelayut di pundak Dirga. Tanpa menunggu waktu lebih lama, ia memacu kendaraannya menuju kediaman Bunda. Dirga tahu benar, berita mengenai penangkapan Daffa akan segera meledak menjadi konsumsi publik. Ia tidak ingin Bunda, wanita yang telah memberikan seluruh kasih sayangnya pada Saudara tirinya sejak kecil, mendengar kabar pahit ini dari mulut orang lain atau melalui judul berita bombastis yang simpang siur di media sosial.

Saat melangkah masuk ke ruang tamu, Dirga tertegun. Ia mendapati Papa tirinya, ayah kandung Daffa juga sedang berada di sana, duduk berdampingan dengan Bunda di sofa panjang.
Kehadiran pria itu membuat suasana mendadak menjadi sangat pekat oleh ketegangan.

Dengan suara yang terjaga namun tegas, Dirga menceritakan kronologi apa yang baru saja terjadi di lobi kantor. Tentang bukti-bukti korupsi yang tak terbantahkan hingga pengkhianatan yang selama ini tersembunyi di balik dinding perusahaan Pak Hasan.

Bunda terduduk lemas. Tangannya gemetar menutup mulut, menahan isak yang hampir pecah. Beliau tak menyangka, anak tiri yang ia asuh dengan ketulusan seorang ibu bisa melakukan tindakan senista itu.

Namun, pemandangan yang paling menyayat hati adalah Papa tiri Dirga. Pria yang biasanya tegap dan penuh wibawa itu tampak hancur. Bahunya merosot, sorot matanya redup, seakan seluruh tenaganya telah dicabut paksa dari tubuhnya.

"Dirga..." suara Papa tirinya bergetar hebat. Beliau menatap Dirga dengan mata yang mulai berkaca-kaca, penuh dengan rasa malu yang teramat dalam. "Papa benar-benar minta maaf. Papa gagal... Papa gagal mendidik Daffa."
Pria itu kemudian berdiri dengan susah payah, menggenggam tangan Dirga dengan erat, seolah mencari pegangan agar tidak jatuh. "Papa berbesar hati jika pihak perusahaan tetap memprosesnya secara hukum. Papa malu, Dirga... Papa sangat malu. Padahal persiapan pernikahan Daffa dan Ralin sudah tinggal sepuluh persen lagi. Undangan sudah siap sebar, katering sudah dipesan, gedung sudah dibayar... tapi ternyata ini yang dia lakukan di belakang kita semua. Ia membangun kebahagiaan di atas kehancuran orang lain."

Bunda mengusap punggung suaminya, mencoba memberi sedikit kekuatan meski hatinya sendiri remuk redam. "Ini bukan salah kamu, Mas. Daffa sudah dewasa, ia yang memilih jalannya sendiri," bisik Bunda lirih.

Dirga menatap pria tua di hadapannya dengan rasa iba yang mendalam. "Papa tidak perlu memohon maaf pada Dirga. Dirga tahu Papa sudah berusaha yang terbaik sebagai orang tua. Tapi keadilan harus tetap tegak, Pa. Bukan hanya soal materi, tapi soal kebenaran yang selama ini mereka tutup-tutupi dengan kebohongan."

Papa tirinya mengangguk lemah, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi yang mulai berkerut. Beliau sadar bahwa melindungi kesalahan Daffa hanya akan menjadi racun bagi masa depan.

Persiapan pernikahan yang mewah, yang tadinya dianggap sebagai puncak kebahagiaan keluarga, kini hanya menjadi tumpukan sampah tak berarti di matanya.

🍒🍒🍒

Beberapa minggu berlalu. Hari-hari Dirga habis tersita oleh proses hukum, audit internal, dan pemeriksaan saksi-saksi untuk membongkar tuntas akar korupsi di kantor pusat. Kelelahan fisik dan mental itu akhirnya mencapai puncaknya saat akhir pekan tiba. Dirga memutuskan untuk meninggalkan kebisingan Jakarta dan memacu kendaraannya menuju Bandung.
Tujuannya hanya satu, mengunjungi makam Hanif, putra kecilnya yang telah mendahuluinya ke surga.

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang