38. Tanda-tanda

251 19 0
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca

Happy reading

🍒🍒🍒

"Pagi sayang!"sapa Dirga yang baru keluar dari kamar dengan baju kerja rapi membalut badan atletisnya. sebuah kecupan di kepala sang istri tak lupa ia berikan seperti hari-hari sebelumnya.

" Pagi!"sahut Dinda yang masih saja terpesona dengan penampilan pria yang kini sudah duduk rapi menghadap meja makan.

"Jangan terlalu ditatap, nanti kamu semakin terpesona," Goda Dirga sambil mengedipkan mata kanannya.

"Kalau memang semakin terpesona emangnya kenapa?" tantang Dinda tidak mau kalah.

"Hmmm... Kalau emang gitu keadaannya, sepertinya aku harus membatalkan meeting penting pagi ini agar istriku bisa sepuasnya memandang wajah suaminya yang mempesona ini."

"Aduhhh... " Dirga mengaduh saat perut ratanya dicubit keras oleh sang istri.

"Sok ganteng, "sungut Dinda sambil menyodorkan segelas kopi susu pada sang suami.

Dirga tertawa kemudian menyesap perlahan kopi susu yang selalu menjadi minuman favoritnya di pagi hari. Aroma kafein yang menyatu dengan gurihnya susu tak pernah gagal membuat semangatnya menyala. Apalagi racikan tangan Dinda seolah membuat rasa dari kopi susu tersebut nikmatnya tertambah berkali-kali lipat.

"Mas selama kamu pergi ke Singapura, aku boleh nggak aku main ke panti?"

Dinda bertanya sambil tangannya sibuk menyajikan nasi goreng yang masih mengepulkan asap pada sang suami.

"Sama siapa? Kalau sendiri mas nggak ijinkan."tanya Dirga. " Nanti aja nunggu mas pulang baru kita nginap di panti,"lanjutnya.

"Kenapa sih kalau sendiri? Aku kan sudah besar, Mas" Wajah yang semula nampak cantik kini berubah menjadi masam.

"Mas takut kamu kenapa-napa sayang," Jawab Dirga sambil menyendok nasi goreng yang tampak menggiurkan di depannya.

Dinda menghela nafas panjang. Ia tidak tau sejak kapan pria yang tengah asyik menikmati sarapannya itu se-over perotektif seperti saat ini. Yang jelas hal tersebut membuat Dinda merasa ruang geraknya menjadi sangat terbatas sekarang.

"Kalau diantar sama Windi boleh nggak?"

"Windi yang mana lagi? Setau mas, teman kamu nggak ada yang namanya Windi." Mata Dirga memicing menatap Dinda penuh selidik.

"Ya Allah, itu loh mas yang kita datang waktu ulang tahunnya di Hotel Grand Nusantara."

" Yang kita ketemu sama cowok sok ganteng tapi bikin kamu susah move on itu?

Dinda mendelik saat Dirga menyinggung sosok Pria yang pernah mampir di hatinya dulu. "Mas Dirga apaan sih?"

Dirga tertawa melihat perubahan wajah sang istri yang sangat menggemaskan.
"Aku masih ingat bagaimana shock-nya wajah teman-teman kamu yang sok old money itu saat aku mengenalkan diri sebagai suamimu.

" Jangankan mereka, Mas. Aku aja masih shock sampai saat ini," sahut Dinda dan membuat tawa Dirga semakin keras.

"Mas Dirga ih, pagi-pagi udah mau ngajak baku hantam aja," decak Dinda kesal.

"Sayang, kadang orang-orang sok kaya seperti mereka itu sekali-kali harus dikasih pelajaran. Kamu mah pasrah aja dibully mereka," ucap Dirga setelah tawa nyaringnya sirna.

"Aku bukannya pasrah, Mas. Cuma malas ngeladenin aja sih. Ngapain buang-buang energi buat orang-orang nggak penting seperti mereka?"

"Eh tapi Dimas-Dimas itu bukannya penting ya buat kamu?" Dirga kembali menggoda.

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang