Biasakan memberi vote sebelum membaca.
Happy reading
🍒🍒🍒
Pagi ini seharusnya menjadi hari bahagia untuk pasangan suami istri itu. Namun, yang terjadi di ruang keluarga rumah mereka adalah suasana yang dingin, jauh dari keceriaan.
Dirga duduk di hadapan Dinda, tatapannya kosong, menatap Dinda seolah ia melihat sosok yang asing di hidupnya.
"Aku sudah tahu semuanya, Din," ucap Dirga, suaranya pelan namun menusuk, terasa lebih sakit daripada nyinyiran panjangnya di awal-awal pernikahan mereka dulu.
"Aku sudah tahu, tentang masa lalumu."
Dirga mendorong beberapa lembar foto ke arah Dinda. Dinda meraihnya dengan tangan gemetar. Ia mendapati foto-foto dirinya saat bekerja di sebuah karoke remang-remang dengan pakaian kurang bahan duduk menemani para pria hidung belang beberapa tahun yang lalu.
Air mata Dinda langsung menetes karena menyadari betapa jauhnya persepsi Dirga tentang dirinya saat ini. Ia bahkan tak dapat mengucapkan sepatah katapun demi membela nama baiknya yang sudah hancur.
"Aku kecewa, Din. Dan itu membuatku sakit karena merasa dibohongi. bayang-bayang masa lalu yang kau tutupi itu... sulit untuk aku terima."
Air mata Dinda mengalir deras. Ia merasakan fondasi kepercayaan Dirga untuknya roboh dalam sekejap mata. Rasanya percuma saja jika ia menjelaskan semuanya.
"Lalu, lalu apa yang mas inginkan sekarang?"
"Aku ingin kita bercerai, Din!
Deg!
Kata-kata itu menghantam Dinda seperti pukulan keras tak kasat mata. Sakit tapi tak berdarah.
"Aku tau ini menyakitkan, tapi setidaknya aku bersyukur kita belum dikaruniai anak."
"Memangnya kenapa kalau kita punya anak?"
"Aku ragu dia darah dagingku."
Dinda merasa jatuh sejatuhnya di hadapan suaminya. Ia memegang dadanya yang sakit, rasa sakit itu menenggelamkan lalu melenyapkan kebahagiaan yang baru beberapa bulan ini ia rasakan.
Dinda menghapus air matanya kasar, dadanya terasa sesak. Ia bangkit perlahan.
"Baik, Mas," ucap Dinda, suaranya lirih seolah tak ada tenaga. "Aku pasrah jika Mas Dirga ingin berpisah." Ia menatap Dirga dengan tatapan sedih namun tak dapat berbuat apa-apa. Dia tidak ada hak untuk menahan Dirga di sisinya. Siapapun orangnya pasti akan kecewa jika mendapati pasangan yang dicintainya ternyata memiliki masalalu kelam.
"Dari awal, aku memang merasa tidak sepadan bersanding denganmu. Mas Dirga sendiri yang selama ini meyakinkanku bahwa aku tak boleh insecure."
Dirga memejamkan mata. Ia tahu kata-katanya tadi kejam, tetapi saat ini rasa sakit akibat merasa dibohongi lebih mendominasi dan menutupi segalanya.
"Aku akan pergi ke apartemen malam ini, Din. Aku perlu menenangkan diri," kata Dirga, suaranya berat. "Dan aku akan segera mengurus perceraian kita."
"Baik akan aku tunggu surat cerai darimu," Angguk Dinda merasa kepalanya kembali pusing dengan perut yang terasa seperti diaduk-aduk.
Dirga menghela napas, menatap sekeliling rumah yang dulu penuh dengan bahasa cinta mereka berdua.
"Sebagai kompensasi perceraian, Kamu boleh tetap tinggal di rumah ini jika kamu mau."
Dinda hanya mengangguk pelan, air matanya sudah habis. Ia merasakan tubuhnya dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
ChickLitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
