56. Damai

192 22 9
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca.

Thank You!

🍒🍒🍒

Waktu berdetak perlahan di ruang perawatan, seirama dengan denyut pemulihan yang mulai tampak pada diri Dirga. Dua minggu telah berlalu sejak insiden yang nyaris merenggut nyawanya, dan kini raga itu telah pulih secara signifikan hingga dinyatakan siap untuk pulang.

Namun, sebelum kaki Dirga melangkah keluar dari rumah sakit, ada satu pertemuan yang harus terjadi, satu janji yang harus ditepati demi kedamaian jiwa mereka berdua.

Zayyan, yang menyadari betapa pentingnya momen ini, telah berbicara serius dengan adiknya malam sebelumnya. Ia duduk di sisi ranjang Dinda, menggenggam tangannya dengan erat seolah menyalurkan keberanian.

"Din," panggil Zayyan lembut. "Sudah waktunya. Abang tahu kamu masih takut, tapi Abang mohon, berikan dia satu kesempatan terakhir. Siap atau tidak siap, kalian memang harus bicara dari hati ke hati."

Zayyan menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Dia sudah membayar kesalahannya, Dek. Dia mempertaruhkan nyawanya untukmu. Setidaknya, sebelum kalian benar-benar berdamai dengan suratan takdir, kalian berdua harus saling memaafkan. Ini bukan tentang kembali bersatu, tapi tentang melepaskan beban yang menyumbat di dada. Karena dengan begitu, langkahmu akan terasa lebih ringan untuk memulai kehidupan baru, walau tak lagi bersama."

Dinda menatap kakaknya dalam diam. Kata-kata Zayyan adalah kebenaran pahit yang harus ia telan. Ia tahu ia tak akan pernah bisa hidup dalam damai jika Dirga masih memikul beban penyesalan sebesar itu. Akhirnya, Dinda mengangguk pelan. Ia setuju.

Keesokan harinya, Dinda melangkah memasuki kamar rawat Dirga. Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan membawa beban memori masa lalu. Suasana tegang seketika menyelimuti ruangan. Dirga, yang tampak pucat namun sudah bisa duduk bersandar, menoleh pelan saat pintu terbuka. Dinda masuk ditemani Zayyan, yang dengan sengaja mengambil posisi di sudut ruangan, berpura-pura menekuni majalah untuk memberi ruang bagi keduanya bicara.

Bagi Dirga, kehadiran Dinda adalah sebuah mukjizat kecil. Menatap wajah itu kembali adalah obat yang sudah lama hilang dari hidupnya. Tidak ada lagi rasa bersalah yang mematikan di matanya, hanya ada penyesalan yang tulus dan rasa syukur yang tak terhingga karena Dinda selamat.

"Dinda," ucap Dirga lirih, suaranya masih bergetar lemah.

"Terima kasih sudah mau datang. Dan terima kasih...untuk makanannya. Aku tahu itu kamu."

Dinda hanya mengangguk kecil, pandangannya masih tertuju pada hal lain. "Itu bukan masalah, Mas."

Keheningan melanda sesaat, menciptakan ruang hampa yang menyesakkan. Dinda terus menghindari kontak mata, membuat Dirga tersadar betapa jauh jarak yang kini membentang di antara mereka.

"Din, sakit banget ya?" tanya Dirga tiba-tiba. Suaranya pecah, tidak mampu menahan pedih saat melihat bayangan luka di mata Dinda.

"Hah? Kenapa, Mas?" Dinda bertanya balik dengan wajah polos, sedikit bingung dengan arah pertanyaan itu.

"Luka yang aku torehkan... sakit banget ya?" Dirga mengulangi pertanyaannya. Kali ini matanya memerah menahan tangis. Hati Dirga seakan hancur berkeping-keping melihat jarak emosional yang begitu lebar antara mereka

Dinda terdiam lama. Ia mengunci pandangannya pada seprai putih yang kaku. Keheningan panjang itu seolah menjadi jawaban paling nyata bagi pertanyaan Dirga. Hati Dirga terasa perih melihat kenyataan pahit tersebut.

"Ya Allah... Dia bahkan tak mampu menjawab karena luka itu terlampau dalam," desah Dirga dalam batin yang menangis pilu. Keheningan Dinda sudah menjelaskan segalanya jika luka yang Dirga toreh sakitnya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Sebagai pria yang tahu diri dan menyadari bahwa ia telah kehilangan seluruh haknya, Dirga akhirnya memutuskan untuk tidak lagi meminta Dinda kembali. Itu adalah keputusan tersulit, namun paling benar yang bisa ia ambil.

"Aku tidak akan meminta kamu kembali, Din," ujar Dirga pelan namun mantap. "Aku hanya ingin kau tahu, aku meminta maaf. Maaf karena meragukanmu, maaf karena menuduhmu. Aku bodoh. Aku dibutakan masa lalu."Dirga memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh. "Aku meminta maaf karena membuatmu sengsara. Maaf karena aku, kamu harus berjuang sendirian saat sedang hamil anak yang kita impikan." Suaranya makin serak.

"Aku sudah melihat makam Hanif. Aku tahu, aku adalah penyebabnya. Mungkin ini cara Allah menghukumku dengan mengambil Hanif kembali, karena aku tidak layak menjadi ayahnya."

Dinda menarik napas panjang, mengumpulkan setiap keping kekuatannya. Air matanya ikut menetes, namun ia harus tegas demi memutus rantai rasa sakit ini.

"Mas Dirga," Dinda berbicara dengan nada lembut namun penuh ketegasan. "Aku tahu kamu menyesal. Dengan hati terbuka, aku memaafkanmu. Semua perkataanmu di masa lalu, semua rasa sakit itu, sudah kubawa ke hadapan Allah. Aku telah memaafkanmu, Mas."

Tangis Dirga pecah mendengar pengampunan itu. Kata-kata Dinda terasa lebih berharga daripada seluruh hartanya di dunia.

"Tentang Hanif," lanjut Dinda sambil menunjuk ke atas. "Aku memohon agar kamu tidak lagi menyalahkan dirimu sendiri, karena ini sudah ketentuan-Nya. Hanif adalah takdir kita. Dia hadir dan pergi karena memang sudah waktunya." Dinda menghapus sisa air matanya, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini memancarkan kekuatan baru.

"Mas Dirga, karena kau menceraikanku, aku nekat ke Bandung dan pingsan di jalan. Di sanalah aku menemukan keluargaku yang dulu aku yakini tak menginginkanku. Aku menemukan Ayah dan Abang Zayyan. Hanif adalah perantara takdir, Mas. Dia yang mempersatukan kembali keluargaku yang sempat hilang."

Dirga terdiam seribu bahasa. Pengampunan Dinda yang dibungkus dengan hikmah itu memberikan kedamaian dan kekuatan yang luar biasa bagi hatinya. Ia tak menyangka jika wanita yang sudah ia sakiti sedemikian rupa kini datang dan memberinya pengampunan seluas samudera.

"Allah saja selalu mengampuni hamba-hambaNya, Mas. Sebagai seorang hamba terlalu angkuh rasanya jika aku tidak memberikan maaf pada orang yang sudah menyesali perbuatannya di masa lalu."

Kini, mereka sepakat untuk berdamai dengan keadaan. Menjalani hidup masing-masing tanpa ada lagi dendam yang menyelimuti. Luka itu mungkin tidak akan hilang seketika, namun setidaknya mereka telah saling memaafkan.

Meski jauh di dasar hatinya Dirga masih berharap Dinda kembali, ia tak berani berucap. Ia sadar ia telah kehilangan hak itu dan tak ingin merusak momen pengampunan yang suci ini dengan ego pribadinya.

Dirga tersenyum tulus untuk pertama kalinya. "Terima kasih, Din. Aku akan menepati janjiku. Semoga kamu selalu bahagia."

Dinda mengangguk lalu tersenyum."Aku harap Mas Dirga juga bahagia."

Pertemuan itu menjadi penutup bagi babak luka yang panjang, dan menjadi awal dari halaman baru yang penuh ketenangan. Mereka berdua kini bisa melanjutkan hidup, membawa diri masing-masing menuju masa depan tanpa lagi dibebani oleh kebencian masa lalu.

TAMAT






Atau





NGGAK nih?

🍒🍒🍒

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 24 Desember 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang