Jangan lupa vote sebelum membaca.
Happy reading!
🍒🍒🍒
Alunan indah ayat suci Al-Qur'an yang terdengar dari pengeras suara di masjid yang tak jauh dari rumah mereka membuat mata yang tadinya terpejam kini perlahan terbuka. Mata indah Dinda mengerjap kala mendapati Dirga tengah tersenyum menatapnya sambil menopangkan kepalanya pada telapak tangan kanan.
"Pagi, Sayang...." Suara serak Dirga terdengar namun entah kenapa membuat Dinda justru meremang. Kata sayang yang mengalun indah dari bibir yang mulia, kali ini terdengar sangat merdu dan tulus singgah di telinganya.
"Siapa yang datang?" tanya Dinda yang sudah terbiasa dengan kata sayang sebagai tanda jika ia harus berakting menjadi istri yang baik. Kepalanya kini celingak celinguk namun justru terpekik karena sadar jika ia sedang tidak berada di kamarnya.
"Tidak ada. Hanya kita berdua yang ada di kamar ini," sahut Dirga tersenyum penuh arti saat menatap wajah Dinda yang masih kebingungan.
"Kamu ingat dengan apa yang terjadi tadi malam?" tanya Dirga pada sang istri yang nampaknya masih berusaha keras mengais potongan puzzle tentang kejadian tadi malam.
Di detik ke tiga puluh tujuh, Dinda seakan tersadar lalu dengan cepat mengintip selimut dan mendapati kenyataan yang membuatnya benar-benar pias.
"Mas, jadi tadi malam.....?" Sumpah demi apapun, Dinda tidak sanggup menyelesaikan ucapannya yang justru membuat puzzle-puzzle yang tadinya berserak kini semakin menyatu memperjelas kejadian tadi malam.
Dirga mengangguk antusias. "Terimakasih, Sayang!" ucapnya mengecup pucuk kepala Dinda lembut.
"Mas aku takut," cicit Dinda kala merasa kini sesuatu berharga yang dimilikinya dan mati-matian dipertahankannya hilang dalam semalam.
Dirga terkekeh dengan gelengan kepala tak habis pikir. "Sayang apa yang kamu takutkan? Bukankah kita sudah menikah?"
Dinda hanya bisa terdiam tak tau harus menjawab apa. Pikirannya terasa bagai benang yang kusut. Di sisi lain, hatinya membenarkan apa yang Dirga ucapkan. Mereka sudah menikah dan halal satu sama lain. Namun di lain sisi ada sedikit rasa ketakutan yang membuatnya tidak tenang.
Ia pun tak dapat menyalahkan Dirga sepenuhnya. Karena dirinyalah yang tadi malam mengangguk mantap menyetujui apa yang Dirga minta.
"Kamu masih meragukan cintaku?" Kini wajah tampan itu tampak cemberut.
"Tidak, Mas," geleng Dinda.
"Lalu?"
"Di awal pernikahan bukannya Mas Dirga yang bersikeras tak ingin kita saling jatuh cinta? Dan melihat apa yang terjadi tadi malam bukannya kita sudah terlalu jauh melampaui batas perjanjian?"
"Kamu masih mengingat perjanjian konyol itu di saat kamu sudah menerima cintaku?"
Anggukan Dinda yang tampak polos membuat Dirga benar-benar tak habis pikir.
"Aku bahkan sudah melupakan perjanjian itu sejak menyadari jika benar-benar jatuh cinta padamu," jawab Dirga berusaha meyakinkan Dinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
ChickLitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
