50. Semangkok bubur

220 21 0
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca!

Happy reading

🍒🍒🍒

Setelah beberapa waktu, tangisan pilu Dirga mereda. Zayyan berhasil menenangkan sahabatnya yang hancur dan putus asa. Ia memberikan beberapa nasihat untuk menahan diri, dan janji untuk kembali keesokan harinya.

Tepat saat Zayyan mulai menarik napas lega, ponselnya berdering. Nama Dinda tertera di layar. Zayyan menatap Dirga sejenak, lalu bergeser ke sudut sofa untuk menjawab.

"Abang di mana?" Suara rengekan manja Dinda terdengar saat panggilan dijawab.
Zayyan membalikkan badan agar Dirga tidak melihat ekspresinya. "Abang masih ada urusan di tempat teman, Din. Jadi pulangnya agak telat ya."

"Tapi aku takut sendirian," rengek Dinda.

"Sabar ya, Sayang," balas Zayyan lembut, menggunakan nada seorang kakak yang memanjakan. "Bentar lagi Abang pulang. Mau dibawain apa? Cilok mau?"
Dinda tertawa dan mengiyakan.

Suara tawa itu, suara rengekan manja itu, menusuk langsung ke telinga Dirga yang duduk terdiam di sofa.
Dirga yang mendengar suara Dinda, wanita yang sangat ia rindukan, hanya bisa terdiam. Ia melihat Zayyan berbicara dengan penuh kasih sayang, memperlakukan Dinda seperti harta yang paling berharga.

Setelah Zayyan menutup telepon, Dirga mendongak, matanya yang bengkak menatap Zayyan. "Pulanglah, Bang. Kasihan Dinda sendirian," pinta Dirga, suaranya masih serak. Ia belum sanggup mendengar wanita yang dicintainya merengek pada pria lain selain dirinya.

Zayyan mengangguk, mengiyakan permohonan Dirga. "Baik, gue pulang. Lo baik-baik ya, di sini. Jangan lakukan hal bodoh. Ingat, kita akan bicara lagi besok." Zayyan menepuk bahu Dirga sekali lagi, lalu bergegas meninggalkan kamar hotel itu.

Zayyan akhirnya pulang dan disambut Dinda dengan senyuman cerah di pintu. Rasa lelah Zayyan seketika terangkat melihat adiknya yang kini tampak ceria.

"Kok lama banget sih, Bang?!" protes Dinda, mengambil bungkusan cilok dari tangan Zayyan.

"Kamu sebenarnya nunggu Abang apa nunggu cilok?" tanya Zayyan terkekeh pada Dinda yang antusias menatap cilok dengan cocolan saus kacang tersebut.

"Cilok sih... hehe!" jawab Dinda dengan wajah lucunya.

"Cowok high value gini harus bersaing sama cilok ya Tuhan... " Zayyan geleng-geleng kepala putus asa.

Dinda tertawa geli."Abang sih lama banget baru pulang,"sahut Dinda.

"Maaf, tadi urusannya sedikit rumit," jawab Zayyan, mengecup puncak kepala Dinda. Mereka duduk di ruang tamu. Zayyan memanfaatkan waktu ini untuk memulai rencananya.

"Din," panggil Zayyan.

"Ya, Bang?"

"Bisakah kamu membuatkan bubur besok pagi?"

"Tentu, kenapa, Bang? Abang lagi sakit?"

"Teman Abang yang lagi sakit. Dia sedang sendirian di hotel, kacau sekali. Rencana besok mau menjenguk lagi, sekalian bawain sarapan bubur. Dia butuh asupan yang nyaman di perut," jelas Zayyan.

"Oh boleh," Dinda mengangguk antusias. "Mau bubur apa?"

Zayyan tersenyum. Ini adalah satu-satunya jembatan yang bisa ia bangun tanpa melanggar janji pada Dinda.

"Aku mau Bubur Ayam Khas Banjar Kalimantan Selatan dong, Din. Bubur yang biasa kamu buat pakai rempah khas."

Dinda membulatkan mata, terkejut. "Kok Abang tahu bubur itu? Itu bubur yang biasa aku buat kalau lagi sakit!"

"Dulu Dirga sering cerita, katanya itu bubur terenak yang pernah dia makan. Dan aku iri sekali," bohong Zayyan dengan mulus.

"Siap! Besok pagi aku buatkan ya. Aku akan buat bubur Banjar yang paling enak!" janji Dinda tanpa menyadari bahwa bubur yang akan ia masak itu ditujukan untuk Dirga, pria yang paling ia hindari.

Zayyan lega. Ia memutuskan pulang tepat waktu, dan berhasil mendapatkan kunci untuk membantu Dirga melewati masa-masa tergelapnya, melalui sentuhan tak langsung dari Dinda. Zayyan berharap bubur itu bukan hanya sarapan, melainkan sebuah kekuatan untuk Dirga melewati masa-masa sulitnya

🍒🍒🍒


Keesokan paginya, Zayyan kembali ke hotel di jam sarapan, membawa bungkusan makanan yang hangat. Ia membuka pintu kamar hotel Dirga dan mendapati sahabatnya masih dalam kondisi yang sama, berantakan, terperosok dalam kesedihan.

"Sarapan dulu, Ga!" seru Zayyan, suaranya tegas, tanpa basa-basi.

Dirga yang duduk bersandar di sofa menggeleng, tatapannya kosong menatap ke luar jendela yang menyajikan kemacetan Bandung di jam sibuk. "Gue nggak lapar, Bang."

"Gue tahu lo nggak lapar," balas Zayyan, meletakkan bungkusan itu di meja. "Setidaknya lo harus punya tenaga buat mencaci maki diri lo sendiri." Suara Zayyan terdengar kesal, tapi tersirat kepedulian yang mendalam. Tangannya sibuk membuka tas jinjing berisi bekal bubur untuk dimakan Dirga yang Dinda masak.

Dirga akhirnya terkekeh dengan ucapan Zayyan barusan. Tawa yang sangat singkat, nyaris seperti isakan, namun itu adalah respons manusiawi pertama Dirga setelah dua malam dilanda kehancuran. Ucapan asbun yang menjadi ciri khas sahabatnya itu, biasanya akan membuatnya terbahak.

Zayyan benar, mungkin ia harus makan yang banyak untuk menghukum dirinya sendiri dengan cara mencaci maki segala kesalahan dan kebodohan yang kini membuatnya nyaris seperti orang gila.

Beberapa saat kemudian, indra penciuman Dirga menangkap bau yang sangat familiar di hidungnya. Aroma rempah kuat dari bubur ayam itu menyeruak, hangat dan merangsang. Bau itu... bau kesukaannya. Bau bubur ayam khas yang tak bisa ditemui kecuali di Banjarmasin. Aroma yang ia rindukan setiap kali ia merasa lelah, aroma yang selalu membuatnya rindu pada sang mantan istri.

Dirga menoleh, dan Zayyan tersenyum puas, mengangkat dua mangkok bubur ayam yang masih mengepulkan asap hangat.

"Tuh, lihat!" Zayyan meletakkan mangkok itu di meja. "Buruan makan. Adek gue capek-capek bikin nih bubur dari selepas salat subuh. Dia bilang, bubur ini obat kalau lagi sakit."

Zayyan menatap Dirga dengan tatapan serius. "Dengerin gue, Ga. Kalo lo nolak, gue nggak akan segan-segan menendang lo langsung ke neraka. Makan sekarang! Kalau nggak jatah lo gue yang embat."

"Rese lo, Bang," gumam Dirga, tetapi kali ini tanpa nada penolakan. Nada marah Zayyan yang bercampur perhatian itu entah mengapa terasa menghangatkan hatinya. Ia kini sadar, meski dirinya sudah membuat kesalahan yang sangat fatal, namun Zayyan tak pernah meninggalkannya.

Dirga akhirnya bangkit dari duduknya di dekat jendela. Ia berjalan perlahan, mengambil tempat duduk di samping Zayyan. Ia mengambil sendok, menatap bubur di hadapannya. Baginya ini bukan sekadar makanan, namun sentuhan dari wanita yang ia hancurkan hidupnya.

Dirga menyuap bubur itu perlahan. Rasanya otentik, persis seperti yang selalu Dinda buat. Air matanya kembali mengalir, kali ini bukan karena keputusasaan, melainkan karena rasa haru dan penyesalan yang mendalam. Ia merasa Dinda saat ini tengah memberinya kekuatan untuk bertahan, tanpa wanita itu sadari.

"Thank You, Bang," bisik Dirga, suaranya tercekat. "Sampaikan terima kasih gue buat adik lo."

"Nanti gue sampaikan," jawab Zayyan, meraih mangkoknya sendiri. "Sekarang makan. Setelah ini, kita punya banyak hal yang harus dibicarakan."

🍒🍒🍒

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 17 Desember 2025

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang