Biasakan memberi vote sebelum membaca
Terima kasih
🍒🍒🍒
Waktu yang berlalu, sedikit demi sedikit telah menyembuhkan luka Dinda. Ia kini tinggal dengan nyaman bersama Zayyan dan sang Ayah yang sekali-kali datang menjenguknya. Batinnya jauh lebih tenang, ia aktif diberbagai halaqoh pengajian muslimah sambil sesekali mengurus kegiatan sosial di panti asuhan di kota Bandung. Namun, satu kegiatan yang tak pernah ia lewatkan, yaitu mengunjungi makam putra kecilnya.
Dinda hari ini memutuskan untuk pergi ke makam sang anak di pagi hari karena sore selepas Ashar dia akan memenuhi undangan teman pengajiannya yang menikah. Ia ingin menunaikan kewajibannya sebagai ibu sebelum memenuhi kewajiban sosialnya.
Pagi ini, pemakaman tampak sepi dengan diselimuti embun tipis. Dinda berjalan pelan menuju nisan kecil Hanif. Sayang langkahnya terhenti beberapa meter dari makam sang anak karena ia melihat seseorang sedang duduk bersimpuh di pusara putranya. Sosok pria itu menunduk dalam, bahunya bergetar, dan terdengar sesegukan tertahan di antara keheningan makam. Di sampingnya, sudah ada rangkaian bunga segar yang baru diletakkan.
Dinda mengerutkan dahi. Ia tahu, selain dirinya, hanya Zayyan dan Ayah yang sesekali datang. Tapi postur pria ini bukan postur Zayyan.
Dinda mengira pria itu salah makam. Ia melangkah mendekat, berusaha bersikap sopan.
"Permisi, Bapak," panggil Dinda pelan. "Mungkin Bapak salah makam. Ini makam putra saya."
Tubuh Pria itu seketika menegang, ia terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ia tak pernah mengingkari janji pada Zayyan. Pria itu yakin jika dia keluar dari hotel selepas sholat dhuha tiga puluh menit yang lalu. Tapi kenapa mereka justru bertemu?
"Pak, anda sepertinya salah makam." Dinda kembali mengingatkan karena pria di depannya tak kunjung merespon ucapannya.
Dirga memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk bangkit dan menghadapi Dinda di depan makam anak mereka. Ia tau jika efek pertemuan tak disengaja ini akan membuat Dinda kembali terluka, namun apa boleh buat Dirga tak memiliki pilihan lain kecuali bangkit dan menerima dengan pasrah sumpah serapah yang bersumber dari luka hati wanita yang masih setia bertahta di hatinya tersebut.
Ketika Dirga bangkit dan membalikkan badan saat itu juga Dinda merasa dunianya kembali runtuh. Semua kekuatan, semua kedamaian yang ia bangun selama 6 bulan ini lenyap seketika.
Dia melihat kembali wajah mantan suaminya di hadapannya. Wajah Dirga tampak lebih kurus, matanya bengkak dan merah karena menangis, tetapi itu adalah wajah yang sama, mata yang sama, yang terakhir kali menatapnya dengan keraguan dan penghinaan. Dirga yang selama enam purnama ini mati-matian ia singkirkan dari pikirannya, kini justru muncul kembali tepat di depan pusara anak mereka.
Wajah Dirga menunjukkan keterkejutan yang sama besarnya, disertai rasa bersalah yang tak terhingga. Dirga tidak pernah menyangka Dinda akan mengubah rutinitasnya.
Dinda berdiri mematung, dadanya sesak, kesulitan bernapas. Ia tidak bisa melangkah maju, juga tidak bisa mundur. Seluruh badannya terasa dingin. Dirga berusaha mendekat, tetapi Dinda mengangkat tangan, menghentikan Dirga.
"Jangan mendekat!" desis Dinda, suaranya bergetar menahan tangis dan amarah. "Apa yang anda lakukan di sini?"
Dinda menunjuk makam itu dengan jari gemetar. Ia tak menyangka ternyata Dirga tau tenang Hanif.
"Anda tahu dari mana?!" tuntut Dinda, amarahnya meledak, menembus lapisan kesedihan.
Pikiran Dinda langsung tertuju pada satu orang: Zayyan. Abang yang ia percaya, Abang yang berjanji akan menjaganya, kini dianggapnya telah mengkhianati kepercayaan yang baru ia bangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
Chick-LitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
