68. Ekstra part: Stay With Me

343 25 1
                                        

Biasakan memberi vote sebelum membaca

Happy reading

🍒🍒🍒

Dirga membuka pintu dengan dentuman keras, matanya langsung menangkap sosok Dinda yang meringkuk di sudut tempat tidur. Tubuh istrinya bergetar hebat, napasnya tersengal dengan mata yang masih terpejam. Dinda tampak seperti orang yang masih terjebak dalam mimpinya, tangannya mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih.

Tanpa memedulikan rasa kantuk dan lelahnya, Dirga maju dan langsung merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya yang kokoh.

"Sayang, ini aku! Ini Mas... Mas Dirga di sini," bisik Dirga dengan nada suara yang sangat lembut, berusaha menembus kabut ketakutan yang menyelimuti pikiran Dinda.

Dinda berkeringat dan tampak penuh kepanikan. Dirga semakin erat memeluk sang istri, menyandarkan kepala Dinda di dadanya, membiarkan air mata wanita yang tampak ketakutan itu membasahi kausnya.

"Sshhh... Sayang...Tenang. Mereka nggak ada di sini. Nggak akan ada yang berani nyentuh kamu lagi selama ada Mas. Kamu aman, Dinda. Kamu di rumah kita," gumam Dirga sambil terus mengusap punggung dan rambut Dinda dengan gerakan lembut yang menenangkan.

Perlahan, getaran di tubuh Dinda mulai mereda. Isak tangisnya yang semula histeris berubah menjadi sedu-sedan. Ia mulai mengenali aroma Suaminya. Dinda akhirnya membalas pelukan itu, mencengkeram kaus Dirga seolah takut jika ia melepaskannya, pria itu akan menghilang.

"Mas... me-mereka jahat... mereka mau bawa aku lagi..." rintih Dinda dengan suara parau yang nyaris habis.

Dirga mengecup puncak kepala Dinda berulang kali, matanya sendiri mulai berkaca-kaca melihat kerapuhan istrinya. "Mas nggak akan biarin itu terjadi, Dinda. Mas sudah janji sama Allah, Ayah dan Abang buat jaga kamu. Sekarang, tarik napas pelan-pelan... Mas di sini, nggak akan pergi ke mana-mana."

Di bawah temaram lampu kamar, Dirga terus mendekap Dinda, memberikan kehangatan yang perlahan-lahan mengusir sisa-sisa ketakutan dari mimpi buruk itu. Malam itu, bukan lagi tentang gairah, melainkan tentang perlindungan tulus seorang suami yang menjadi tameng bagi jiwa istrinya masih dihantui mimpi buruk masalalu.

Saat Dinda sudah mulai tenang dan napasnya kembali teratur, Dirga perlahan melonggarkan pelukannya. Ia menyeka sisa air mata di pipi Dinda dengan ibu jarinya, lalu memberikan kecupan singkat di kening istrinya yang masih terasa dingin.

"Sudah lebih baik, hmm? Mas balik ke sofa ya, biar kamu bisa istirahat lebih lega," bisik Dirga lembut, mulai beranjak dari sisi tempat tidur.

Namun, baru saja Dirga hendak berdiri, ia merasakan sebuah tarikan kuat di pergelangan tangannya. Jemari Dinda yang masih sedikit gemetar mencengkeram erat telapak tangan sang suami, menahannya agar tidak melangkah lebih jauh.

"Mas... jangan pergi. Di sini saja," pinta Dinda dengan suara yang sangat kecil, namun penuh dengan permohonan. Matanya yang sembap menatap Dirga dengan tatapan takut kehilangan.

Dirga tertegun. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya mendengar permintaan itu. Ia kembali duduk, lalu menatap Dinda dengan senyum paling teduh miliknya. "Mas nggak akan ke mana-mana, Sayang. Mas akan jaga kamu."

Dirga pun merebahkan dirinya di samping Dinda, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua. Tanpa diminta, Dinda langsung mendekat, menyusupkan kepalanya di dada bidang Dirga, mencari posisi paling nyaman untuk mendapatkan perlindungan suaminya yang menenangkan.

"Mas jangan tidur dulu ya, tetap pegang tangan aku," gumam Dinda, menyatukan jari-jarinya di sela jemari Dirga.

"Iya, Sayang. Mas jagain. Mas nggak akan tutup mata sampai kamu bener-bener tidur pulas," jawab Dirga sambil mengeratkan genggamannya.

Malam yang tadinya penuh teror trauma, kini berubah menjadi malam yang penuh rasa aman. Dirga tidak lagi membutuhkan sofa sempit itu, karena tempat terbaik baginya memang tepat di samping istrinya, menjaga napas Dinda hingga fajar menyapa.

🍒🍒🍒

Saat Azan berkumandang di waktu subuh, Dinda adalah yang pertama kali membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangatnya napas seseorang di keningnya.
​Dinda mendongak dan mendapati wajah Dirga yang masih tertidur pulas tepat di depan matanya. Posisi mereka sangat dekat, tangan Dirga melingkar posesif di pinggangnya, seolah tidak mau membiarkannya pergi meski hanya satu inci.

​Dinda tersenyum. Trauma semalam rasanya menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Ia iseng menyentuh hidung mancung Dirga dengan telunjuknya.

​"Eungh..." Dirga melenguh, matanya terbuka sedikit, lalu ia tersenyum lebar begitu melihat wajah istrinya yang cerah.
​"Pagi, Sayang... Tidurnya nyenyak?" tanya Dirga dengan suara serak khas bangun tidur, yang entah kenapa terdengarsepuluh kali lebih seksi di telinga Dinda.

"Iya, makasih Mas Dirga."

Suasana pagi itu benar-benar terasa berbeda. Dinginnya udara subuh kalah oleh hangatnya ketenangan yang menyelimuti kamar mereka. Dirga bangkit lebih dulu, lalu dengan lembut mengusap pipi Dinda.

"Sayang... Subuh yuk," bisik Dirga lembut.

Dinda menatap suaminya dengan binar haru. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengar ajakan sesyahdu ini. Mereka berdua kemudian mengambil air wudhu, membasuh diri dari sisa-sisa lelah dan trauma malam tadi.

Di mushola kecil mereka, Dirga berdiri tegak sebagai imam. Dinda berdiri tepat satu baris di belakangnya, mengenakan mukena putih bersih yang membuatnya tampak seperti bidadari sesungguhnya.

Saat Dirga mengumandangkan Allahu Akbar untuk takbiratul ihram, suasana seketika berubah hening dan sakral. Suara Dirga yang berat namun merdu mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Setiap makhraj dan tajwid yang keluar dari lisan suaminya terdengar begitu menggetarkan hati Dinda. Ada rasa aman yang luar biasa saat menyadari bahwa pria yang menjaganya di dunia, kini juga menuntunnya menuju jalan ke surga.

Suaminya sudah sangat jauh berubah.

Dalam setiap sujudnya, Dinda menangis dalam diam, tangis syukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bermakmum di belakang pria ini. Sementara Dirga, dalam sujud terakhirnya, memperlama durasi, menumpahkan segala do'a untuk keselamatan dan kebahagiaan wanita yang ada di belakangnya.

Usai salam, membaca wirid lalu ditutup dengan do'a, Dirga memutar tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, yang langsung disambut Dinda dengan takzim. Dinda mencium punggung tangan Dirga lama, menghirup aroma sabun dan air wudhu yang menenangkan.

Dirga kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kepala Dinda, memejamkan mata, dan merapalkan doa keberkahan.

"Mas..." panggil Dinda lirih saat ia mendongak.

"Iya, Sayang?"

"Terima kasih sudah jadi imam aku. Jangan pernah capek ya bimbing aku," ucap Dinda dengan mata yang berkaca-kaca.

Dirga tersenyum, lalu menarik Dinda ke dalam dekapan hangatnya. Ia mengecup kening Dinda dengan penuh takzim. "Mas yang makasih, kamu sudah mau pulang dan jadi makmum Mas lagi. Selamanya, Mas nggak akan lepasin tangan kamu."

Keheningan subuh itu menjadi saksi bahwa cinta mereka bukan hanya soal gairah, tapi tentang dua jiwa yang kini semakin belajar jadi lebih baik.

🍒🍒🍒

Kalian belum bosan kan baca ekstra part-nya?

Aku masih sesayang itu sama mereka soalnya. Hehe

Salam sayang untuk kalian semua

Martapura, 7 Januari 2026

Married By Agreement(TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang