Biasakan memberi vote sebelum membaca
Happy reading
🍒🍒🍒
Keesokan harinya, Dirga langsung tancap gas. Ia tahu Ralin dan Daffa itu sangat licin, jadi ia tidak bisa hanya modal gertakan. Ia butuh bukti nyata yang bisa membuat mereka langsung berurusan dengan hukum.
Dirga mengunci diri di kantor. Di depannya sudah ada tumpukan berkas keuangan perusahaan properti milik Pak Hasan selama setahun terakhir. Atas saran Zayyan dari Bandung, Dirga tidak bekerja sendirian. Ia memanggil dua orang tim IT yang sangat ahli, serta satu auditor senior yang ternyata dulu sempat disingkirkan Ralin karena terlalu jujur.
"Kita mulai dari sini," kata Dirga sambil menunjuk laporan pembangunan perumahan.
Hari pertama, Dirga menemukan sesuatu yang aneh. Ralin sering membeli semen dan baja dari perusahaan yang namanya tidak pernah terdengar. Saat Dirga mengecek alamatnya melalui peta digital, ternyata alamat itu hanya ruko kosong di pinggir kota, bahkan ada yang alamatnya hanya sebuah lahan parkir!
"Oh jadi gini cara mainnya," gumam Dirga. Ia mencatat semua uang yang masuk ke situ, yang ternyata ujung-ujungnya ditransfer balik ke rekening Daffa.
Minggu kedua, Dirga pindah ke komputer. Daffa memang pintar menghapus jejak email dan pesan singkat. Namun, tim IT Dirga jauh lebih pintar. Mereka membongkar lagi data yang sudah dihapus di server pusat. Setelah begadang dua malam, mereka menemukan bukti obrolan rahasia Ralin dan Daffa soal cara memalsukan tanda tangan Pak Hasan untuk mencairkan uang kantor.
Tidak hanya itu, Dirga juga mengecek harga barang. Ia geleng-geleng kepala melihat harga laptop kantor yang seharusnya hanya lima juta, tetapi ditulis sepuluh juta. "Lima juta per laptop masuk ke kantong mereka sendiri," batin Dirga. Ia menghitung semua selisih harga, mulai dari pulpen sampai alat berat untuk proyek. Semuanya telah dimanipulasi.
Terakhir, Dirga memanggil staf kantor yang selama ini dekat dengan Ralin dan anehnya kelihatan ketakutan jika berpapasan dengannya. Ia mengajak mereka mengobrol santai sambil memberikan kopi.
"Saya tahu kalian dipaksa Ralin," kata Dirga lembut. "Kalian punya keluarga untuk diberi makan. Kalau kalian jujur sekarang, saya janji posisi kalian aman."
Mendengar itu, mereka akhirnya mengaku sambil menangis. Mereka sering dipaksa Ralin dan Daffa untuk membuat nota kosong. Selama ini mereka tertekan karena diancam akan dipecat jika tidak menurut.
Akhirnya, semua potongan bukti itu terkumpul menjadi satu laporan tebal yang sangat jelas. Tidak ada celah lagi bagi mereka untuk kabur. Ralin dan Daffa sudah masuk ke perangkap yang mereka buat sendiri.
Dirga bersandar di kursinya, menatap tumpukan bukti itu dengan perasaan campur aduk. Ia puas, tetapi juga sedih melihat orang yang pernah ia kenal bisa sejahat itu. Namun yang paling penting, keadilan bagi Pak Hasan dan ia bisa mencegah perusahaan dari ambang kehancuran.
🍒🍒🍒
Pagi itu, lobi kantor pusat perusahaan properti milik Pak Hasan tidak lagi terasa seperti tempat bisnis biasa. Udara terasa dingin dan mencekam. Langkah-langkah tegas dari beberapa anggota polisi yang masuk dengan seragam lengkap seketika mematikan kebisingan mesin kopi dan obrolan rutin para karyawan.
Dirga berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan kedua tangannya di pagar besi. Matanya yang tajam menatap ke bawah, tepat ke arah pintu lift yang baru saja terbuka. Dari sana, Ralin dan Daffa keluar sambil tertawa sombong, seolah-olah mereka masih memegang kendali penuh atas segalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married By Agreement(TAMAT)
ChickLitKehidupan damai dan tentram seorang gadis biasa bernama Adinda Sabila mendadak kacau setelah memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria bernama Dirgantara Mumtaza Ahmad. Sosok pria bermulut tajam yang selalu memandang rendah dirinya tersebut...
