Tok tok tok
"Dev ayo keluar waktunya makan malam" ucap bi Inah didepan kamar Devan yang tertutup rapat.
Sejak keluar dari ruang kerja Alex. Devan langsung mengurung diri di kamarnya hingga waktu makan malam tiba.
Cklek
"Devan udah makan tadi bi, aku mau tidur dulu" ucap Devan dibalik pintu yang terbuka kecil.
"Kamu sakit, biasanya kamu nggak pernah tidur jam segini"khawatir bi Inah.
"Nggak kok bi, cuma cape aja tadi di cafe rame banget" alibi Devan padahal ia tengah menahan sakit dipunggungnya.
"Yaudah kalo gitu istirahat, bibi mau makan dulu" ucap bi Inah.
Dan Devan mengangguk sebagai jawaban.
Devan menutup pintu kamarnya setelah bi Inah pergi ke dapur.
Devan termenung dibalik pintu.
"Padahal cuma ngasih undangan, kenapa dihukum, harusnya aku sadar kalo aku memang sendiri dan tuan Alex nggak bakal Sudi datang" keluh Devan
###
Setelah makan malam Revan menyusuri dapur dan melihat para maid sedang membereskan dapur.
"Tuan muda menginginkan sesuatu" ucap mbak Dewi.
"Emm nggak ada mbak, cuma liat liat dapur kok. Oh iya si Devan kemana mbak kok nggak keliatan dari tadi" tanya Revan.
"Oh tadi bi Inah bilang Devan udah makan dicafe, sekarang lagi tidur cape katanya" ucap mbak Dewi.
Mendengar penjelasan mbak Dewi Revan pergi dari dapur dan berpapasan dengan Zeland yang hendak keluar.
"Rev ikut gua yuk" ajak Zeland.
"Nggak" singkat Revan.
"Ikut saja, daripada kamu sibuk mencari anak sialan itu" ucap Alex yang tiba tiba berada disamping mereka berdua.
"Jaga ucapan anda. Dia punya nama lagipula yang anda panggil anak sialan itu juga dari benih anda sendiri" ejek Revan.
Seketika wajah Alex memerah menahan emosi. Merasa suasana tegang, dengan cepat Zeland menarik tangan Revan menuju mobilnya dan melaju pergi.
"Hanya karena saya tidak bisa memukulmu, kamu pikir saya diam hahaha kita liat saja nanti" ucap Alex.
Alex menyuruh semua maid untuk pulang ke paviliun belakang mansionnya. Kemudian Alex membawa sebuah tongkat bisbol dan menuju kamar Devan.
Brak
Alex langsung mendobrak pintu kamar Devan. Membuat Devan yang semula tidur langsung duduk menatap kaget Alex.
Dengan pelan Alex menghampiri Devan yang kini ketakutan melihat Alex membawa tongkat bisbol.
Bugh bugh bugh
Dengan membabi buta Alex memukul Devan dengan tongkat bisbol yang dibawanya. Devan hanya meringkuk melindungi kepalanya dari pukulan.
Kesal melihat Devan melindungi kepalanya. Alex menarik tangan Devan lepas dari kepalanya.
Pagh pagh
2 pukulan pada kepala Devan membuat Alex menghentikan hukumannya.
"Kenapa kamu tidak mati saja sialan" ucap Alex sambil menarik kasar rambut Devan lalu membenturkan kepala Devan ke tembok beberapa kali hingga darah mengalir dari sela rambut Devan yang kini telah tak sadarkan diri.
Lalu Alex meninggalkan Devan begitu saja lalu menutup pintu kamar Devan.
---
"Ngapain sih Lo ngajak gua kesini" kesal Revan karena Zeland tiba tiba menariknya.
"Mau ngenalin Lo sama temen temen gua. Biar mereka tau kalo gua punya adik" bangga Zeland.
"Baru sekarang Lo anggep gua adek?, Pas gua disiksa Daddy Lo dimana?" Sarkas Revan.
"Dulu gua nggak ngerti, udah ah ayo masuk" ucap Zeland. Lalu mereka memasuki markas Zeland dan teman teman.
Didalam sana ke 3 teman Zeland tengah bercanda ria. Mereka langsung diam ketika Zeland dan Revan masuk.
"Siapa tuh di belakang Lo" ucap zildan penasaran karena tak pernah melihat pemuda yang dibawa Zeland.
"Kenalin ini adek gua Revan, mulai sekarang dia bagian kita" singkat Zeland sambil duduk disebelah diego.
"Adek? Sejak kapan lo punya adek, perasaan pas kita main ke mansion Lo, gua nggak pernah ngeliat tu anak" timpal Darren.
"Bentar, Lo kayak mirip sama budak Revan ya?" ucap Diego sambil meneliti paras Revan.
"Budak?" Gumam Revan.
Dengan cepat Zeland menarik Revan menuju dapur. Saat sampai di dapur Revan menyentak tangan Zeland.
"Maksud mereka tentang budak itu apa ha!! jangan jangan Lo perlakuin Devan kayak budak kalian" tuduh Revan dengan marah.
Zeland tersenyum pongah "memang iya, kenapa? Lo mau marah lagian kata Daddy gua bebas ngelakuin apa sama tu anak" ucap Zeland.
"Gua nggak nyangka kalian tega perlakuin Devan kayak gini" ucap Revan kecewa.
"Nggak usah sok kasian sama Devan kalo Lo sendiri juga ninggalin dia karena ke egoisan Lo" ucap Zeland membuat Revan terdiam.
Melihat Revan yang terdiam, Zeland mendekatkan tubuhnya pada Revan dan menepuk pundak Revan.
"Lo tenang aja, dia nggak bakal mati kok, Karna Daddy nggak akan biarin dia mati dengan mudah" bisik Zeland lalu menjauhi Revan.
"Alasan gua bawa Lo kesini, supaya Lo bebas dari amarah Daddy" ucap Zeland tanpa menoleh ke Revan. Lalu pergi menghampiri teman temannya.
Revan tak menyangka jika ego nya membuat adik kembarnya menderita sendirian.
---
Pagi harinya Revan dengan tergesa gesa menuruni tangga dan menuju kamar Devan. Iya langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu dan ternyata Devan tak ada disana.
Segera dia menuju dapur berharap adik kembarnya itu berada disana. Tapi nihil,hanya bi Inah dan maid lainnya yang dia temui.
"Bibi tau Devan dimana?" Tanya Revan.
"Devan ada di halaman belakang tuan muda, dia sedang menyapu halaman dan menyiram tanaman" jawab bi Inah.
Revan langsung menuju halaman belakang, dan akhirnya dia menemukan Devan yang tengah memegang sapu lidi. Tapi ada yang aneh dengan tubuhnya. Karena penasaran Revan menghampiri Devan.
"Lo kenapa Dev" ucap Revan sambil menepuk Pelan pundak Devan.
Devan yang awalnya menahan pusing kaget karena tepukan Revan.
"Em gapapa tuan muda" jawab Devan sambil melanjutkan acara menyapu nya.
"Gapapa gimana muka Lo pucet gini" khawatir Revan lalu menangkup wajah Devan agar bisa memastikan keadaan Devan.
Karena gerakan cepat Revan, Devan yang tengah menahan pusing kini merasakan kepalanya tambah berdenyut, beberapa kali Devan mengerjapkan mata untuk menghilangkan pusing tapi pandangannya mulai memburam dan dia tidak bisa mendengar ucapan khawatir Revan.
"Dev Lo bisa denger gua kan" ucap Revan
Akhirnya Devan limbung tak sadarkan diri. Dengan cepat Revan menahan tubuh Devan sebelum menyentuh tanah.
Karena panik Revan menepuk kasar pipi Devan hingga memerah berharap sang adik sadar. Tapi nihil, dengan cepat Revan mengendong Devan menuju mobilnya.
Tapi langkah Revan terhenti mendengar suara Alex.
"Selangkah lagi kamu bawa dia keluar, jangan harap kamu bisa melihat dia hidup" ancam Alex membuat Revan mematung.
KAMU SEDANG MEMBACA
invisible
General FictionDevan yang harus berpisah dengan kembarannya dan bertahan ditengah keluarga yang tak mengharapkan kehadirannya Published : 17 Oktober 2023 Tamat : 27 September 2024 Revisi : 13 september 2025
