Bi Inah dengan tergesa gesa menuju kamar Devan yang terbuka lebar.
"Dev bangun nak" sambil menepuk Pelan pipi Devan.
Perlahan mata itu terbuka pelan membuat bi Inah tersenyum lega.
"Bi tolongh hah hah" sambil menunjuk kardus kecil.
Dengan cepat bi Inah mencari sesuatu di kardus itu dan menemukan inhaler yang dimaksud Devan.
Bi Inah langsung mengocok inhalernya dan mengarahkan ke mulut Devan. Hingga beberapa saat nafas nya tadi memburu kini kembali normal.
"Masih bisa ganti baju Dev? Klo nggak bisa biar bibi panggilin pak Ardi biar bantuin kamu".
"Nggk usah bi, Devan bisa kok" Devan tersenyum.
"Yaudah kalo gitu bibi keluar dulu ambil lap buat bersih in darahmu".
"Nggak usah bi, biar Devan aja yang bersihin, bibi keluar aja nanti tuan marah liat bibi di kamar Devan".
"Baiklah, habis bersihin jangan lupa istirahat ya Dev. Nggak ada luka lain kan?".
"Nggak ada kok bi, cuma tadi sesek aja hehe" Devan sengaja berbohong karena dia tidak ingin menyusahkan bi Inah.
Lalu bi Inah keluar dan menutup pintu. Devan menghelas Nafas dan meringis merasakan perih dipunggung nya.
"Klo tiap hari di hukum gini, bisa bisa aku mati muda" gumam Devan sambil membersihkan darahnya.
Merasa sudah bersih Devan pun mengambil pakaian lalu pergi ke kamar mandi yang berada disamping kamarnya.
---
Gio menuruni tangga sambil memegang tasnya, saat sampai dilantai bawah dia melihat melirik daerah dapur seolah mencari sesuatu.
"Ngapain liatin dapur kek gitu kak, udah kelaperan ya hahaha" canda Zeland pada kakaknya.
"Tumben tu anak nggak keliatan di dapur biasanya rusuh banget" jawab Gio.
Dari semua keluarga Arbian hanya Gio yang diam diam peduli dengan Devan. Meskipun hanya sekedar mengawasi Devan tapi dia salah satu orang selain bi Inah yang khawatir pada Devan saat Alex menghukumnya.
"Oh Lo lagi nyari in tu anak, paling dia kamarnya tadi malem habis dihukum sama Daddy" Gio langsung menatap Zeland seolah menanyakan alasan Devan dihukum oleh daddynya.
"Dia pulang tengah malem. Kebetulan Daddy baru keluar dari ruang kerjanya" Zeland menjelaskan lalu menarik tangan Gio menuju meja makan untuk sarapan.
Sepertinya keluarga Arbian punya kebiasaan tarik menarik ya hahaha
---
Ceklek
Bi Inah masuk kamar Devan dengan membawa nampan berisi sarapan dan segelas air putih.
"Loh Dev bibi kan suruh kamu istirahat kok pake seragam".
"Hehe Devan baru ingat klo hari ini ada pembekalan buat ujian minggu depan bi. Sayang kalo Devan harus izin".
"Kamu ini sekali aja dengerin bibi nggak bisa ya. Ada aja alesannya. Kalo kamu mau sekolah kamu harus habisin sarapannya".
"Iya bi siap".
Bi Inah pun pergi keluar kamar Devan. Dirasa semua sudah siap Devan pun duduk sembari memakan sarapannya.
---
Terakhir Alex menghukum Devan tengah malam itu. Sejak itulah Devan berusaha untuk tidak berbuat kesalahan dan terus menghindar dari Alex dan anak anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
invisible
Narrativa generaleDevan yang harus berpisah dengan kembarannya dan bertahan ditengah keluarga yang tak mengharapkan kehadirannya Published : 17 Oktober 2023 Tamat : 27 September 2024 Revisi : 13 september 2025
