Bab 36

337 45 2
                                        


Tiana merasakan mual yang sangat. Bukan karena perjalanan panjang dari Buitenzorg ke Semarang, tetapi rumah megah nan asri di depannya sanggup membuatnya perutnya bergejolak. Rasa-rasanya ia ingin kembali ke stasiun, mengejar kereta ke Buitenzorg.

Ini memang bukan kali pertama Tiana bertemu orang tua Jasper, sebelumnya mereka bertemu saat kedua bangsawan Netherlands itu berterima kasih secara langsung, karena dia telah menyelamatkan nyawa putra semata wayang mereka.

Namun, kali ini sungguh berbeda, dia datang sebagai pribumi kekasih anak mereka, calon menantu bagi keluarga Belanda yang merupakan tuan tanah terkenal di Semarang. Bahkan bagi orang-orang Netherlands di Hindia Belanda, keluarga van Dijk adalah keluarga kaya raya yang disegani. Banyak gadis Belanda yang ingin menjadi menantu keluarga yang terkenal dermawan ini.

Meski ditemani oleh mama Liesbeth dan papa Hans yang sudah menganggapnya sebagai putri sendiri, tetap saja statusnya sebagai gadis pribumi membuat Tiana sedikit ciut. Gaun yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari, terasa lusuh dan tak pantas dikenakan untuk bertandang ke rumah calon mertuanya.

Seakan mengerti kegundahan sang kekasih, Jasper menautkan jari mereka dan menggenggamnya erat, dapat dirasanya bulir-bulir keringat dingin dari tangan Tiana.

"Tenang saja, orang tuaku tidak akan memakanmu hidup-hidup." guram Jasper setengah bergurau untuk mengusir kekalutan kekasihnya. "Papa dan mama juga tidak pernah mengusir tamu. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Tiana." lanjutnya pelan.

Tiana memandang wajah Jasper yang mulai berbintik merah terkena panas Semarang dan tanpa banyak kata ia hanya mengangguk sekilas.

"Mari masuk, papa Hans, mama Liesbeth. Papa dan mama pasti sudah menunggu di dalam."

Nyonya Maria sedang duduk menyeduh teh bersama suaminya di halaman rumah mereka, ketika seorang pelayan datang mengabari kedatangan tuan muda Jasper yang membawa tamu. Mengikuti suaminya, Maria bangkit dan berjalan ke pintu depan. Ia melihat putranya, Jasper, bersama 2 orang Netherlands, dan seorang wanita muda bergaun cantik, tetapi wajahnya tidak terlihat karena topi rendanya.

1 bulan tak bertemu, Jasper merasa rindu juga begitu melihat orang tuanya. Ia maju memeluk mama dan papanya, lalu mengenalkan tamu-tamu mereka secara resmi.

"Papa, mama, ini dokter Hans dan istrinya, dokter Liesbeth, mulai hari ini mereka akan tinggal bersama kita."

"Selamat siang, tuan Hans. Jasper banyak bercerita tentang anda dan istri. Senang sekali akhirnya saya bisa bertemu dengan dokter hebat seperti tuan dan nyonya." Papa Jasper tersenyum ramah saat menyalami dokter Hans.

"Selamat siang, tuan Antonie. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan pengusaha hebat yang namanya harum sampai ke Batavia."

"Ah, tuan Hans terlalu berlebihan. Saya seorang pengusaha biasa. Hanya berbisnis untuk mencukupi istri dan anak. Di hadapan tuan dan nyonya, dokter hebat yang telah menyelamatkan banyak nyawa. Tentu saya tidak pantas berbangga diri, bukan?"

"Tuan banyak menolong orang dengan memberi harapan hidup yang lebih baik, terutama untuk para inlander. Itu pencapaian yang sangat jarang didapat pengusaha Netherlands di tanah ini."

"Papa, biarkan tamu kita masuk dulu. Berbincangnya di dalam saja. Kasihan mereka kepanasan." sela mama Maria.

"Hahaha..., saya lupa. Mari tuan Hans, nyonya Liesbeth, dan eh, Juffrouw*..."

"Ini Tiana, calon menantu papa, apa papa lupa?"

Tiana kontan merona mendengarnya, sementara Mama Maria berjengit mendengar kata "calon menantu" dari Jasper.

"Selamat siang tuan, nyonya. Saya TIana dari Buitenzorg."

"Ya, ya. Nona Tiana, bagaimana mungkin saya lupa, mari masuk dulu, matahari sudah mulai terik." ajak papa Antonie.

Orang tua Jasper langsung mengajak tamu ke ruang makan untuk menikmati sedikit kudapan. Tuan Antonie Antonie duduk di kursi utama, disusul nyonya Maria, Jasper, Tiana, dokter Liesbeth, dan dokter Hans. Mereka mengelilingi meja makan yang bundar. Dari sini semua orang dapat melihat yang lainnya dengan jelas.

Papa Antonie dan dokter Hans sangat antusias membahas Rumah sakit dan sekolah kedokteran yang akan mereka rintis, jiwa bisnis papa bangkit mendengar paparan yang dokter Hans utarakan. Belum lagi kesanggupan dokter Hans untuk membuka klinik di dekat pabrik sebelum rumah sakit resmi berdiri. Sesekali dokter Liesbeth dan Jasper akan menimpali percakapan mereka. Sementara, Tiana dan mama Maria lebih banyak mendengarkan.

Mama Maria memperhatikan gadis yang sedari tadi duduk diam di samping putranya. Penampilannya jelas berbeda dari beberapa bulan lalu saat pertama kali mereka bertemu. Tidak akan ada yang mengira bahwa gadis ini hanya buruh pemetik teh di Buitenzorg, penampilannya seperti wanita kelas atas.

Namun, tetap saja pakaian tidak akan menolong banyak, gerak-gerik dan sikapnya tetap mencerminkan perilaku inlanders. Berbeda dengan mama Maria dan dokter Liesbeth yang duduk tegak dan serbet sudah siap di pangkuan mereka, Tiana masih sibuk mendengarkan perbincangan para lelaki.

Saat pelayan datang membawa teh dan menuangkannya ke gelas, Tiana belum juga tergerak, ingin rasanya mama Maria menegur. Jasper mengambil serbet, kemudian menaruhnya ke pangkuan Tiana. Kedua sejoli itu lalu tersenyum saat pandangan mereka bertemu. Mama Maria menahan dengus dari bibirnya.

Mama Maria menaruh sedikit gula kedalam cangkir tehnya dan mengaduk pelan, matanya tidak lepas mengamati apa yang dilakukan oleh Tiana. Gadis itu juga menaruh gula kemudian mengaduknya.

Mata nyonya Maria memicing melihat cara wanita Buitenzorg itu mengaduk teh, seperti babu yang menggiling padi. Astaga, apa tidak ada yang pernah mengajari gadis ini caranya bersikap saat jamuan seperti ini? Lihatlah dia, mengaduk teh seperti mengaduk cucian kotor, bunyi sendok yang beradu dengan cangkir keramik begitu memekakkan telinganya.

Sekilas Tiana tampak berjengit, ia menoleh kepada dokter Liesbeth, kemudian mengikuti cara sang dokter yang elegan menggerakan sendok dengan pelan ke depan dan belakang.

Mama Maria terlihat tenang dari luar, tetapi dalam hatinya ia sudah menjerit-jerit dan merasa gila melihat gadis kampungan yang dibawa putranya ini. Apa wanita ini yang akan menjadi menantunya? Ah, betapa memalukan jika ia harus membawanya ke pesta atau perjamuan para mevrouw nanti.

"Silahkan dicicipi tehnya tuan dan nyonya, ini teh terbaik dari pabrik kami. Mungkin tuan dan nyonya juga akan menyukainya." ucap tuan Antonie.

Bersamaan dengan itu, para pelayan menyajikan penganan-penganan yang terlihat menggiurkan. Mama Maria tidak lepas menyoroti setiap gerak-gerik Tiana. Dan gadis itu tergolong pintar, ia mengikuti setiap gerakan dokter Liesbeth sebelum melakukan sesuatu.

Sisa perjamuan mereka berjalan lancar. Tuan Antonie menyukai teman barunya, tuan Hans. Mama Maria juga menyukai pasangan dokter yang ramah dan rendah hati ini. Tidak ada kepalsuan dalam senyum dan kata-kata mereka, percayalah mama Maria sudah kenyang menghadapi orang-orang yang memakai topeng di depannya.

Mudah saja bagi ia untuk membedakan mana yang tulus dan yang berpura-pura. Dan gadis di depannya masih terlalu polos dan naif jika berpikir bisa mengelabui mama Maria.

*Juffrouw: panggilan untuk wanita muda Netherlands yang belum menikah, seperti nona atau neng.

Jasper & TianaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang