Aseano Samudra, entah apa yang orang tuanya pikiran kala memberi nama seorang anak dengan kata itu. Agar hati dan pikirkanya seluas samudera? atau agar orang orang mencintainya seperti orang orang mencintai keindahan lautan lepas?
Biasanya nama adal...
maaf ges, tadi matlis dan listrik ditempatku baru nyala, kartuku (Indosat) kaga ada sinyal fakmen
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
# # # # #
Tok tok tok, "masuk" Intan tersenyum tipis melihat dua remaja yang ada di kamar putranya sedang fokus dengan laptopnya masing masing.
"Nanti lagi, ayo makan malam dulu nak" Sean dan Edgar yang mendengar suara lembut Intan dengan cepat menatap kearah wanita yang menjadi ibu Edgar itu.
Edgar kembali menatap laptopnya, "Bentar ma, lima menit lagi" tangannya dengan lihai menari diatas keyboard entah mengetikan hal apa.
Berbeda dengan Edgar, Sean langsung menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya, "Sean mau turun dulu?" tanyanya kala melihat Sean mendekat kearahnya.
"Sean sih mau ke kamar mandi dulu tante" Intan hanya mengangguk mengiyakan.
"Yaudah tante turun dulu, nanti turun bareng Edgar ya, kalau gamau tutup paksa aja laptopnya" Edgar hanya melirik sekilas mendengar Intan dan Edgar yang terkekeh pelan.
Sean memasuki kamar mandi yang ada di kamar itu untuk buang air kecil. Dirasa sudah menyelesaikan hajatnya, Sean beranjak keluar dari sana dan melihat Edgar yang masih fokus dengan laptopnya.
"Ayo turun Ed"
"Bentar An, nanggung!" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan.
"Laperrr~"
"Ck, turun dulu nanti gue nyusul" Sean berdecih mendengarnya, "mana bisa, ga enak gue"
Edgar menghela nafas, "Sini deh" Edgar menunjukkan sesuatu di laptopnya, "Wow!" Sean berdecak kagum, dia segera mengambil laptopnya dan ikut melakukan pekerjaan yang author sendiri tidak tau apa.
"Ini kek mana?" Edgar mengetikkan jarinya dk keyboard sambil memberi tau apa yang harus Sean lakukan.
"Yang ini naik banget?"
"Yaudah lanjutin"
Mereka terlalu fokus dengan apa yang baru saja mereka lakukan sampai melupakan rencana makan malam mereka tadi.
Intan sudah selesai menyiapkan makanan bersama maid yang bekerja di kediaman itu, "Mana sih kok belum turun" guman Intan menatap tangga berharap akan ada yang turun dari sana.
"Anak anak?" Intan mengangguk menjawab pertanyaan Sergio yang baru saja datang dan mendudukan dirinya di kursi yang biasa pria itu duduki.
"Udah kamu panggil?" tanya Sergio lagi, dan Intan mengangguk mengiyakan, "Tadi udah aku panggil katanya lima menit lagi, tapi sampai sekarang belum juga turun"
Sergio menghela nafas, dia sudah hafal tabiat putranya jika akan mengabaikan semua hal jika berkaitan dengan pekerjaan, "Tunggu, biar aku panggil ulang"