Aseano Samudra, entah apa yang orang tuanya pikiran kala memberi nama seorang anak dengan kata itu. Agar hati dan pikirkanya seluas samudera? atau agar orang orang mencintainya seperti orang orang mencintai keindahan lautan lepas?
Biasanya nama adal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
# # # # #
Baru 3 hari yang lalu Sean melihat wajah wajah ini, kini ia dikagetkan dengan kehadiran mereka di depan pintu apartemennya.
Sean tengah mengerjakan pekerjaan yang Edgar berikan padanya di karpet ruang tengah apartemennya, tiba tiba saja bel berbunyi tanda ada tamu di depan sana.
Awalnya Sean berpikir, siapa yang datang malam malam begini? Jika itu Edgar biasanya dia langsung masuk, jika Bintang dan yang lain, mereka pasti tidak akan mau repot repot memencet bel dan memilih untuk menelfon Sean.
Lalu siapa? dengan penuh tanya, Sean berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan. Ekspresi kaget tidak bisa Sean tutupi begitu pintu terbuka menampilkan Bagas dan ketiga anak laki-lakinya yang lain.
Berbeda dengan Sean yang menampilkan raut kaget dan bingung, mereka malah menatap Sean dengan senyuman lebar.
"Sea" Sean segera tersadar setelah mendengar panggilan Bagas.
"Kalian? kenapa kesini?" ucapnya dengan raut penuh tanya.
"Em, masuk dulu?" tawar Sean karena merasa tidak enak berbicara di depan pintu. Lagian menurutnya mengapa juga mereka berempat jauh jauh dari kota sebelah kesini?
"Terimakasih" ucap Sky dengan tatapan binar, sungguh dirinya sangat senang melihat wajah Sean lagi, padahal baru 3 hari yang lalu, tetapi rasanya seperti 5 abad.
Sean memberi respon dengan menganggukan kepalanya, lalu berjalan lebih dulu untuk mempersilahkan mereka masuk kedalam.
Sesampainya di ruang yang tadi dia tempati, Sean segera membereskan laptop dan kertas kertas yang nampak berserakan di karpet.
"Duduklah dulu" ujar Sean sambil memungut kertas kertas itu dan menumpuknya menjadi satu.
Tangan Raka terulur untuk membantu Sean mengumpulkan kertas kertas itu, "Ini apa?" tanyanya penasaran.
Sean menarik kertas itu dari tangan Raka dan menumpuknya bersama kertas yang lain, "Kerjaan, tunggu sebentar ya gue ambilin minum" Setelah merapikan kertas kertas itu, dia segera berdiri untuk melakukan apa yang dia bilang sebelumnya.
"Ikut" tanpa menunggu persetujuan sang empu, Raka segera mengikuti langkah kaki Sean.
Mereka bertiga hanya bisa menatap punggung Raka dan Sean dengan tatapan berbeda. "wow" kagum Bagas saat melihat kertas yang kebetulan kelewatan karena tadi tertutup badan Bagas, jadi dia belum menumpuknya menjadi satu.
Sky dan Zyan yang penasaran segera mendekat untuk melihat apa yang ayah mereka lihat. Raut mereka tak beda jauh dengan Bagas saat melihatnya.
Zyan melihat sekeliling, apartement ini benar-benar terlihat mewah dan mahal. "Sea dari dulu tinggal disini?" tanyanya penasaran.
Bagas menggeleng, "Setau ayah dia baru disini setengah tahun yang lalu. Sebelumnya dia ngekos" jawabnya membuat kedua anaknya mengangguk mengerti.
"Pasti biaya sewanya sangat mahal, apalagi waktu itu Sea kekeh mau balikin uang yang bang Raka kasih" Bagas dan Sky menoleh, mereka belum tau jelas tentang hal ini.