Aseano Samudra, entah apa yang orang tuanya pikiran kala memberi nama seorang anak dengan kata itu. Agar hati dan pikirkanya seluas samudera? atau agar orang orang mencintainya seperti orang orang mencintai keindahan lautan lepas?
Biasanya nama adal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
# # # # #
Aku, Bagaskara Akasa sosok egois yang hanya mementingkan perasaanku sendiri mengabaikan apa yang anak anakku rasakan.
Aku memiliki 4 putra, seharusnya. Tapi aku tidak tau apakah putra bungsu ku mau menyebutku sebagai ayahnya?
Kejadian 19 tahun yang lalu begitu merubah banyak hal dariku, merubah diriku, sudut pandangku, maupun gaya hidupku.
Di hari itu seharusnya adalah hari bahagia yang sudah aku nantikan hampir 9 bulan lamanya. Terus terang saja aku tidak terlalu peduli dengan jenis kelamin anakku, aku menerima mereka apapun jenis kelamin bahkan kekurangan dan kelebihan mereka.
Namun tidak ada yang menyangka, hari bahagia itu juga menjadikan trauma tersendiri dalam hidupku. Istriku meninggal karena melahirkan putra bungsuku. Siapa yang mengira hal menyediakan seperti ini akan terjadi di hari yang sudah diharapkan menjadi hari bahagia?
Aku begitu terpuruk akan kematian istriku hingga melupakan anak anakku yang telah kehilangan sosok ibu, bahkan dengan bodohnya aku juga membuat mereka kekurangan kasih sayang seorang ayah.
Aku sama sekali tidak pernah menyalahkan kehadiran anak bungsuku sebagai penyebab kematian istriku, aku tau ini semua takdir. Ini kesalahanku aku sadar, tidak seperti 3 putraku yang lain, putra bungsuku sama sekali belum pernah berinteraksi denganku.
Aku hanya memberinya uang, tempat tinggal dan selalu menanyakan kabarnya pada anak anakku yang lain. Aku membiarkan anak yang tidak tau apa apa itu tinggal bersama 3 saudaranya yang lain.
Ini salahku, tidak pernah aku pikirkan jika dia mendapatkan perlakuan tidak baik dari saudaranya yang lain, aku juga tidak bisa menyalahkan mereka karena telah salah dalam mengartikan aku menjauhi Sea, ya putra bungsuku bernama Sea.
Bagus bukan? itu nama yang sudah aku dan istriku pikirkan jauh sebelum Sea lahir.
Ketiga putraku salah mengartikan sikapku selama ini, aku selalu memantau kehidupan sehari hari Sea sampai dia berusia 6 tahun. Kenapa 6 tahun? semakin Sea beranjak besar, wajahnya begitu mirip dengan mendiang Arunika, istriku.
Yang mana hal itu semakin membuatku terpuruk akan kepergiannya, sosok matahari yang menyinari hidupku. Aku tidak lepas tanggung jawab dari anak anakku, aku tetap membiayai mereka aku tidak tau apa lagi yang harus aku lakukan.
Aku dan Arunika sama, takdir yang begitu hebat menyatukan kita berdua. Yang mana nama kita memiliki makna yang sama, matahari. Saat aku kehilangan Arunika aku merasa setengah hidupku ikut hilang dibawanya.
17 tahun lamanya aku hidup menjauh dari mereka, hanya memberi mereka kabar dan beberapa kali pertemuan. Beberapa kali aku menanyakan pada diriku sendiri, apa anak anakku akan membenciku?